Salah satu hal yang menarik dari Domba Garut adalah adanya istilah-istilah yang digunakan untuk mewakili berbagai keadaan. Hal tersebut tidak terlepas dari budaya dan adat kebiasaan masyarakat, yang kemudian melekat pada Domba Garut.
Istilah punglak menjadi salah satu istilah yang harus dikenali oleh peternak. Sebab fase ini memiliki arti dan kondisinya tersendiri.
Kata punglak dalam bahasa sunda bisa diartikan sebagai copot gigi. Dimana fase ini merupakan fase penting yang terjadi pada domba Garut. Sebab berkaitan dengan usia yang bisa menentukan nilai, fungsi dan perlakuan terhadap domba.
Copot gigi pada domba merujuk pada fase pergantian gigi seri susu menjadi gigi permanen. Domba, seperti halnya ruminansia lain, tidak memiliki gigi seri di rahang atas, melainkan bantalan keras. Penilaian usia dilakukan dengan mengamati gigi seri di rahang bawah.
Pada fase copot gigi, gigi seri susu yang kecil dan rapuh mulai tanggal dan digantikan oleh gigi permanen yang lebih besar, lebar, dan kuat. Proses ini terjadi secara bertahap dan menjadi penanda bahwa domba telah memasuki usia remaja menuju dewasa.
Dalam praktik peternakan, copot gigi sering dijadikan acuan untuk menentukan apakah domba sudah layak dijadikan pejantan, indukan, atau dipersiapkan untuk tujuan tertentu seperti adu ketangkasan pada Domba Garut.
Secara umum, copot gigi pertama pada domba terjadi pada usia sekitar 12–15 bulan, tergantung pada faktor genetik, pakan, dan manajemen pemeliharaan. Pada Domba Garut, yang dikenal memiliki pertumbuhan relatif cepat jika dirawat dengan baik, proses copot gigi bisa terjadi lebih awal atau lebih rapi dibanding domba lokal lainnya.
Ada beberapa tanda fisik yang dapat diamati untuk mengenali domba yang sedang atau telah mengalami copot gigi. Salah satu tanda paling jelas adalah perubahan bentuk gigi seri bawah. Gigi susu terlihat kecil, tipis, dan berwarna lebih putih, sementara gigi permanen tampak lebih besar, lebar, dan agak kekuningan.
Selain itu, domba yang copot gigi sering menunjukkan perubahan pada pola makan. Pada masa awal pergantian gigi, sebagian domba terlihat sedikit lebih lambat makan atau memilih pakan yang lebih lunak karena gusi masih sensitif. Namun, setelah gigi permanen tumbuh sempurna, kemampuan mengunyah justru meningkat dan nafsu makan kembali normal bahkan lebih baik.
Mengetahui status copot gigi pada domba sangat penting dalam pengambilan keputusan peternakan. Domba yang belum copot gigi umumnya belum direkomendasikan untuk dijadikan pejantan atau indukan karena organ reproduksinya belum matang sempurna. Sebaliknya, domba yang telah copot gigi dianggap memasuki fase siap latih dan siap seleksi.
Beberapa faktor mempengaruhi kapan domba mengalami copot gigi, antara lain genetik, kualitas pakan, kesehatan, dan manajemen pemeliharaan. Domba Garut dengan gen unggul dan pakan berkualitas tinggi cenderung mengalami pergantian gigi yang lebih seragam dan sehat.
Sebaliknya, kekurangan mineral seperti kalsium dan fosfor dapat menghambat pertumbuhan gigi dan menyebabkan copot gigi tidak sempurna. Oleh karena itu, pemberian pakan hijauan berkualitas, konsentrat, serta mineral tambahan sangat dianjurkan.
Copot gigi pada domba bukan sekadar istilah teknis, melainkan penanda fase penting dalam siklus hidup ternak, termasuk pada Domba Garut. Melalui pengamatan gigi, peternak dapat memahami usia, kesiapan fisik, dan karakter domba secara lebih akurat. Dengan pemahaman yang baik tentang copot gigi, peternak tidak hanya mampu meningkatkan kualitas pemeliharaan, tetapi juga menjaga nilai ekonomi dan potensi domba secara keseluruhan.
Kreator : Kakang Agung Gumelar