Hati-Hati Saat Berucap di Tanah Suci, Sebab Kata Bisa Jadi Do’a Yang Diijabah Langsung Oleh Allah SWT

Setiap langkah di Tanah Suci bukan hanya perjalanan fisik, tetapi perjalanan hati. Kita datang untuk membersihkan dosa, memperbaiki diri, dan mendekat kepada Allah. Karena itu, segala sesuatu yang kita lakukan—bahkan hal kecil seperti ucapan—memiliki bobot spiritual yang berbeda dibandingkan tempat lain. 

Banyak ulama menekankan bahwa ucapan seseorang di Tanah Suci memiliki konsekuensi yang lebih berat, baik ucapan yang baik maupun ucapan yang buruk.

Tersebar di sosial media, kisah seorang influencer muda yang sedang berada di hotel dengan ka’bah sebagai pandangan dihadapannya. Sambil merekam dirinya, beliau mengatakan dan mempertanyakan mengenai arah kiblat yang tidak terlihat di kamar hotelnya dan akan membuat orang yang sedang sakit kebingungan jika hendak sholat di kamar tersebut. 

Tak lama berselang, badannya yang sebelumnya nampak sehat tiba-tiba mengalami demam tinggi dan tenggorokan yang terasa panas hingga harus dilarikan ke rumah sakit. 

Cerita ini tentu menjadi salah satu dari ribuan cerita yang memiliki pengalaman serupa akibat lisannya yang tidak dijaga saat berada di tanah suci. 

Saat melaksanakan umroh maupun haji, para jamaah diharuskan untuk menjaga lisan. Sebab tanah suci adalah tempat istimewa. 

Banyak jamaah yang merasa sangat lelah: perjalanan panjang, cuaca panas, kerumunan, antrian panjang, atau perubahan jadwal. Kondisi ini bisa memancing emosi. Di sinilah ujian sesungguhnya datang.

Banyak jamaah lupa bahwa setiap kata yang keluar dari mulut kita di Tanah Suci bisa saja menjadi doa. Dan di tempat yang mustajab, doa bisa lebih cepat naik ke langit.

Di Tanah Suci, Allah bukan menguji kemampuan fisik kita, tetapi kesabaran dan kebeningan hati kita. Dan salah satu tanda hati yang bersih adalah ucapan yang terjaga.

Bahkan saat melaksanakan umroh, keluhan yang terucap maupun tidak terucap bisa menghapus rasa syukur dan bisa memiliki konsekuensinya sendiri.  

Beberapa keluhan dan ucapan yang mungkin sering kita ucapkan di tanah air, namun bisa menjadi ucapan yang menghilangkan keberkahan saat di tanah suci seperti kalimat : 

  • “Panas banget ya…”
  • “Capek… kaki mau patah rasanya…”
  • “Lama banget antrean Raudhah…”

Juga kalimat-kalimat yang mengomentari orang lain baik itu petugas maupun jamaah lain yang berkumpul dari berbagai daerah bahkan lintas negara dari seluruh penjuru dunia. 

Maka, cara terbaik untuk menjaga lisan kita adalah dengan menyibukkan lisan dengan memperbanyak dzikir, doa, istigfar, bershalawat, hingga membaca Al-Qur’an. 

Didik lisan kita agar fokus pada memperbaiki diri dan mohonlah pertolongan Allah untuk membantu meluruskan niat dan hati kita. 

Ucapkanlah yang baik. Tahanlah yang buruk. Karena dari lisanlah banyak ibadah bisa sempurna, dan dari lisan pula banyak ibadah bisa rusak.

Semoga Allah menjaga lisan, hati, dan langkah kita saat berada di tanah penuh berkah itu. Amin.

Kreator : Kakang Agung Gumelar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *