Dalam Islam, posisi ibu bukan sekadar anggota keluarga, tetapi poros utama kehidupan seorang anak. Hak ibu bahkan ditempatkan lebih tinggi dibanding ayah, pasangan, saudara, dan kerabat lainnya. Ini bukan karena Islam meremehkan peran pihak lain, melainkan karena pengorbanan ibu tidak pernah bisa ditandingi oleh siapa pun.
Banyak orang baru memahami hal ini ketika ibu telah renta, sakit, atau bahkan tiada. Padahal, Islam sejak awal telah menegaskan satu prinsip penting: ibu lebih berhak mendapatkan bakti, perhatian, dan kasih sayang dibanding anggota keluarga lainnya.
Salah satu hadits paling masyhur tentang keutamaan ibu diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Suatu hari, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW :
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata,
“Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?”
Beliau menjawab, “Ibumu.”
Orang itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?”
Beliau menjawab, “Ibumu.”
Orang itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?”
Beliau menjawab, “Ibumu.”
Orang itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?”
Beliau menjawab, “Ayahmu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sangat tegas dan tidak multitafsir. Tiga kali Rasulullah ﷺ menyebut ibu sebelum ayah, menunjukkan bahwa hak ibu dalam hal bakti dan perhatian berlipat dibanding anggota keluarga lainnya.
Mengapa Ibu Lebih Berhak?
1. Pengorbanan Fisik yang Tidak Dimiliki Orang Lain
Allah sendiri mengingatkan tentang beratnya perjuangan ibu:
“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.”
(QS. Luqman: 14)
Kehamilan, persalinan, dan menyusui adalah proses yang Menguras tenaga, mengancam nyawa dan keselamatan ibu hingga perjuangannya yang berlangsung dalam jangka panjang. Tidak ada anggota keluarga lain yang menanggung beban fisik seberat ini.
2. Ibu Hadir Sejak Anak Belum Bisa Membalas Apa Pun
Sejak bayi, anak belum mampu memberi apa pun selain tangisan. Namun ibu tetap terbangun di malam hari untuk memastikan anaknya dalam keadaan baik, menggendong saat lelah dan memastikan kebutuhan anak-anaknya terpenuhi.
Islam menghargai pengorbanan tanpa pamrih ini dengan meninggikan hak ibu di atas yang lain.
3. Kedekatan Emosional yang Allah Tanamkan
Allah menciptakan hubungan emosional yang sangat kuat antara ibu dan anak. Bahkan dalam kondisi marah atau kecewa, hati ibu sering kali tetap lembut kepada anaknya. Ia tetap memanjatkan doa baik dan menginginkan yang terbaik untuk anaknya.
Saudara, paman, bibi, atau kerabat memiliki hak silaturahmi. Namun tidak ada satu pun yang melebihi hak ibu. Seorang anak tidak dibenarkan mendahulukan saudara namun mengabaikan ibu, lebih patuh pada keluarga lain tetapi keras pada ibu, lebih lembut kepada orang luar daripada kepada ibu.
Bahkan ketika sudah berumah tangga pun, kewajiban untuk berbakti masih melekat. Sebisa mungkin bakti itu harus terus kita rawat. Sebab berbakti tidak berhenti hanya karena kita telah menemukan rumah baru untuk tumbuh dan hidup.
Selain itu, bakti kepada Ibu adalah Jalan Tercepat Menuju Surga. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Surga berada di bawah telapak kaki ibu.”
(HR. Ahmad dan An-Nasa’i, hasan)
Makna hadis ini bukan sekadar simbolis. Ia menunjukkan bahwa ridha ibu adalah pintu ridha Allah, doa ibu adalah senjata yang sangat kuat serta murka ibu bisa menghalangi keberkahan hidup.
Banyak ulama mengatakan bahwa seseorang yang dimudahkan hidupnya sering kali karena bakti kepada ibunya, meski ia merasa amalnya biasa saja.
Tidak sedikit orang yang baru menyadari besarnya hak ibu setelah waktunya habis. Padahal, kesempatan berbakti adalah nikmat yang tidak semua orang miliki.
Maka selama ibu masih hidup semoga kita tidak menunda perhatian dan bakti terbaik kita kepadanya. Karena dalam Islam, ibu lebih berhak dari siapa pun, dan ridha Allah sering kali tersembunyi di balik ridha seorang ibu.
Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang lembut hatinya, santun lisannya, dan selamat hidupnya karena bakti kepada ibu.
Aamiin.
Kreator : Kakang Agung Gumelar