Saat melaksanakan umroh maupun haji, ada salah satu aturan yang harus dipenuhi oleh para jamaah, yaitu penggunaan pakaian ihram.
Aturan penggunaan pakaian ihram berlaku bagi semua jamaah tanpa mengenal ras, suku, jabatan, keturunan, atau apapun gelar-gelar yang dibuat manusia. Semua jamaah mendapatkan aturan yang sama dari Sang Maha Raja, yakni Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Menggunakan pakaian ihram merupakan salah satu dari rangkaian umroh yang pertama dilakukan setelah berniat untuk ihram.
Bagi Laki-laki pakaian yang digunakan saat dalam ihram adalah berupa dua jenis kain putih panjang yang dijadikan sarung dan diselempangkan yang digunakan sebagai pengganti pakaian. Aturan berihram untuk laki-laki dijelaskan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW :
Abdullah bin Umar RA berkata, “Seorang laki-laki bertanya: ‘Wahai Rasulullah! Pakaian macam apa yang dipakai oleh muhrim (orang yang ihram)?’ Rasulullah bersabda: ‘Muhrim tidak boleh memakai gamis (baju), sorban, celana, topi, dan khuf (sepatu yang menutup mata kaki) kecuali seseorang tidak mempunyai dua sandal, ia boleh pakai dua khuf dan potonglah keduanya di bawah mata kaki dan (juga) tidak boleh pakai pakaian yang dicelup dengan za’faron atau waros (HR Bukhari dan Muslim).
Sementara itu, pakaian ihram yang diperuntukkan bagi wanita yakni pakaian yang menutupi auratnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa aurat wanita meliputi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya. Namun saat melaksanakan ihram, perempuan tidak diperkenankan menggunakan niqab atau cadar yang bisa menutupi wajahnya juga menutupi telapak tangannya dengan menggunakan sarung tangan, tapi jangan sampai auratnya juga terbuka.
Selain itu perempuan juga sering melupakan kaki sebagai aurat yang harus ditutupi dengan menggunakan kaos kaki. Sebab kaki merupakan bagian dari aurat yang harus ditutup. Mengenai aturan ini, hadits Nabis Muhammad SAW menjelaskan :
Ibnu Umar RA berkata, “Aku mendengar Nabi SAW melarang wanita yang sedang ihram memakai sarung tangan, penutup muka, pakaian yang dicelup waras dan za’faron, ia boleh memakai selain dari itu dari apa yang ia suka dari macam-macam perhiasan yang dicelup warna kuning atau sutra, atau perhiasan atau celana atau baju. (HR Ahmad, Tirmidzi, dan Abu Dawud)
Lalu ada makna apa dibalik pakaian ihram ?
Pakaian ihram yang telah ditentukan oleh Allah SWT bukan hadir tanpa alasan, namun merupakan sebuah simbol melepas atribut dunia yang melekat pada manusia.
Pakaian yang selama ini melekat pada diri kita adalah penutup untuk badan, yang seringnya melahirkan kesombongan dan kecintaan berlebihan. Kita ingin menggunakan jam tangan yang mahal serta bermerek, perhiasan yang indah dan segala yang melekat pada tubuh hari itu luruh, dan sudah sepatutunya menyadari bahwa pada hari itu tidak ada yang berguna di hadapan Sang Pencipta, semua terlihat sama di mata Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Selain itu, Ibu Abbas yang merupakan sosok dengan keilmuan yang tidak diragukan menjabarkan tiga pesan penting mengenai kain ihram.
Pertama, Sesuaikan pakaian bergantung pada siapa kita bertamu. Jika biasanya kita menggunakan pakaian paling terbaik yang kita punya saat diundang oleh seseorang yang lebih tinggi jabatan atau kedudukannya, maka saat Allah mengundang seseorang ke rumah-Nya, Allah hanya menginginkan pakaian tak berjahit tanpa motif dan kemewahan. Dengan perintah itu Allah seakan ingin memberitahu kita bahwa tujuan untuk mendatangi tempat Allah berbeda dengan mendatangi tempat makhluk.
Saat mendatangi seseorang, pakaian kita bisa menjadi simbol kewibawaan yang kemudian kita berharap dapat menambah nilai diri kita, agar siapa yang melihat nyaman dan bahkan terpukau.
Namun, saat mendatangi Allah, penilaian itu tidak bergantung pada apa yang melekat pada badan, namun pada ketaqwaan yang ada didalamnya. Allah tidak menilai hal-hal yang berkaitan dengan keduniawian saja, namun bagaimana dunia itu membawa lebih dekat pada jalan-Nya.
Kedua, pakaian Ihram bisa dimaknai sebagai kesucian seperti bayi baru lahir. Saat memakai kain ihram maka tidak ada lagi perhiasan dunia yang selama ini kita banggakan, kita upayakan dan kita jadikan sebagai sumber kebahagiaan. Layaknya bayi yang baru lahir, kita tidak menggunakan apa-apa. Kemudian kita akan menggunkaan pakaian yang digunakan hanya untuk menutupi aurat. Bukan untuk berbangga-bangga karena semuanya sama.
Ketiga, memakai ihram seakan kita berada pada saat akan dihisab kelak. Keadaan memakai pakaian ihram itu menyerupai keadaan saat nanti kita hadir di tempat kelak kita dihisab oleh Allah. Semuanya berdiri dengan tubuhnya sendiri dan dalam keadaan seragam. Tidak ada yang lebih mulia, tidak ada yang lebih hina, semuanya memegang catatan amalnya sendiri.
Saat memakai pakaian ihram, semua manusia memiliki derajat yang sama dihadapan Allah SWT. Tidak mengingat dia pimpinan atau karyawan, dia pejabat atau rakyat biasa, semua menggunakan pakaian yang sama. Yang membedakan hanyalah amal dan ketaqwaan.
Itulah makna dari pakaian ihram yang digunakan saat umroh. Sebuah simbol bahwa dunia ini tidak ada harganya dihadapan Allah jika tidak kita gunakan untuk beribadah. Apa yang harus kita banggakan adalah harta yang justru tidak kita lekatkan pada tubuh, namun pada banyaknya kebaikan dan amal yang hidup dari harta tersebut hingga mengantarkan kita pada ketaqwaan kepada Allah SWT.
Kreator : Kakang Agung Gumelar