Inilah Domba Lokal yang Menjadi Cikal Bakal Lahirnya Domba Garut Yang Kita Kenal Hari Ini

Domba Garut dikenal sebagai salah satu plasma nutfah ternak lokal Indonesia yang memiliki keunggulan fisik, kekuatan tubuh, dan karakter unik yang tidak dimiliki domba lain. 

Domba Garut dikenal baik sebagai domba adu, domba hias maupun domba dengan kualitas daging yang tidak diragukan, membuat domba Garut menjadi ikon budaya sekaligus masyarakat Jawa Barat. 

Sebagaimana kita ketahui bahwa domba Garut merupakan hasil dari persilangan Domba Merino dan Juga capstaad  dengan domba lokal. 

Menurut Warjita, seorang sejarawan Garut melalui website radargarut.id menjelaskan bahwa domba Garut lahir pada abad ke 19. Dimana pada tahun 1864, seorang pengusaha teh Belanda bernama K.F. Holle membawa domba merino dan kaapstad ke wilayah Priangan. Kemudian, domba-domba itu disilangkan dengan domba lokal di Kampung Cibuluh, Desa Sukawargi, Kecamatan Cisurupan, dan dari situlah lahir domba Garut yang kita kenal sekarang. 

Dikutip dari jurnal Ilmu Ternak, Deni heriyadi (2005)  Asal-usul perkembangan Domba Garut diyakini berasal dari domba lokal asli Garut, yaitu dari Daerah Cibuluh dan Cikeris di Kecamatan Cikajang serta Kecamatan Wanaraja. 

Keyakinan tersebut dilandasi oleh teori bahwa seluruh bangsa domba yang ada di dunia dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar, yaitu kelompok domba bermuka putih (white face) dan domba bermuka hitam (black face). 

Domba-domba muka putih secara genetik membawa warna yang lebih dominan dibandingkan warna pada domba muka hitam, sedangkan domba-domba yang diimpor masuk ke Indonesia sejak Jaman Belanda sampai sekarang kebanyakan dari kelompok domba muka putih (termasuk Domba Merino, Texel, dan Domba Ekor Gemuk).

Sedangkan domba Garut yang ada saat ini banyak juga yang didominasi dengan warna hitam. Sehingga diyakini bahwa warna hitam pada domba Garut saat ini merupakan bawaan dari domba lokal, khususnya dari daerah Cibuluh dan Wanaraja  yang memang sejak dahulu dikenal dengan domba-dombanya yang dominan berwarna hitam.

Cibuluh dan Wanaraja memang dikenal dengan dombanya sejak dahulu. Cibuluh merupakan sebuah daerah yang memiliki kontur alam berbukit dan udara sejuk. Kondisi ini menjadi “laboratorium alam” bagi perkembangan domba bertubuh kuat dan tahan terhadap iklim ekstrem.

Domba-domba asli Cibuluh dikenal dengan karakter leher yang tebal, bertanduk besar, wajah yang garang, badanya padat serta memiliki kaki yang kuat untuk medan berbukit. Ciri ini juga menjadi ciri bagi domba Garut hari ini. 

Disamping itu salah satu ciri yang dimiliki Domba Cibuluh adalah bertelinga rumpung (rudimenter) dengan ukuran di bawah 4 cm atau disebut dengan ngadaun hiris dengan ukuran 4 – 8 cm. Ciri khas ini sesuai dengan ciri-ciri beberapa domba Garut saat ini yang memiliki telinga dengan sebutan ngadaun hiris.

Jika Cibuluh memperkuat karakter dan tanduk, maka domba Wanaraja memberikan sumbangan besar pada ukuran tubuh dan variasi motif bulu. Perpaduan antara domba Wanaraja dan domba Cibuluh juga dengan domba dari luar negeri kemudian menghasilkan domba Garut seperti yang kita kenal hari ini. Memiliki badan dengan bobot yang besar, tanduk yang melingkar dan kuat, bulu yang halus dengan motif beragam, serta daging dengan kualitas yang tidak perlu diragukan. 

Kreator : Kakang Agung Gumelar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *