Tidak pernah ada yang mudah bagi seseorang saat kehilangan orang tua. Hal tersebut juga menimpa seorang ulama sekaligus tabiin yakni Iyas bin Muawiyah. Seorang ulama yang terkenal di Basrah.
Ketika ibunya meninggal dunia, semua orang begitu heran dengan tangisnya yang tersedu-sedu. Membuat orang-orang bertanya, bagaimana mungkin seorang shalih dan alim tak kuasa menerima ujian yang menimpanya.
Semakin lama tangisnya semakin mendalam, hingga orang-orang tak tega melihatnya. Semua mengira bahwa kepergian ibundanya yang membuat kesabaran seolah terbang. Lalu, seseorang bertanya kepadanya : “Mengapa kamu menangis wahai Iyas ?”
Lalu ia pun menjawab :
كَانَ لِي بَابَانِ مَفْتُوْحَانِ إِلَى الجَنَّةِ وَأُغْلِقَ أَحَدُهُمَا
“Dahulu aku memiliki dua pintu yang terbuka menuju surga. Namun sekarang salah satunya telah tertutup.” (Al-Birr li Ibnil Jauzi, hlm. 56. Dinukil dari Kitab min Akhbar As-Salaf Ash-Shalih, hlm. 398)
Ternyata tangisan tersebut bukan sebab kematian ibunya saja, melainkan yang jauh lebih dalam dari itu adalah hilangnya pintu yang telah Allah sediakan untuk setiap anak di dunia ini.
Bukan takdir kematian yang membuatnya menangis, namun kemana lagi harus mencari jalan pintu syurga yang begitu manis jika ibundanya telah tiada.
Padahal ia adalah orang yang shalih, dengan amalan-amalan dan sunnah yang dihidupkannya sepanjang siang dan malam. Namun, bakti kepada ibunya merupakan amalan yang begitu ia dahulukan hingga kepergian membuatnya merasa kehilangan kesempatan membuka pintu syurga yang dimilikinya.
Maka, jika saat ini pintu syurga kita masih terbuka lebar, masuklah kedalamannya. Sapalah ia dengan sapaan terbaik. Berikan senyuman dan doa terbaik agar syurga itu semakin ranum dengan kebaikan hingga bisa mmeberikan keridhoan yang mengantarkan pada kebahagiaan kita.
Kreator : Kakang Agung Gumelar