Kisah mengenai perjalanan umrah dan haji telah tersebar di berbagai platform media. Baik di media sosial maupun di televisi. Hal tersebut tentu menjadi bukti nyata bahwa Allah tidak pernah menyalahi janji-Nya.
Banyak orang yang bisa berangkat ke baitullah padahal jika ditilik dari berbagai kondisi, secara kasat mata sebagai manusia biasa pasti kita berfikir itu adalah hal yang tidak mungkin.
Seperti penjual sayur kecil, penjual gorengan di pinggir jalan, pemulung sampah dan beragam profesi yang bahkan tidak memiliki gaji pokok dan rutin setiap bulan. Mereka mengandalkan pemasukan harian yang itu pun langsung masuk ke kantong dapur untuk memenuhi kebutuhan perut agar bisa bertahan hidup.
Namun, kuasa-Nya Allah tak pernah selalu bisa dijangkau logika. Ternyata merekalah yang bisa berangkat untuk umroh maupun haji dengan berbagai perjuangannya yang luar biasa.
Maka, sesungguhnya perjalanan ke baitullah itu terbuka bagi siapa saja. Tidak hanya untuk si kaya, tidak hanya untuk si pejabat, tidak hanya untuk si terkenal, namun bisa dijangkau oleh hati yang meminta, lisan yang berdo’a penuh keyakinan, serta ikhtiar nyata untuk kayak menjadi tamu Allah Azza Wa jalla.
Yang harus pertama kita lakukan adalah yakin bahwa Allah akan mengundang kita ke baitullah lewat cara-Nya yang terindah. Keyakinan ini bisa didasari pada firman Allah SWT dalam sebuah hadits qudsi yang menyatakan bahwa Allah sesuai apa yang hambaNya prasangkakan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]
Menurut Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim sebagian ulama mengatakan bahwa makna dari Allah susai dengan prasangka hamba-Nya adalah Allah akan memberi ampunan jika hamba meminta ampunan. Allah akan menerima taubat jika hamba bertaubat. Allah akan mengabulkan doa jika hamba meminta. Allah akan beri kecukupan jika hamba meminta kecukupan.
Jika Allah bisa memberikan ampunan, mengabulkan segala pinta dan harap, maka itu juga termasuk Allah akan memberikan kita kesempatan saat kita meminta untuk menjadi salah satu tamu undangan-Nya.
Kunci dari keyakinan dan do’a ini adalah harus senantiasa berprasangka baik atau berhusnudzan kepada Allah SWT. Kita harus percaya bahwa Allah SWT Maha Mampu melakukan segalanya dengan mudah. Kita harus yakin bahwa yang kita pinta adalah Allah yang Maha Kaya, Pemilik langit bumi, Pemilik segala keterwujudan dalam segala kemustahilan yang kita kira.
Rasulullah SAW bersabda,
اُدْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi)
Namun keyakinan dan doa yang kita panjatkan juga harus diiringi dengan sebab keterkabulan do’a. Dengan mempersiapkan diri, memantaskan diri menjadi tamu panggilan Allah SWT, memperbanyak amal shalih serta menjauhi larangan-Nya.
Semoga Allah SWT segera menjamu kita di rumah-Nya. Dengan beragam sunnah serta keindahan yang berada disana. Insyallah…
Sampai Jumpa di Baitullah..
Kreator : Kakang Agung Gumelar