Kini Dunia Sedang Butuh Petani Lebih dari Sebelumnya

Di tengah gemerlap kemajuan teknologi dan urbanisasi global, terdapat satu profesi yang kerap terabaikan namun justru kehadirannya menjadi penopang kehidupan. Profesi tersebut adalah petani.

Banyak yang tidak menyadari bahwa setiap aktivitas dalam kehidupan kita begitu erat hubungannya dengan hasil dari pertanian. Nasi yang kita konsumsi, buah dan sayuran yang kita nikmati, hingga setiap gelas kopi yang tersaji tidak akan pernah ada jika bukan karena peran para petani. 

Sayangnya, profesi ini  menghadapi tantangan serius. Semakin sedikit generasi muda yang berminat menjadi petani, sementara kebutuhan pangan dunia terus meningkat. Kini, lebih dari kapan pun, dunia sangat membutuhkan petani.

Perubahan iklim, krisis pangan, pertumbuhan penduduk yang pesat, hingga ketergantungan impor membuat sektor pertanian berada di garis depan perjuangan keberlangsungan hidup manusia. Namun di saat yang sama, minat terhadap pertanian menurun drastis di berbagai negara, termasuk Indonesia. Jika tren ini dibiarkan, kita sedang berjalan menuju masa depan yang penuh ketidakpastian pangan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan populasi dunia akan mencapai 9,7 miliar jiwa pada tahun 2050. Untuk memenuhi kebutuhan pangan global, produksi pangan harus meningkat sekitar 70%. Namun ironisnya, jumlah tenaga kerja di sektor pertanian justru terus menurun, dan sebagian besar petani saat ini berusia di atas 50 tahun. Maka Regenerasi petani menjadi salah satu isu paling genting.

Banyaknya generasi muda yang lebih memilih profesi lain yang dianggap lebih menguntungkan juga menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi bersama. Pembuatan program-program menarik yang bisa kembali memicu semangat untuk bertani harus menjadi proyek yang digarap oleh banyak pihak. 

Selain tantangan dalam regenerasi, perubahan iklim yang terjadi juga berdampak langsung pada pertanian. Pola cuaca yang tidak menentu, musim tanam yang terganggu, hingga meningkatnya frekuensi bencana alam seperti banjir dan kekeringan, membuat petani harus bekerja lebih keras dari sebelumnya.

Jika sebelumnya petani sudah bisa memprediksi mula dari waktu tanam hingga panen, kini banyak petani yang harus bergantung pada peruntungan untuk hasil tani yang maksimal. 

Sebab petani adalah kelompok yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, namun sering kali paling sedikit mendapat perhatian. Mereka membutuhkan dukungan teknologi, sistem peringatan dini, dan kebijakan adaptasi yang memadai agar tetap bisa bertani secara produktif dan berkelanjutan.

Petani bukan hanya korban perubahan iklim, tetapi juga dapat menjadi bagian dari solusinya. Pertanian ramah lingkungan, agroforestri, dan praktik pertanian regeneratif mampu menyerap karbon, menjaga tanah tetap subur, dan melindungi keanekaragaman hayati.

Kreator : Kakang Agung Gumelar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *