Berbakti kepada orang tua adalah amalan utama yang bukan hanya menjalankan kewajiban moral namun juga kewajiban dalam agama. Keutamaannya bahkan diabadikan dalam Al-Quran dan hadits yang menunjukan urgensinya berbakti kepada kedua orang tua.
Keutamaan berbakti dan mengabdi kepada orang tua bahkan lebih utama dibandingkan dengan perbuatan baik lain termasuk dalam berjihad atau berperang.
Hal tersebut digambarkan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW yang menkisahkan tentang kedatangan seorang laki-laki dan menghadap langsung kepada Rasulullah SAW. Laki-laki tersebut menyampaikan niatnya untuk mengikuti hijrah dan jihad dengan harapan tentu ingin mendapatkan keridhoan Allah SWT.
Saat itu Rasulullah SAW tidak langsung memperbolehkan, melainkan beliau bertanya kepada laki-laki tersebut, “apakah kamu masih memiliki kedua orang tua ( ibu Bapak ) yang masih hidup atau salah satunya ?”
Kemudian laki-laki tersebut menjawab, “benar ( saya masih memiliki kedua ibu bapak ) bahkan keduanya masih hidup.”
Mendengar jawaban laki-laki tersebut Nabi kemudian bertanya kembali, “apakah kamu mau mencari pahala dari Allah ?” Tentu laki-laki tersebut menjawab menginginkan keridhoan Allah SWT.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda : “kembalilah kepada kedua orang ibu bapak mu dan temanilah keduanya dengan berbuat baiklah kepada keduanya.” ( HR Muttafaqun ’alaih ).
Tentu Rasuullah SAW adalah yang paling mengetahui manfaat dan mudharat yang akan terjadi dari setiap keputusan yang beliau ambil. Meski saat itu suasana menggambarkan perlunya banyak tenaga dan bala bantuan untuk menjalankan misi dakwahnya dengan berhijrah dan jihadnya, namun beliau mengetahui bahwa laki-laki tersebut lebih dibutuhkan oleh kedua orangtuanya.
Dengan kehadiran laki-laki tersebut untuk kedua orang tuanya, Rasulullah SAW mengharapkan bisa membuat kedua orang tuanya bahagia dan ridho kepada anak laki-lakinya tersebut, sehingga dengan keridhoan tersebut datanglah juga keridhoan Allah SWT.
Namun kisah ini bukan berarti mengkerdilkan jihad sebagai amalan yang juga utama. Melainkan Rasulullah SAW juga lebih mengetahui bahwa kekuatan sahabatnya saat itu sudah bisa cukup dan kuat untuk berjihad. Sehingga tidak ikut sertanya satu sahabat tidak akan menjadi alasan kekalahan dan kehancuran.
Hikmah dari kisah tersebut adalah bahwa ternyata berbakti kepada orang tua juga bernilai jihad yang disukai oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Sebab pada prosesnya begitu banyak tantangan yang harus dihadapi dan jika bersabar dengan penuh keridhoan akan mendatangkan keridhoan Allah SWT juga.
Selain itu, dalam sebuah hadits Nabi yang menceritakan Abi Abdurahaman Abdullah ibn Mas’ud bertanya kepada Nabi SAW, amal apa yang paling dicintai oleh Allah SWT ? Nabi menjawab : sholat tepat pada waktunya, kemudian aku menanyakan lagi, amal apa lagi ? Nabi menjawab : birr al- waalidain (berbaktilah kepada kedua orang tuamu), kemudian aku menanyakan lagi, amal apa lagi ? Nabi menjawab : jihad di jalan Allah, (HR. Muttafaqun alaih)
Kreator : Kakang Agung Gumelar