Domba merupakan salah satu hewan ternak yang menjanjikan secara ekonomi. Hal tersebut tentu sudah dibuktikan dengan banyaknya peternak yang menjadikan domba sebagai salah satu komoditas unggulan.
Keuntungan ekonomis yang dimiliki domba tentu saja tidak terlepas dari resiko besar yang dimilikinya. Salah satu resiko yang harus siap dihadapi oleh para peternak adalah adanya penyakit-penyakit yang bisa menjangkit hewan ternak bahkan hingga menyebabkan kematian. Dan tentu saja kematian pada hewan akan merugikan para peternak.
Berbagai penyakit bisa dirasakan oleh hewan ternak termasuk pada domba. Salah satunya adalah penyakit Brucellosis.
Dikutip dari laman web kementerian pertanian, Brucellosis pada ruminansia kecil, khususnya kambing dan domba merupakan penyakit menular yang sangat penting terutama dari aspek kesehatan masyarakat (Public health). Penyakit ini termasuk salah satu penyakit hewan menular strategis (PHMS) yang harus dikendalikan sesuai Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 4026/Kpts./OT.140/3/2013.
Penyakit Brucellosis ini menyebabkan dampak zoonosis yang tinggi bukan hanya pada hewan ternak namun juga bisa menular pada manusia hingga bisa berujung kematian pada manusia.
Gejala klinis yang dialami jika seseorang tertular brucellosis antara lain demam intermiten (malta fever), sakit kepala, lemah dan nyeri sendi.
Penyebab utama brucellosis pada hewan ternak biasanya adalah disebabkan oleh bakteri dari Brucella. Spesies Brucella ini memiliki beberapa turunan dan bukan hanya menjangkit domba, namun juga hewan ternak lainnya seperti Brucella abortus pada sapi, Brucella canis pada anjing, Brucella suis pada babi dan Brucella neotomae pada hewan pengerat. Dan dari masing-masing spesies tersebut ternyata dapat saling menginfeksi.
Pada kambing dan domba infeksi disebabkan oleh kuman Brucella melitensis dan kuman Brucella ovis. Dimana keduanya bersifat kronis. Artinya, domba yang sudah terinfeksi bisa membawa bakteri dalam tubuhnya dalam waktu lama, meski tampak sehat secara kasat mata. Inilah yang membuat deteksi dini sangat penting agar penyebaran dapat dicegah lebih cepat.
Brucellosis dapat ditularkan ke hewan lain melalui beberapa cara yaitu kontak langsung dengan hewan terinfeksi, bisa juga lewat leleran vagina, dari cairan sisa abortus, susu dan semen yang terkontaminasi
Lalu apa saja kerugian yang bisa dialami domba jika mengalami brucellosis ? Berikut gejala brucellosis pada domba yang kami kutip dari website direktorat jenderal peternakan dan kesehatan hewan :
1. Keguguran (abortus)
Salah satu tanda atau gejalan domba atau kambing yang terjangkit penyakit brucellosis adalah abortus atau keguguran. Keguguran ini biasanya terjadi pada dua bulan terkahir masa kebuntingan.
2. Pedet lahir mati (stillbirth) atau lahir lemah
Jika induk berhasil melahirkan anaknya, maka banyak di antara kambing dan domba yang terkena brucellosis ditemukan retensi plasenta dan anak yang terlahir lemah. Anak domba biasanya tampak tidak aktif, sulit berdiri, dan kurang responsif terhadap induknya atau rangsangan sekitar. Kondisi ini membuat daya tahan tubuh anak domba sangat rendah, sehingga mudah terinfeksi penyakit lain. Bahkan pada beberapa kasus bisa menyebabkan hewan mati sesaat setelah dilahirkan.
3. Jarak beranak lebih lama (calving interval)
Jika biasanya kambing bisa mengalami 2 kali masa kehamilan dan melahirkan dalam satu tahun, maka kambing atau domba yang terinfeksi brucellosis memiliki jarak beranak yang lebih lama.
4. Penurunan produksi susu
Untuk domba betina yang terinfeksi, gejala yang sering dialami adalah terjani penurunan produksi susu bahkan bisa berhenti sama sekali. Kondisi ini tentu merugikan dan akan berdampak pada pertumbuhan anak domba serta menekan angka produktivitas.
5. Terjadi peradangan pada kambing jantan hingga sebabkan kemandulan
Pada domba atau kambing jantan, brucellosis ditandai dengan orchitis disertai peradangan pada tunica vaginalis dan pembengkakan pada kantung skrotalis yang diakibatkan oleh hemoragi atau eksudat fibrinopurulen. Pada fase kronis, gejal aklinis yang dapat muncul berupa arthritis dan penurunan kualitas semen. Pada infeksi akibat B. ovis, gejala klinis yang sering dijumpai pada domba jantan adalah epididymitis yang pada fase kronis ditandai dengan pembesaran epididymis empat hingga lima kali dari ukuran normal. Peradangan yang dialami oleh hewan jantan ini bahkan bisa menyebabkan kemandulan.
Demikianlah gejala yang dialami oleh kambing dan domba yang terjangkit penyakit brucellosis. Tentu terdapat banyak cara pencegahan salah satunya adalah dengan melaksanakan vaksin brucellosis yang telah disediakan. Selain itu juga menjaga kebersihan dan melakukan sterelisasi pada alat dan kandanga hewan. Yang paling penting adalah bagaimana kita memperoleh ilmu dan pengetahuan agar semakin memahami gejala-gejala penyakit pada hewan ternak juga berkonsultasi dengan pihak-pihak terkait jika ada keganjilan pada hewan ternak.
Kreator : Kakang Agung Gumelar