Menggandeng Tangan Kedua Orang Tua Untuk Thawaf Mengelilingi Ka’bah Adalah Kemenangan Dalam Hidup Yang Harus Diperjuangkan

Ada begitu banyak cita-cita dan mimpi dalam hidup yang pasti begitu ingin diperjuangkan seorang anak untuk kedua orang tuanya. Bentuknya bisa dalam berbagai rupa, namun salah satu kemenangan dalam hidup yang patut diperjuangkan adalah bisa menggandeng tangan kedua orang tua kita di baitullah untuk melaksanakan rangkaian ibadah haji dan umrah. 

Bayangkan sebuah momen ketika tangan kanan kita menggenggam tangan ayah, dan tangan kiri merangkul ibu. Di hadapan kita berdiri Ka’bah yang agung, pusat ibadah umat Islam, kiblat doa dari seluruh penjuru dunia.

Kemudian langkah demi langkah kita ikuti putaran thawaf, seraya doa mengalir dalam hati. Air mata pun luruh, bukan sekadar karena keindahan Baitullah, tetapi karena rasa syukur mampu menghadirkan orang tua yang telah mendidik dengan cinta, membesarkan dengan penuh perjuangan kini kita gandeng mengitari rumah Allah. Mungkin inilah salah satu kemenangan sejati dalam hidup yang selalu diimpikan setiap anak. 

Thawaf bukan hanya sekadar berjalan mengelilingi Ka’bah tujuh kali. Ia adalah perjalanan simbolis yang mengingatkan manusia bahwa hidup berputar di sekitar Allah, bukan hawa nafsu. Dan ketika thawaf dilakukan bersama orang tua, pesan itu semakin dalam: kita diajarkan untuk tak pernah melupakan mereka yang menjadi sebab keberadaan kita.

Menggandeng tangan orang tua saat thawaf adalah perwujudan nyata dari birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua). Islam menempatkan kedudukan orang tua begitu tinggi, bahkan setelah perintah menyembah Allah, langsung Allah sertakan perintah untuk berbakti kepada orang tua. Di hadapan Ka’bah, semua itu seolah menemukan puncaknya, sebuah ibadah yang menyatu antara ketaatan kepada Allah dan rasa terima kasih kepada ayah dan ibu.

Namun, momen indah ini tidak datang begitu saja. Ia butuh perjuangan. Membawa orang tua thawaf mungkin berarti menabung bertahun-tahun, bekerja keras siang malam, menahan diri dari kesenangan duniawi. Barangkali juga berarti mengorbankan liburan, kesenangan pribadi, bahkan mimpi-mimpi lain yang kita tunda. Tetapi bukankah pengorbanan itu terasa ringan ketika kita melihat kedua orang tua berdiri di depan Ka’bah, meneteskan air mata syukur?

Inilah kemenangan yang sesungguhnya: bukan kemenangan yang dirayakan dengan pesta, tetapi dengan doa-doa orang tua yang tulus. Doa yang kelak menjadi cahaya dalam hidup kita, membuka pintu keberkahan, dan menjadi bekal di akhirat.

Seorang ulama pernah berkata, “Ridha Allah ada pada ridha orang tua, murka Allah ada pada murka orang tua.” Maka, siapa yang berhasil membahagiakan orang tuanya, apalagi dengan menghadirkan mereka ke rumah Allah, sungguh telah meraih kemenangan yang tak ternilai.

Tidak semua anak diberi kesempatan untuk membawa orang tuanya ke Tanah Suci. Ada yang orang tuanya telah tiada, ada yang terhalang rezeki, ada pula yang masih menunggu waktu. Namun, bagi siapa pun yang masih diberi kesempatan, perjuangan itu layak dijalani. Karena di hadapan Ka’bah, bersama orang tua tercinta, kita tak hanya thawaf mengelilingi bangunan suci, tetapi juga thawaf mengelilingi cinta, doa, dan keberkahan hidup.

Maka perjuangkanlah. Karena menggandeng tangan kedua orang tua thawaf di Baitullah bukan sekadar perjalanan ibadah, melainkan kemenangan hidup yang akan kita syukuri sepanjang masa.

Semoga Allah mudahkan dan wujudkan untuk kita bisa mengunjungi Baitullah bersama Ayah dan Ibu kita, bahkan bersama keluarga kecil kita aamiin.

Kreator : Kakang Agung Gumelar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *