Tidak ada yang lebih gulita selain hari ketika ibu meninggal dunia.

Tidak ada malam yang benar-benar gelap seperti hari ketika ibu meninggal dunia. Dan untuk mengetahui hal ini, kita tidak harus selalu merasakannya langsung, namun begitu banyak cerita dari mereka yang telah merasakannya gelapnya ahri setelah tugas ibu di dunia berhenti. 

Matahari masih terbit, langit tetap biru, orang-orang berlalu lalang seperti biasa, tetapi dunia seakan kehilangan cahayanya. Segalanya berjalan, namun hati berhenti di satu titik yang sama, yaitu titik ketika kabar itu sampai, bahwa ibu telah pergi untuk selamanya.

Ibu bukan hanya seseorang yang melahirkan dan membesarkan kita. Ia adalah rumah pertama, tempat paling aman, dan doa paling setia yang pernah kita miliki. Sejak kita belum mampu menyebut nama sendiri, ibu telah menyebut nama kita dalam sujud-sujud panjangnya. Sejak kita belum mengenal arti lelah, ibu telah menanggungnya dalam diam. Maka ketika ibu tiada, yang hilang bukan hanya sosok, tetapi sebuah dunia yang selama ini menopang hidup kita tanpa banyak bicara.

Hari itu terasa gulita bukan karena air mata semata, melainkan karena kesadaran yang datang bersamaan dengan kehilangan. Kesadaran bahwa tidak akan ada lagi suara yang memanggil dengan penuh kasih, tidak ada lagi tangan yang menyentuh dahi dengan doa, dan tidak ada lagi tempat pulang yang menerima kita apa adanya. Segala hal kecil yang dulu terasa biasa, obrolan kecil, nasihat yang berulang, perhatian yang dulu terasa berlebihan, mendadak berubah menjadi kenangan paling berharga yang tak bisa diulang.

Dalam Islam, ibu menempati kedudukan yang begitu tinggi. Rasulullah SAW bahkan menyebutkan ibu hingga tiga kali sebelum ayah ketika ditanya siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik. Namun sering kali, keutamaan itu baru kita pahami sepenuhnya setelah ibu tiada. Selama ibu masih hidup, kita sibuk dengan urusan sendiri, menunda bakti, dan merasa masih punya banyak waktu. Padahal, waktu tidak pernah berjanji untuk menunggu.

Hari ketika ibu meninggal dunia adalah hari ketika penyesalan datang tanpa bisa diperbaiki. Penyesalan karena kurang sabar mendengar ceritanya, kurang lembut menjawab pesannya, atau terlalu sering menunda panggilan karena merasa sibuk. Kita ingin memeluknya sekali lagi, meminta maaf atas semua kekurangan kita, dan mengucapkan terima kasih atas cinta yang tak pernah meminta balasan. Namun semua itu hanya bisa disampaikan lewat doa yang lirih dan air mata yang jatuh tanpa suara.

Kegelapan itu tidak selalu hadir dalam bentuk kesedihan yang meledak-ledak. Kadang ia hadir dalam sunyi yang panjang. Ada saat kita ingin bertanya tapi tak tahu harus bertanya kepada siapa. Ada saat kita merasa lelah tapi tak ada lagi yang menenangkan dengan kalimat sederhananya. Ada saat kita merasa ingin pulang, tapi tempat itu kini tidak berpenghuni dan kita bingung kemana harus melangkahkan kaki.

Meski demikian, Islam tidak membiarkan anak-anak yang kehilangan ibu terperangkap dalam kegelapan tanpa arah. Allah membuka pintu bakti yang tak pernah tertutup oleh kematian. Doa anak yang saleh, sedekah atas nama ibu, dan amal jariyah yang diniatkan untuknya menjadi cara kita terus terhubung. Cinta tidak berakhir di liang lahat; ia berubah bentuk menjadi doa yang tak putus dan rindu yang dipelihara dengan kebaikan.

Hari ketika ibu meninggal dunia memang hari yang paling gulita, tetapi dari sanalah sering lahir kesadaran terdalam tentang makna hidup. Kita belajar bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dalam kata-kata indah, tetapi dalam pengorbanan yang sunyi. Kita belajar bahwa bakti bukan sekadar kewajiban, melainkan kesempatan yang sangat singkat. Dan kita belajar bahwa kehilangan ibu adalah pengingat paling kuat agar kita tidak menyia-nyiakan orang-orang yang Allah titipkan di sisa umur kita.

Bagi siapa pun yang ibunya masih hidup, tulisan ini bukan sekadar refleksi, melainkan peringatan yang lembut. Selagi ibu masih bisa dipeluk, peluklah lebih lama. Selagi suaranya masih bisa didengar, dengarkan dengan penuh perhatian. Jangan menunggu hari paling gulita untuk menyadari betapa terang cahaya yang selama ini bernama ibu.

Karena sungguh, tidak ada yang lebih gulita selain hari ketika ibu meninggal dunia—dan tidak ada penyesalan yang lebih dalam selain menyadari bahwa kita bisa berbuat lebih baik, tetapi memilih menundanya. Semoga Allah merahmati para ibu yang telah kembali kepada-Nya, dan melembutkan hati kita untuk berbakti sepenuh jiwa kepada ibu yang masih diberi usia.

Kreator : Kakang Agung Gumelar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *