Dalam perjalanan hidup, ada satu kenyataan yang sering datang terlambat kita sadari: orang tua tidak pernah benar-benar kita pahami selama mereka masih bersama kita.
Ketika mereka masih ada, perhatian kita kerap tertuju pada kekurangan mereka. Cara bicara yang menurut kita terlalu keras, nasihat yang terasa berulang, atau sikap yang tampak tidak sejalan dengan cara berpikir kita hari ini.
Kita lupa bahwa mereka menjalani peran sebagai orang tua tanpa buku panduan, tanpa jaminan akan selalu benar, namun dengan satu bekal yang tak pernah habis yakni cintanya yang luar biasa.
Tanpa disadari, kita menempatkan standar kesempurnaan pada mereka, padahal mereka sendiri tumbuh dalam keterbatasan, luka, dan tanggung jawab yang berat yang bahkan mungkin kita tidak pernah ketahui. Kita jarang bertanya bagaimana mereka bertahan, bagaimana mereka menekan lelah, dan bagaimana mereka mengalahkan diri sendiri demi memastikan anak-anaknya tidak kekurangan seperti yang pernah mereka rasakan.
Waktu berjalan tanpa menunggu kesiapan kita. Perlahan, orang tua menua, tenaga mereka berkurang, suara mereka tak lagi sekuat dulu. Hingga suatu hari, Allah memanggil mereka satu per satu.
Maka jika hari itu tiba, hal-hal yang dulu terasa mengganggu tiba-tiba menghilang dari ingatan. Kekurangannya seolah terbang menyisakan kesadaran bahwa apa yang telah mereka perjuangkan lebih dari cukup untuk membuat dunia kita begitu baik-baik saja.
Dari hal kecil seperti nasi hangat yang dulu sering kita lewatkan, tiba-tiba menjadi nasi yang begitu dirindukan. Kita kemudian menyadari bahwa nasi yang hangat adalah upaya ibu untuk menyatakan cintanya pada kita, agar kita bisa makan dengan lahap dan tetap sehat.
Pengorbanan mereka rasanya tergambar dengan jelas. Dalam ingatan, orang tua perlahan menjadi sempurna. Kita mulai melihat betapa kuatnya ayah yang dahulu kita anggap keras, dan betapa tulusnya ibu yang dulu kita nilai terlalu cemas. Semua kekurangan mereka luruh, tergantikan oleh kesadaran bahwa mereka telah melakukan yang terbaik dengan kemampuan yang mereka miliki.
Islam sejak awal telah mengajarkan agar anak melihat orang tuanya dengan kacamata bakti, bukan kacamata penilaian. Allah tidak mensyaratkan kesempurnaan orang tua untuk mewajibkan anak berbuat baik kepada mereka. Perintah bakti hadir apa adanya, bahkan ketika orang tua memiliki keterbatasan. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua tanpa syarat, sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya dan latihan hati untuk merendahkan diri.
Kesadaran ini seharusnya datang sebelum kehilangan. Selama orang tua masih hidup, masih ada ruang untuk memperbaiki sikap, melunakkan tutur kata, dan menghadirkan perhatian yang mungkin dulu tertunda. Memaafkan tidak perlu menunggu permintaan maaf, dan berbakti tidak perlu menunggu momen besar. Sering kali, bakti hadir dalam hal sederhana: mendengarkan dengan sabar, menjawab dengan lembut, dan meluangkan waktu meski sebentar.
Pada akhirnya, ketika orang tua telah kembali kepada Allah, yang tertinggal dari mereka dalam hati kita bukanlah kekurangan, melainkan cinta yang utuh dan pengorbanan yang terasa sempurna. Sayangnya, kesempurnaan itu sering baru terlihat setelah kesempatan berbakti tak lagi bisa diulang. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu melihat kesempurnaan orang tua sejak mereka masih ada, agar kelak kita tidak hanya mengenang dengan air mata, tetapi juga dengan ketenangan karena pernah berbakti sepenuh hati.
Kreator : Kakang Agung Gumelar