Sebagai seorang muslim, doa adalah puncak dari setiap pengharapan. Kita meyakini bahwa doa adalah senjata orang beriman, penghubung langsung antara hamba dan Rabb-nya.
Maka ketika seseorang telah berdoa dengan sungguh-sungguh, bahkan hingga di tempat-tempat yang dikenal mustajab seperti Masjidil Haram, Multazam, atau Raudhah, namun hajat yang diminta belum juga terwujud, muncul kegelisahan yang sangat manusiawi: mengapa doa itu belum terkabul?
Hal pertama untuk menjawab pertanyaan tersebut, hal utama yang harus kita yakini adalah bahwa semua doa akan didengar oleh Allah SWT yang Maha Mendengar. Mendengarnya Allah tentu tidak sama dengan manusia. Allah mendengar segala keinginan kita baik yang diucapkan dengan terang-terangan, maupun dengan lirih dan malu-malu, hingga doa yang ada pada hati terdalam.
Bahkan Allah SWT bukan hanya mendengar doa kita melainkan Allah akan mengabulkan doa hamba yang meminta kepada-Nya. Hal tersebut tertuang dalam Alquran :
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (Qs. Al-Baqarah : 186)
Allah selalu memiliki banyak cara untuk mengabulkan doa kita. Setidaknya ada 3 cara pengabulan doa yang dijelaskan dalam sebuah hadits :
Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah dengan satu doa, melainkan pasti Allah memberikannya kepadanya, atau Allah menghindarkannya dari kejelekan yang sebanding dengan doanya, selama ia tidak mendoakan dosa atau memutuskan silaturahim.” Lalu seseorang berkata, “Kalau begitu, kita akan memperbanyak doa.” Beliau bersabda, “Allah lebih banyak memberi (dari apa yang kalian minta).” (HR. Tirmidzi)
Maka meski kita telah berdoa saat umroh, ditempat-tempat yang mustajab, di waktu-waktu yang mustajab dengan berbagai keutamaan dan keistimewaannya, doa akan selalu dijawab sesuai kehendak Allah SWT. Sebab Allah-lah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi kita.
Maka itulah mengapa kita harus meminta juga kelapangan hati dan keikhlasan kepada Allah untuk menerima dan menjalankan takdir terbaik dari Allah SWT. Sebab bisa jadi takdir yang Allah beri berbeda dengan apa yang kita minta.
Selain itu, kita juga harus terus berbaik sangka kepada Allah. Terus yakin dan percaya bahwa apa yang kita hadapi didepan adalah bagian-bagian dari terkabulnya doa.
Seperti saat kita meminta kue, barangkali Allah tidak langsung memberi kue dalam kotak penuh coklat nan cantik. Melainkan Allah memberi tepung, telur, mentega yang harus kita olah agar menjadi kue yang kita inginkan. Jangan sampai kita berputus asa atas setiap doa yang kita minta.
“Akan dikabulkan doa salah seorang di antara kalian, selama dia tidak tergesa-gesa (mudah putus asa), dengan mengatakan: ‘Aku sudah berdoa tapi tidak juga dikabulkan.” (HR Tirmidzi, Abu Daud).
Mengadu di “pusat” adalah kehormatan besar. Namun, yang lebih besar dari itu adalah kepercayaan penuh kepada Allah meski belum melihat hasilnya. Iman sejati sering kali diuji bukan saat doa terwujud, tetapi saat doa masih menggantung di langit.
Jika hari ini hajat belum terkabul, yakinlah bahwa doa itu tidak sia-sia. Allah sedang mempersiapkan segalanya dengan baik, entah dalam bentuk yang sedang kita tunggu, atau dalam bentuk yang kelak akan membuat kita bersyukur karena doa itu tidak dikabulkan sesuai keinginan kita.
Karena pada akhirnya, Allah tidak pernah salah dalam menjawab doa, hanya kita sebagai hamba terlampau sering terlambat memahami jawabannya.
Kreator : Kakang Agung Gumelar