Domba Garut merupakan salah satu produk hasil dari peternakan yang memang memiliki daya nilai tinggi. Domba Garut Juga merupakan sumber genetik ternak asli Indonesia yang memiliki ciri khas bahkan dikategorikan sebagai sumber genetik ternak terbaik.
Sektor Peternakan memiliki sumbangsih yang besar bagi perekonomian nasional, bahkan mampu menyerap tenaga kerja begitu signifikan. Dikutip dari jurnal Peternakan Dalam Angka 2024, berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2023 (ST2023) bahwa jumlah usaha peternakan di Indonesia mencapai 12,19 juta unit.
Jenis hewan yang diternakkan di Indonesia beragam. Mulai dari ayam, sapi, kerbau, kambing hingga domba. Domba Garut merupakan salah satu ras domba lokal unggulan yang tidak hanya menyumbang pada sektor perekonomia namun juga pada sektor sosial dan kebudayaan.
Mengenal Asal Usul Domba Garut
Meski Domba Garut ini merupakan sumber genetik lokal asli Indonesia, namun domba Garut ini awalnya merupakan hasil dari proses persilangan. Dikutip dari lama web garutkab.go.id, domba Garut merupakan hasil persilangan segitiga antara domba asli Indonesia, domba Merino dari Asia Kecil dan domba ekor gemuk dari Afrika. Persilangan ini membuat domba Garut memiliki karakteristik yang gemuk dan juga kuat.
Salah satu yang menarik adalah tanduk melengkungnya yang membuat semakin terlihat gagah. Banyak orang yang jatuh cinta dengan tanduk yang identik dengan Domba Garut ini. Selain itu, domba ini juga penghasil daging yang baik, jadi selain secara fisik menarik dagingnya juga memang terbaik.
Ciri-ciri Fisik Domba Garut
Dilansir dari websiter garutkab.go.id, ciri-ciri fisik Domba Garut adalah sebagai berikut :
Ciri-ciri fisiknya antara lain:
- Badan agak besar. Domba jantan dewasa mempunyai bobot 60-80 kh, sedangkan yang betina mempunyai bobot 30-40 kg.
- Domba jantan memiliki tanduk yang cukup besar, melengkung kearah belakang dan ujungnya mengarah kedepan sehingga berbentuk spiral. Pangkal tanduk kanan dan kiri hampir bersatu.
- Domba betina tidak memiliki tanduk.
- Ekornya pendek dan pangkainya agak besar dan gemuk
- Lehernya agak kuat
- Bentuk telinganya ada yang pandang, pendek dan sedang yang terletak dibelakang pangkal tanduk.
- Bulunya lebih panjang dan halus jika dibandingkan dengan domba asli berwarna putih, hitam, coklat atau kombinasi dari ketiga warna tersebut.
- Domba ini baik untuk penghasil daging.
Dr. Ir. Denie Heriyadi, SU, dosen Universitas Padjajaran sekaligus peneliti Domba Garut menyatakan bahwa salah satu ciri khas domba garut terdapat genetik link pada kuping dan ekor. Dimana bentuk kuping dan ekor domba garut memiliki kombinasi, yaitu kombinasi kuping rumpung atau ngadaun hiris dengan ekor ngabuntut beurit atau ngabuntut bagong.
Potensi Ekonomi Domba Garut
Dengan kualitasnya yang bahkan dikatakan salah satu yang terbaik di dunia, tentunya domba garut memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Harganya yang cukup bersaing mampu memutar roda ekonomi lebih baik di masyarakat.
Harga domba Garut bahkan bisa sampai berkisar ratusan juta rupiah. Terdapat beberapa kategori domba Garut yang disesuaikan dengan peruntukannya. Harga domba Garut untuk dikonsumsi, harga domba garut untuk peliharaan dan harga domba garut untuk perlombaan tentu berbeda.
Karena memiliki daya tarik sendiri ditengah masyarakat, kini banyak sekali peternak yang tertarik untuk membudidayakannya. Peternak domba sayurpun pasti menambahkan domba Garut didaftar ternaknya karena harganya yang bersaing.
Kini semakin banyak peternak lokal yang fokus juga pada domba Garut bahkan dilevel desa. Sehingga bisa menambah nilai ekonomi bagi warga sekitar.
Kehadiran wisata domba Garut bisa menjadi contoh sumbangsih bagi perekonomian warga.Domba Garut bukan sekedar diternakan dan dijual secara langsung, namun Domba Garut juga mengalami pengembangan produk yaitu langsung diolah menjadi berbagai masakan. Seperti sate, abon atau kerupuk kulit.
Menilik Sisi Kebudayaan Domba Garut
Dilihat dari sisi kebudayaan, Domba Garut bisa dikatakan sebagai spesies asli Indonesia dibuktikan dengan adanya pahatan dua domba garut yang ditemukan di relief Candi Sewu komplek Candi Prambanan, Yogyakarta. Candi yang diperkirakan dibangun pada pertengahan abad ke-7 Masehi ini menggambarkan sepasang domba saling berhadapan di tengah pohon kalpataru.
Pada masa itu, pertukaran komoditas atau barang terbaik antara raja Mataram dan Sunda menjadi hal yang biasa dilakukan.
Selain itu, ssalah satu kebudayaan yang lahir dari adanya Domba Garut yang eksis hingga sekarang adalah adu domba. Tradisi ini adalah ajang adu kekuatan dan keberanian domba melalui sebuah pertarungan yang kemudian diiringi juga oleh musik dan komentator.
Karena domba Garut merupakan bagian dari ternak seni, setelah domba Garut bertanding di lapangan, salah satu kegembiraan yang dirasakan oleh pemilik atau pelatihnya adalah ketika domba tersebut menunjukkan seni sesuai irama ketukan kendang.
Selain untuk seni, adu domba juga menjadi ajang bisnis dimana biasanya domba yang menang dalam pertarungan harganya akan semakin naik bahkan secara drastis. Semakin sering memeangkan pertarungan maka harganya akan semakin tinggi.
Selain pertarungan dua domba jantan, ada juga kontes atau perlombaan yang melihat fisik domba. Dimana domba dilihat dan dinilai dari postur dan bentuk tubuhnya. Termasuk bentuk dan ukuran tanduk mereka.
Ajang ini dijadikan sarana untuk melihat bibit domba garut. Semakin mendekati sempurna fisiknya dipastikan akan menghasilkan keturunan serupa juga.
Sampai saat ini kegiatan adu domba dijadikan aksi wisata yang biasanya dilaksanakan di tempat dan waktu tertentu. Terbaru pemerintah Kabupaten garut berencana untuk menjadikan adu ketangkasan domba garut ini sebagai icon unggulan yang akan dikelola secara profesional.
Acara adu ketangkasan domba ini bisa dilaksanakan lebih rutin misalnya diwaktu libur, sehingga bukan hanya merawat kesenian dan mengenalkan budaya bagi warga lokal namun juga bisa mendatangkan wisatawan.
Kreator : Kakang Agung Gumelar