Di balik gagahnya tanduk melingkar dan postur kokoh Domba Garut, tersimpan kekayaan budaya yang sering luput dari perhatian. Bagi sebagian orang, domba bisa jadi hanyalah ternak yang dinilai dari bobot, usia, dan harga jual.
Namun bagi masyarakat Sunda, khususnya di wilayah Garut dan sekitarnya, domba memiliki kedudukan yang lebih dari sekadar hewan peliharaan. Ia hidup berdampingan dengan bahasa, tradisi, dan cara pandang lokal yang diwariskan lintas generasi.
Salah satu wujud dari keistimewaan Domba Garut tampak jelas pada istilah-istilah khusus untuk menyebut usia Domba Garut, yang tidak sekadar menyatakan angka, tetapi juga menggambarkan fase pertumbuhan, kesiapan fisik, dan nilai sosial-ekonominya.
Domba Garut sendiri merupakan hasil persilangan yang panjang antara domba lokal dengan ras impor seperti Merino dan Kaapstad, yang kemudian beradaptasi dengan lingkungan alam dan budaya masyarakat Garut.
Proses adaptasi ini tidak hanya membentuk karakter fisik dombanya, tetapi juga membangun kosakata khusus di sekitarnya. Dari domba yang masih sangat muda hingga yang telah mencapai usia matang, setiap fase memiliki sebutan tersendiri yang dikenal luas di kalangan penghobi dan peternak. Menariknya, istilah usia ini sering kali digunakan lebih dominan dibanding penyebutan umur secara numerik, terutama dalam transaksi jual beli dan penilaian kualitas.
Berikut beberapa istilah mengenai usia yang umum digunakan untuk Domba Garut :
1. Pedet / Cacakan
Istilah pertama adalah pedet/cacakan. Dimana istilah ini digunakan untuk menggambarkan usia domba Garut yang baru lahir hingga usia 3 bulan.
Ciri-ciri domba ini adalah masih menyusu pada induk, belum bisa makan hijauan secara mandiri seperti dilepas di lapangan dengan bebas, melainkan harus disediakan.
Domba Garut dalam usia ini belum bisa dijual karena ukurannya yang masih kecil. Namun tak jarang juga digunakan untuk pembibitan meskipun itu hanya digunakan dalam kondisi tertentu.
2. Petet & Jolong
Untuk domba Garut jantan yang berusia 3-4 bulan dinamai dengan petet atau petetan. etetan Petetan ini sebutan untuk domba yang sudah bertanduk namun masih pendek kurang lebih 4 – 5 cm. Sedangkan untuk domba Garut yang berusia 3- 6 bulan, istilah yang digunakan untuk menamainya adalah jolong.
Pada usia ini, domba Garut sudah bisa makan hijauan. Domba juga masih dalam proses pertumbuhan dimana postur tubuhnya mulai terbentuk. Namun pada saat ini domba belum dewasa secara seksual
Domba pada usia ini sebenernya bisa digunakan sebagai bibit, juga cocok untuk penggemukan jangka menengah atau persiapan kontes pemula.
3. Galon / Ngora
Domba garut yang berusia 6-12 bulan disebut Galon atau Ngora. Untuk Domba Garut jantan terdapat istilah jajalon. Yaitu sebutan yang digunakan untuk anak domba jantan yang umurnya 6-7 bulan.
Di fase ini domba mulai masuk fase remaja sehingga mulai tumbuh bulu yang tebal dna tanduk juga mulai tumbuh. Pada masa ini domba Garut sudah bisa untuk dijadikan pembibitan dan mulai dilatih sebagai pejantan muda atau calon indukan.
4. Dewasa
Domba dengan usia 12–24 bulan disebut dengan dewasa atau siap kawin. Pada usia ini domba sudah bisa matang secara seksual sehingga siap untuk dibuahi dan membuahi.
Biasanya domba jantan lebih aktif dan domba betina sudah bisa dikawinkan. Pada usia inilah domba sudah bisa difungsikan untuk menghasilkan keturunan. Sehingga domba pada usia ini cocok untuk pembiakan atau digunakan dalam program breeding.
5. Pejantan / Indukan Produktif
Saat domba Garut memasuki usia 2 tahun lebih, istilah yang digunakan adalah pejantan atau indukan produktif.
Pada usia ini, domba dalam kondisi yang matang dan stabil. Postur tubuhnya besar dan staminanya juga kuat. Diusia ini domba sudah memiliki pengalaman kawin dan masih bisa mengalami kawin dan beranak lagi.
Biasanya domba Garut pada usia ini sudah menjadi pilihan utama dalam sistem breeding atau pembibitan.
Itulah beberapa istilah yang digunakan pada domba Garut berdasarkan pada usianya. Istilah-istilah ini sering digunakan dalam proses transaksi dan dunia peternakan pada umumnya yang berkaitan dengan domba garut.
Kreator : Kakang Agung Gumelar