Berbakti kepada orang tua merupakan suatu kebaikan universal yang bukan hanya sebuah ajaran agamaNamun, dalam islam berbakti kepada orang tua memiliki kedudukan yang tinggi dan utama bahkan disandingkan dengan perintah untuk beriman dan mengikuti perintah Allah SWT.
Hubungan antara orang tua dan anak sering dipandang sebagai ikatan paling suci, penuh kasih, dan tak tergantikan. Orang tua memberi kehidupan, merawat sejak bayi, hingga mendidik anak untuk menjadi pribadi yang mandiri.
Namun, realitas kehidupan tidak selalu seindah narasi ideal tersebut. Ternyata tidak semua orang tua berperan sebagaimana mestinya. Ada kalanya orang tua justru berlaku sebaliknya—menyakiti, menelantarkan, bahkan menzalimi anak-anaknya. Bahkan banyak anak yang merasa bahwa orang tuanya telah melakukan sesuatu yang membuat ia mempertanyakan keharusan akan baktinya.
Kata “zalim” sering digunakan dalam konteks agama maupun sosial untuk menggambarkan tindakan tidak adil, merugikan, atau menyakiti pihak lain. Dalam konteks orang tua, “zalim” dapat mencakup berbagai bentuk. Baik itu kekerasan secara fisik seperti memukul, menyiksa atau melukai. Ada juga bentu kekerasan secara verbal dengan kata-kata yang merendahkan, mengutuk atau menggunakan kata-kata kasar. Selain itu bisa juga secara emosional dengan mengabaikan perasaan anak, menuntut anak hingga tidak pernah merasa cukup, hingga bentuk kezaliman dengan penelantaran yaitu tidak memenuhi kebutuhan dasar anak, tidak ikut berperan dalam pendidikan bahkan hilang dari kehidupan anaknya.
Fenomena ini, menurut berbagai penelitian psikologi keluarga, bukanlah kasus yang jarang. Misalnya, survei UNICEF menunjukkan bahwa jutaan anak di Asia Tenggara mengalami bentuk kekerasan dari orang tuanya sendiri. Artinya, realitas bahwa orang tua bisa menjadi “penzalim” bagi anak tidak bisa dipungkiri.
Dalam Islam, berbakti kepada orang tua adalah kewajiban kedua setelah menyembah Allah, sebagaimana tercantum dalam banyak ayat Al-Qur’an. Namun, Al-Qur’an sebagai pedoman hidup juga telah menegaskan dalam QS. Luqman : 15 bahwa ketaatan bukan hal yang mutlak melainkan harus mempertimbangkan apakah disana ada perilaku zalim atau tidak.
“ Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mentaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.“ (Luqman : 15)
Selain itu dalam hadis Nabi Muhammad SAW juga menyebutkan :
“ Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf” (HR dan Muslim)
Maka dari hadits tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa berbakti kepada kedua orang tua bukanlah ketaatan buta. Ada batas moral yang tidak boleh dilewati, bahkan oleh orang tua sekalipun.
Lalu kembali ke pertanyaan awal dan dasar, Apakah bakti masih tersisa jika orang tua menzalimi kita?
Jawabannya adalah iya. Bakti kita kepada orang tua harus ditunaikan bagaimanapun wujudnya. Ada banyak cara untuk berbakti kepada orang tua sebagai sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang anak dalam cara yang beragam dan berbeda.
Bakti bukan berarti harus turut seiya sekata dengan orang tua terutama jika melakukan perilaku yang tidak baik. Seperti menyuruh pada kesesatan, kesyirikan, bahkan jika orang tua melakukan berbagai kekerasan dan kezaliman seperti yang disebutkan sebelumnya. Saat kita misalnya mengalami kekerasan dan menolaknya itu bukan bentuk durhaka melainkan kita sedang menaati juga perintah Allah untuk menjaga diri dan tidak taat pada kezaliman.
Bakti juga bisa dalam bentuk doa. Sebagai seorang anak, kita juga memiliki kekuatan doa yang bisa dilangitkan. Mohonkan ampunan, mohonkan hidayah agar orang tua kita diberikan kesadaran untuk menjadi orang tua yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.
Selain itu jika dirasa interaksi langsung dan sering menyebabkan lebih banyak potensi kezalman muncul dipermukaan, maka kita juga bisa memilih untuk membatasi interaksi. Namun kita tetap berbakti dengan menanyakan kabar, menggunakan bahasa dengan pilihan topik dan kata yang baik agar tidak menimbulkan ketegangan, tetap menjenguk dan mengunjungi, mencari nafkah dengan halal dan baik sehingga bisa memberikan mereka nafkah atau hadiah juga dengan menjaga nama baik diri dan keluarga.
Dan hal yang terpenting kita juga harus mengakui bahwa orang tua juga bukan orang yang sempurna tanpa cacat dan mereka bisa melakukan kesalahan. Penerimaan realitas ini juga adalah hal yang penting sebagai upaya melepaskan pemikiran bahwa orang tua selalu benar.
Kita juga bisa jadi tidak begitu mengetahui bagaimana lika-liku kehidupan orang tua kita sejak mereka lahir. Kita bisa jadi tidak mengetahui bahwa kerasnya kehidupan saat mereka tumbuh membuat kehilangan cara untuk menunjukan cinta kepada anaknya dengan benar.
Dengan demikian, bagaimanapun kondisi orang tua kita, mereka adalah tetap yang harus kita hargai, lindungi, serta maafkan paling banyak di dunia ini. Ditengah segala kekurangan yang mereka miliki, pasti masih ada pengorbanan-pengorbanan yang tidak kita ketahui.
Dengan bakti yang kita suguhkan semoga ada hati yang Allah gerakkan agar kembali memeluk keluarganya dengan penuh kehangatan dan tanggungjawab, hingga bisa membawa kembali visi misi keluarga yang bertabur bahagia di dunia dan akhirat.
Kreator : Kakang Agung Gumelar