Tidak Semua Orang Bisa Berkesempatan Berhaji, Tapi Semua Orang Diberikan Kesempatan Yang Sama Untuk Bisa Berbakti

Banyak orang memimpikan bisa berhaji ke Baitullah. Menabung bertahun-tahun, menunggu antrian panjang, menjaga kesehatan, dan mempersiapkan fisik serta mental. Namun, Islam mengajarkan bahwa kesempurnaan haji tidak hanya diukur dari sampainya kaki di Tanah Suci, melainkan juga dari keadaan hati dan akhlak pelakunya.

Salah satu akhlak yang sangat ditekankan dalam Islam, bahkan berkaitan erat dengan kesempurnaan ibadah adalah bakti kepada orang tua.

Syekh Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi mengatakan dalam kitab Fadhilah Haji menuliskan, ada sebuah hadits meriwayatkan “Seorang anak shalih yang memandang kedua orang tuanya dengan rasa cinta dan kasih sayang, maka pahalanya sama seperti haji yang makbul.” 

Hadis ini masyhur di tengah kaum muslimin. Sebagian ulama membahas kualitas sanadnya, namun maknanya sangat kuat dan sejalan dengan prinsip-prinsip besar Islam, yang ditegaskan oleh banyak ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis sahih lainnya tentang keutamaan berbakti kepada orang tua.

Dalam Islam, bakti kepada orang tua memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Allah menggandengkannya langsung dengan perintah tauhid:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.”
(QS. Al-Isra: 23)

Ini menunjukkan bahwa bakti kepada orang tua bukan amal biasa, melainkan amal besar yang dampaknya menjalar ke seluruh aspek kehidupan dan ibadah, termasuk haji.

Para ulama menjelaskan bahwa amal yang dilakukan dengan hati yang lembut, penuh kasih sayang, dan bebas dari kedurhakaan, lebih mudah diterima dan disempurnakan pahalanya oleh Allah.

Penjelasan tentang memandang orang tua dengan kasih sayang bisa mendapatkan pahala seperti berhaji mengajarkan satu hal penting:
Islam tidak selalu menilai amal dari berat-ringannya perbuatan. Bahkan hal yang nampak kecilpun bisa begitu berharga di mata Allah SWT.

Memandang orang tua dengan lembut berarti tidak meremehkan, tidak merasa terganggu, tidak memandang dengan kesal atau sombong, wajahnya berseri penuh kasih sayang.

Itu adalah cermin dari hati yang bersih dan jiwa yang tunduk. Hati seperti inilah yang layak mendapatkan pahala besar, bahkan diserupakan dengan pahala haji yang sempurna.

Seseorang boleh rajin shalat, giat umrah, dan bercita-cita berhaji, tetapi jika ia masih membentak orang tua, mengabaikan kebutuhan mereka, atau menyakiti perasaan mereka, maka ada yang perlu dibenahi dalam ibadahnya. Rasulullah SAW  bersabda:

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”
(HR. Tirmidzi, hasan)

Hadis ini menunjukkan bahwa ibadah sebesar apa pun bisa kehilangan keberkahannya jika ridha orang tua diabaikan.

Banyak orang mengejar kesempatan berhaji, tetapi lupa bahwa pintu surga terdekat sering kali berada di rumah, melalui orang tua yang masih hidup.

Bahkan dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa seorang sahabat yang ingin berjihad diperintahkan Rasulullah SAW  untuk kembali dan berbakti kepada orang tuanya. Ini menunjukkan bahwa bakti dalam kondisi tertentu bisa lebih utama daripada ibadah besar lainnya.

Tidak semua orang mampu berhaji secara finansial atau fisik. Namun, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berbakti.

Bakti bisa dilakukan dengan tutur kata yang lembut, mendengarkan keluh kesah mereka, memenuhi kebutuhan mereka semampunya, mendoakan mereka setiap selesai shalat, bahkan dengan memandang mereka dengan penuh kasih sayang pun sudah termasuk kedalam bakti kepada keduanya.

Jika Allah berkehendak, amal-amal inilah yang mengangkat derajat seseorang seperti pahala haji yang sempurna, meski ia belum sampai ke Baitullah.

Jika seseorang ingin hajinya bernilai sempurna lunakkan hatinya kepada orang tua, rendahkan suaranya di hadapan mereka, dan hadirkan kasih sayang dalam setiap interaksi.

Karena bisa jadi, Allah menuliskan pahala haji yang sempurna bukan karena jauhnya perjalanan, tetapi karena lembutnya hati seorang anak kepada orang tuanya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang dimudahkan berhaji ke Baitullah, dan sebelum itu, dimudahkan berbakti kepada orang tua sebagai jalan tercepat menuju ridha-Nya.

Aamiin.

Kreator : Kakang Agung Gumelar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *