Setiap tahun selalu ada kisah-kisah inspiratif dari para jamaah haji yang akhirnya bisa mewujudkan mimpinya, melangkahkan kaki ke tanah suci. Begitupun ditahun 2025 ini banyak cerita inspiratif dari jamaah haji yang layak dijadikan pacuan semangat dan diambil pelajaran.
Musim haji telah tiba, jamaah-jamaah dari Indonesia berangsur-angsur berangkat untuk kemudian nanti serentak melaksanakan rangkaian Ibadah Haji bersama seluruh umat muslim dunia di Makkah Al-Mukarramah.
Dalam iring-iringan jamaah yang berangkat itu, tersimpan ribuan kisah inspiratif yang menyentuh hati, menggugah jiwa, dan memperdalam pemahaman kita bahwa ibadah haji bukan semata tentang kemampuan finansial, tetapi juga tentang kesiapan hati, kesungguhan niat, dan keteguhan tekad untuk memantaskan diri di hadapan Allah.
Masa Tunggu Yang Lebih Lama
Kuota haji yang berbeda-beda untuk setiap negara dan banyaknya umat islam yang ingin melaksanakan haji membuat antrian menuju tanah suci semakin panjang. Untuk ibadah haji reguler, butuh waktu tunggu 15 hingga 30 tahun lebih.
Namun, ada banyak orang yang memiliki masa waktu tunggu lebih lama dari itu. Dan sepanjang masa penantiannya, para calon jamaah ini mengisi waktu dengan memantaskan diri. Meski berhaji dikatakan bagi yang mampu, ternyata banyak orang-orang yang memantaskan diri untuk mampu dengan menabung meski dengan waktu yang begitu lama.
Kisah Pak Amir: Penjual Gorengan yang Bertahun-tahun Menabung
Pak Amir, seorang penjual gorengan dari Yogyakarta, menjadi salah satu sosok yang menginspirasi dalam rombongan haji 2025. Setiap hari, ia menjajakan dagangannya dari pagi hingga sore dengan penghasilan yang tak seberapa. Namun, sejak 10 tahun lalu, ia menyisihkan sebagian kecil penghasilannya untuk tabungan haji. Ia tidak pernah mengambil tabungannya, meski beberapa kali keluarganya mengalami kesulitan ekonomi.
“Bukan karena saya kaya, tapi karena saya ingin datang ke rumah-Nya. Saya yakin, kalau kita niat sungguh-sungguh dan menjaga niat itu, Allah akan bantu,” ujar Pak Amir saat diwawancarai di asrama haji.
Ketika akhirnya namanya masuk dalam daftar jamaah haji 2025, air matanya menetes tanpa henti. Baginya, ini bukan hanya soal menabung, tapi soal bagaimana ia memantaskan diri untuk dipanggil ke Tanah Suci.
Nenek Sutiah Jamaah Tertua di Usia 107 Tahun
Dari hasil bertani, Nek Sutiah akhirnya bisa menjejakan kaki ditanah suci. Jamaah asal Lampung ini tidak menyangka akan menajdi jamaah haji tertua tahun 2025 ini. Dulu ia bertani, namun kini dengan usianya yang semakin renta Nenek Sutiah lebih banyak diam di rumah dan sesekali mencabut rerumputan di halaman rumahnya.
Nenek Sutiah mendaftar haji sejak tahun 2013 dan tahun ini Allah ijinkan Nenek Sutiah untuk menginjakan kaki di madinah terlebih dahulu, kota yang menjadi saksi perjalanan Rasulullah SAW.
Jika dilihat dari usianya, tentu banyak sekali yang menghawatirkan kesehatannya. Namun saat diwawancarai oleh petugas haji dari kementerian agama, Nenek Sutiah dengan senyum yang sumringah menjawab bahwa ia sehat dan kuat.
Menabung 30 Tahun, Tukang Pijat Asal Kudus Akhirnya Berangkat Haji
Pak Solikin tersenyum dengan penuh haru saat akhirnya bersama sang istri bisa berangkat haji. Beliau menabung sejak tahun 1995. Menyisihkan sedikit demi sedikit dari penghasilannya hasil memijat.
Pak Solikin sangat gigih bekerja demi mimpi bisa melaksanakan ibadah haji. Bahkan beliau menerima panggilan hingga keluar kota Kudus. Uangnya yang didapatkan beliau sisihkan untuk berbagai keperluan termasuk menyisihkan untuk tabungan haji.
Saat sudah terkumpul, pada 2012, Pak Solikin bersama istrinya bisa mendaftar kursi untuk berangkat ke Tanah Suci. Dan akhirnya tahun ini Pak Solikin dan istri bisa berangkat haji.
Bapak Legiman Bekerja sebagai Tukang Sampah Nabung Seribu Sehari Sejak Tahun 1986
Pak Legiman dan istri, pasangan suami istri asal Semarang tahun ini mendapatkan panggilan untuk beribadah haji. Namun yang menarik adalah bagaimana perjuangan mereka hingga bisa berhaji.
Sehari-hari Pak Legiman bekerja sebagai petugas kebersihan. Pekerjaan ini telah dilakoni Pak Legiman selama puluhan tahun yakni sejak tahun 1976. Beliau berkeliling dari rumah ke rumah untuk membawa sampah rumah tangga.
Secara konsisten sejak tahun 1986 Pak Legiman konsisten menyisihkan uang hasil kerjanya. Tak besar, beliau menyisihkan mulai dari Rp.1000 rupiah setiap harinya.
Mulanya, Pak Legiman menabung dengan tujuan untuk mengatasi ketidakpastian pendapatan. Namun pada 2012, ternyata uang tabungannya terkumpul hingga Rp 55 juta. Setelah diskusi bersama keluarga akhirnya Pak Legiman memutuskan untuk mendaftar haji bersama sang istri.
Pak Legiman saat itu berfikir yang penting bisa daftar dulu, untuk masalah pelunasan dan bekal beliau yakin akan ada jalan keluar. Malah, setelah mendaftar haji, Pak Legiman dan Istri semakin semangat bekerja mencari barang-barang sisa demi menambah pundi-pundi penghasilan.
Hasil dari tambahan itu tentu beliau utamakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, setelahnya baru beliau tabungkan untuk keperluan mewujudkan mimpinya untuk pergi ke tanah suci.
Memantaskan Diri, Kunci Dimampukan oleh Allah
Masih banyak kisah-kisah yang begitu inspiratif tentang bagaimana tangguhnya mereka untuk menjemput impian menjadi tamu Allah. Meski seringnya pekerjaan mereka dianggap biasa bahkan banyak yang mengkerdilkan kemampuan mereka untuk bisa berangkat haji.
Namun semua bukti ada didepan mata. Menjadi refleksi mendalam bagi kita bahwa ternyata keberangkatan haji bukan hanya hak bagi mereka yang mampu secara materi. Lebih dari itu, haji adalah anugerah bagi mereka yang memantaskan diri — yang menjaga niat, berjuang dalam doa, dan istiqamah dalam ikhtiar. Ketika seseorang memantaskan diri, Allah akan memampukan dengan cara-Nya yang tak terduga.
Ada yang mampu, tapi tak juga berangkat karena belum terpanggil. Ada yang sederhana, namun diberi jalan karena hatinya begitu rindu. Bahkan ada pula yang tanpa sengaja mendaftarkan diri karena ajakan teman, lalu dimampukan dalam waktu singkat. Itulah misteri panggilan suci ini.
Menyambut Panggilan dengan Persiapan Hati
Bagi yang belum diberi kesempatan berhaji, kisah-kisah ini bukan untuk membuat kecil hati. Sebaliknya, ini adalah pemantik semangat bahwa kesempatan akan datang bagi siapa saja yang terus memupuk niat dan memperbaiki diri. Persiapan berhaji bukan hanya tentang menyisihkan uang, tetapi juga tentang membersihkan niat, memperbanyak amal, dan menjauhi hal-hal yang menghalangi berkah.
Sungguh, ketika Allah melihat kesungguhan seorang hamba, mustahil Dia tak mengabulkan. Waktu mungkin menjadi rahasia, tapi janji Allah pasti nyata.
Semoga Allah mengundang kita ke Baitullah diwaktu terbaik dengan skenario terbaiknya, Amiin..
Kreator : Kakang Agung Gumelar