Keutamaan Bertani Dalam Islam : Menanam Biji dan Benih, Memanen Pahala

Dalam islam bertani bukanlah hal baru. Bahkan  dalam pandangan islam, bertani bukan sekadar aktivitas menanam dan memanen hasil bumi, tetapi juga merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT. 

Islam tidak hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta, tetapi juga hubungan manusia dengan alam yang menjadi titipan-Nya.

Bertani memiliki kedudukan mulia dalam pandangan agama. Dari tanah yang digemburkan, biji yang ditanam, hingga hasil panen yang dinikmati banyak makhluk, semuanya bernilai ibadah ketika diniatkan karena Allah.

Lebih dari itu, bertani memiliki dampak sosial yang luas. Ia menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang, menjaga ketahanan pangan, serta melestarikan bumi yang diamanahkan Allah kepada manusia. Maka, setiap keringat yang menetes di ladang, setiap tangan yang menyentuh tanah dengan niat baik, semuanya bernilai ibadah. 

Begitu pentingnya bertani hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyeru kita untuk menanam tunas jika mampu sebelum hari kiamat tiba, hal tersebut dijelaskan dalam hadits :

إن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

“Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya, maka tanamlah.” (HR. Bukhari dan Ahmad)

Senada dengan hadis Nabi di atas, Umar bin Khattab pernah berkata kepada orang tua renta dalam riwayat berikut,

Dari Amarah bin Khuzaimah berkata, “Aku mendengar Umar bin Khattab berkata kepada bapakku, ‘Apa yang menghalangimu untuk menanami lahanmu?’ Bapakku berkata, ‘Aku tua renta yang akan mati besok.’ Umar berkata, ‘Kuyakinkan kau harus menanamnya.’ Maka, sungguh aku melihat Umar bin Khattab menanaminya bersama bapakku.” (Lihat Al-Jami’ Al-Kabir karya As-Suyuthi dan As-Silsilah As-Shahihah)

Hadits tersebut menunjukkan pentingnya bercocok tanam. Bahkan jika kita sudah berada di ujung usia pun, selama kita mampu maka kita bisa menanam lahan yang kita miliki dengan biji atau tunas. 

Sebab sejatinya bertani bukan hanya menanam biji dan tunas saja, tapi jauh dari itu ada banyak kebaikan didalamnya. Mulai dari menjaga tanah dan lingkungan hingga menjaga kehidupan. Dari setiap hasil bumi, ada banyak yang terbantu khususnya manusia yang membutuhkan makanan untuk bertahan hidup. 

Beberapa manfaat yang bisa didapatkan dari bertani adalah sebagai berikut :

1. Mendapatkan pahala sedekah

Apa yang dipanen dari biji yang ditanam, semuanya bernilai pahala sedekah. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim pun yang bercocok tanam atau menanam satu tanaman, lalu tanaman itu dimakan oleh burung, atau manusia, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim yang bercocok tanam, kecuali setiap tanamannya yang dimakannya bernilai sedekah baginya, apa yang dicuri orang darinya menjadi sedekah baginya, apa yang dimakan binatang liar menjadi sedekah baginya, apa yang dimakan burung menjadi sedekah baginya, dan tidaklah seseorang mengambil darinya, melainkan ia menjadi sedekah baginya.” (HR. Muslim)

Dari hadits diatas kita bisa merasakan bahwa nikmat dna keuntungan dari bertani bukan hanya bisa dirasakan di dunia, namun juga bisa menjadi ladang pahala untuk tabungan di akhirat. 

Bahkan dari setiap kerugian seperti ada yang mencuri atau dimakan oleh hewan, Allah SWT memberi nilai sedekah. Tentu hal tersebut juga harus diiringi dengan keikhlasan dan keridhoan. 

2. Terdapat Pahala Jariyah Dari Setiap Bibit Yang Ditanamnya

Salah satu pahala yang diimpikan oleh kita adalah pahala jariyah, dimana pahala  tersebut terus mengalir meski peran kita di muka bumi telah berakhir. Salah satu ladang pahala jariyah yang bisa didapatkan oleh para petani adalah dari setiap bibit yang ditanam, tentu ini merupakan sebuah keuntungan yang harus disyukuri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ بَنَى بُنْيَانًا فِى غَيْرِ ظُلْمٍ وَلَا اعْتِدَاءٍ أَوْ غَرَسَ غَرْسًا فِى غَيْرِ ظُلْمٍ وَلَا اعْتِدَاءٍ كَانَ لَهُ أَجْرٌ جَارِيًا مَا انْتَفَعَ بِهِ مِنْ خَلْقِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ

“Siapa saja yang mendirikan bangunan atau menanam pohon tanpa kezaliman dan melewati batas, niscaya itu akan bernilai pahala yang mengalir selama bermanfaat bagi makhluk Allah yang Maha Pengasih.” (HR. Ahmad, no. 4739)

Dalam sabda beliau yang lain,

سَبْعٌ يَجْرِى لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ وَهُوَ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ أَوْ غَرَسَ نَخْلاً:

“Ada tujuh yang pahalanya mengalir terus kepada seseorang di alam kuburnya: (salah satunya) orang yang menanam pohon kurma…” (HR. Al-Bazzar no. 7289; Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin 2: 181; dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al- Iman no. 3449. Lihat Sahih Al-Targhib no. 73)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa setiap tanaman yang kita tanam dan hasilnya dimanfaatkan oleh makhluk hidup akan menjadi amal jariyah bagi kita. 

3. Pahala yang Didapat Sejumlah Buah Dalam Pohon 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ رَجُلٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ قَدْرَ مَا يَخْرُجُ مِنْ ثَمَرِ ذَلِكَ الْغَرْسِ

“Tidaklah seseorang menanam tanaman, kecuali Allah ‘Azza Wajalla mencatat pahala untuknya seukuran buah yang dikeluarkan oleh tanaman itu.” (HR. Ahmad no. 22420 dan 22424. Hadis dha’if. Lihat Al-Jami’ Al-Saghir no. 8016)

Bayangkan betapa banyaknya pahala yang bisa didulang oleh petani jika Allah menghitung dari setiap buah yang dihasilkan. Tentu hal tersebut karena tidak terlepas dari kebermanfaatan yang dihasilkan, dimana setiap buah yang dihasilkan bisa dinikmati oleh banyak orang. 

Mengetahui bagaimana islam memandang pertanian dengan segala keuntungan yang didapatkan sudah sepatutnya menjadikan kita semakin semangat untuk bertani. Selain itu kita juga bisa meniatkan setiap bibit yang ditanam agar menjadi ladang pahala, sebab kita akan mendapatkan apa yang kita niatkan.

Kreator : Kakang Agung Gumelar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *