Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi. Salah satu kisah nyata yang terjadi di zaman Rasulullah SAW adalah tentang seorang pemuda yang dikenal shalih, rajin berpuasa, sedekah dan ibadah lainnya namun di ujung hayatnya, ia tak mampu mengucapkan kalimat thayyibah.
Pemuda tersebut bernama Alqamah. Seorang sahabat yang dikenal dengan ibadahnya juga baktinya kepada sang ibu yang begitu luar biasa. Hingga ia tidak pernah membiarkan ibunya mengambil air sendiri, segala kebutuhan ibunya selalu ia usahakan untuk penuhi.
Tibalah masa saat Alqamah menikahi perempuan yang dipilihnya, kemudian Alqamah hidup bersama dengan istrinya dan meninggalkan ibunya yang sudah renta, untuk membangun rumah tangganya sendiri.
Namun selama masa pernikahannya, disadari atau tidak,perhatian Alqamah pada ibunya semakin berkurang. Meski tak diucapkan, namun hati sang ibu begitu sedih dan merasa ditinggalkan.
Tak lama berselang, Alqamah mengalami sakit hingga tibalah penghujung hayatnya. Namun, setiap kali dituntun untuk membaca kalimat Laa Ilaaha Illallah, lidahnya kelu dan kaku tidak bisa mengucap sepatah katapun.
Karena kondisi tersebut, sang istri pun langsung mengirim utusan kepada Rasulullah SAW untuk memberitahukan kondisi suaminya itu. Maka Raslulullah SAW mengutus para sahabatnya yang lain untuk melihat keadaan Alqamah secara langsung dan membantu untuk mentalqinkan langsung.
Para sahabat pun bersegera datang,mencoba membantu dengan membacakan talqin kepada alqamah, nama usaha tersebut masih belum berhasil. Alqamah masih tak bisa mengucap kalimat Laa Ilaaha Illallah yang sebelumnya selalu ia dawamkan dalam sholat dan ibadahnya.
Sahabat pun kembali kepada Rasulullah dan memberitahukan keadaan Alqamah. Kemudian Rasulullah SAW bertanya, “Apakah dia masih memiliki kedua orangtua?”
wahai Rasulullah, dia masih mempunyai seorang ibu yang sudah sangat tua renta,” jawab salah satu utusan.
Mendengar jawaban tersebut, tanpa ragu Rasulullah segera mengirim utusan untuk menemui sang ibu dari Alqamah. Rasulullah juga memberikan pesan kepada utusan tersebut, “Katakan kepada ibu dari Alqamah, ‘Jika dia masih mampu untuk berjalan menemui Rasulullah, maka datanglah. Namun kalau tidak, maka biarlah Rasulullah yang datang menemuimu.”
Pesan tersebut disampaikan kepada ibunda Alqamah dan dibalas oleh sang ibu, “Saya lah yang lebih berhak untuk mendatangi Rasulullah.”
Dengan berjalan menggunakan tongkat, Ibu Alqomah Pun datang menemui Rasulullah SAW. Rasulullah Pun menanyai tentang bagaimana pendapat sang Ibu tentang anaknya Alqamah.
“Wahai ibu Alqamah, jawablah pertanyaanku dengan jujur, sebab jika engkau berbohong, maka akan datang wahyu dari Allah yang akan memberitahukan kepadaku. Bagaimana sebenarnya keadaan putramu Alqamah?”
Maka, ibunya menjawab bahwa Alqamah adalah seorang ank yang rajin mengerjakan shalat, banyak berpuasa dan senang bersedekah.
Rasulullah kembali bertanya, “Lantas bagaimana perasaanmu padanya?”
Tanpa diduga, ibu Alqamah menjawab, “Saya marah kepadanya, Wahai Rasulullah, karena dirinya lebih mengutamakan istrinya dibandingkan dengan saya. Dia pun durhaka kepadaku,”
Saat itu, Rasulullah langsung bersabda, “Sesungguhnya kemarahan sang ibu telah menghalangi lisan Alqamah, sehingga tidak bisa mengucapkan syahadat.”
Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan Bilal untuk mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya, dengan maksud akan membakar Alqamah.
Mendengar Rasulullah SAW akan membakar putranya, ibunya pun meminta agar Alqamah tidak dibakar. Sebab baginya, Alqamah tetap anaknya yang ia tidak pernah tega melihat tubuhnya dibakar di hadapan matanya.
Mendengar rujukan sang ibu, Rasulullah menjawab, “Wahai Ibu Alqamah, sesungguhnya azab Allah lebih pedih dan lebih kekal. Kalau engkau ingin agar Allah mengampuninya, maka relakanlah anakmu Alqamah, Demi Dzat yang menggenggam jiwaku, shalat, puasa, dan sedekah ‘Alqamah tidak ada manfaatnya selama engkau masih murka kepadanya.”
“Wahai Rasulullah, di hadapan Allah, para malaikat-Nya, dan seluruh kaum Muslimin yang hadir, aku bersaksi bahwa aku meridhai anakku ‘Alqamah,” sang ibu langsung berikrar di hadapan Rasulullah.
Mendengar ikrar ibunda dari Alqamah tersebut, Rasulullah SAW mengutus Bilal untuk kembali menemui Alqamah dan melihat apakah Alqamah sudah bisa mengucapkan kalimat syahadat atau belum. Dan sesampainya disana, Bilalpun menyaksikan bahwa Alqamah bisa mengucapkan kalimah syahadat dan menghembuskan nafas terakhirnya.
Kemudian Rasulullah segera memberi perintah agar jenazah Alqamah dimandikan lalu dikafani, kemudian beliau akan menshalatkannya serta menguburkan jenazahnya.
Saat pemakaman dilaksanakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di pinggir kubur Alqamah seraya bersabda, “Wahai kaum Muhajirin dan Anshar, siapa saja yang mementingkan istrinya daripada ibunya, maka laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia adalah untuknya. Allah tidak akan menerima kebaikan dan keadilannya kecuali ia bertobat kepada Allah, memperbaiki sikapnya kepada ibu, dan berusaha mengejar ridhonya. Sesungguhnya ridha Allah berada pada ridho ibu. Murka Allah juga berada pada murka ibu.”
Kisah ini tentu bisa menjadi hikmah bahwa seringkali baik disadari maupun tidak, kita bisa melukai hati ibu kita. Terlebih seorang laki-laki, meskipun telah menikah, baktinya tetap kepada ibunya. Bukan berarti kita harus meninggalkan istri kita, tapi harus berlaku seadil mungkin agar keduanya tidak ada perasaan tersakiti atau perasaan ditinggalkan.
Semoga kita bisa mengoptimalkan bakti kita kepada kedua orang tua kita, sebab mereka adalah jalan menuju syurga paling tengah yang Allah SWT sediakan.
Kreator : Kakang Agung Gumelar