Salah satu larangan saat memasuki masjidil haram adalah menggunakan sepatu atau sandal saat memasukinya. Tentu hal ini bertujuan untuk menjaga kesucian masjid yang merupakan tempat ibadah.
Namun meski tidak menggunakan alas kaki, saat kaki menginjak lantai di masjidil haram, tidak ada rasa panas yang dapat membakar atau melukai kaki. Terlebih jika musim panas tiba, cuaca di Arab Saudi bisa begitu panas bahkan bisa mencapai 45 derajat Celcius.
Terdapat alasan sederhana mengapa lantai di Masjidil Haram tidak panas. Hal tersebut karena lantai masjidil haram menggunakan marmer khusus yang berasal dari Thassos, Yunani.
Marmer ini bukanlah marmer biasa, melainkan dapat menyerap panas dan menjaga permukaannya tetap sejuk dan dingin. Itulah mengapa jamaah haji tetap nyaman meskipun tanpa alas kaki saat di Masjidil Haram.
Selain itu marmer ini juga memiliki daya pantul cahaya yang sangat tinggi. Sehingga sinar matahari tidak diserapnya melainkan dipantulkan kembali.
Selain itu marmer ini juga memiliki warna putih yang solid, sehingga tidak menangkap energi panas. Selain itu warna putih dengan pantulan cahaya membuat lantai ini terlihat lebih cantik, hingga banyak yang menyebutnya marmer salju.
Marmer ini sangat mahal dan langka, namun pihak Masjidil Haram tetap mengutamakannya demi kenyamanan para jamaah. Bahkan, sebagian besar lantai di area tawaf dan pelataran masjid menggunakan marmer ini.
Penggunaan marmer Thassos sebenarnya bukan hal baru di dunia bangunan. Bahkan sejak zaman dulu marmer ini telah digunakan di bangunan- bangunan megah dunia, termasuk bangunan-bangunan klasik Romawi dan Yunani kuno.
Kini Masjidil Haram juga menggunakan marmer ini dengan material yang jauh lebih berkualitas.
Tentu tujuan utama dari penggunaan marmer ini adalah untuk memberikan fasilitas terbaik untuk beribadah. Dengan lantai yang dingin ini membuat saat tawaf telapak kaki tak terasa terbakar, bisa membuat jamaah betah berlama-lama untuk berdzikir berdoa dan membaca Al-Qur’an. Bisa membuat shalat lebih khusyuk, bahkan bisa tetap nyaman meski di kerumunan yang besar.
Kreator : Kakang Agung Gumelar