Pujian Allah untuk Para Nabi yang Berbakti kepada Kedua Orang Tuanya

Dalam Islam, berbakti kepada kedua orang tua bukan sekadar akhlak mulia, melainkan ibadah besar yang kedudukannya sangat tinggi. 

Dalam banyak ayat, Allah menyandingkan perintah menyembah-Nya dengan perintah berbakti kepada orang tua. Hal ini menunjukkan betapa agung kedudukan bakti tersebut.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.”
(QS. Al-Isra: 23)

Bahkan, Allah menjadikan bakti kepada orang tua sebagai salah satu ciri utama para nabi dan hamba pilihan-Nya. Mereka bukan hanya diutus membawa risalah tauhid, tetapi juga menjadi teladan sempurna dalam akhlak, terutama dalam hubungan dengan orang tua.

Jika perintah ini berlaku untuk seluruh manusia, maka para nabi adalah golongan yang paling sempurna dalam melaksanakannya. Karena itulah Allah mengabadikan kisah mereka sebagai pelajaran lintas zaman.

Salah satu nabi yang secara eksplisit dipuji Allah karena baktinya kepada orang tua adalah Nabi Yahya ‘alaihissalam. Allah memuji Nabi Yahya AS langsung karena bakti dan kelembutannya. Hal tersebut diabadikan oleh Allah SWT langsung dalam Surah Maryam, Allah berfirman:

“Dan berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukanlah orang yang sombong lagi durhaka.” (QS. Maryam: 14)

Ayat ini sangat singkat, tetapi maknanya sangat dalam. Allah menyebutkan bakti Nabi Yahya kepada orang tuanya sebagai bagian dari identitas dan kemuliaannya, sejajar dengan sifat-sifat agung lainnya seperti kesucian diri, ketakwaan, dan kelembutan hati.

Menariknya, Allah menegaskan bahwa Nabi Yahya bukan orang yang sombong dan bukan pula durhaka. Ini menunjukkan bahwa seringkali kesombongan menjadi pintu kedurhakaan. Ketika seorang anak merasa lebih tahu, lebih pintar, lebih tinggi jabatannya membuatnya bisa meremehkan orang tuanya. 

Nabi Yahya bisa menjadi teladan, dimana beliau adalah seorang nabi, memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Namun kemuliaan itu tidak membuatnya merasa lebih tinggi dari orang tuanya. Justru semakin tinggi derajat seseorang di sisi Allah, seharusnya semakin besar baktinya kepada orang tua.

Selain Nabi Yahya, Allah SWT mengabadikan Kisah Nabi Isa ‘alaihissalam tentang bakti kepada ibunya, Maryam. Kisah ini merupakan bagian paling menyentuh dalam Al-Qur’an. Dalam kondisi yang luar biasa—lahir tanpa ayah—Nabi Isa justru tampil sebagai pembela kehormatan ibunya. Ketika Maryam difitnah dan dicela oleh kaumnya, Allah membuat Nabi Isa berbicara sejak bayi. 

Allah mengabadikan bakti Nabi Isa AS dalam Alquran :  

Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 30-32)

Melalui ayat ini Allah SWT ingin menjelaskan banyak hal dan salah satunya adalah Allah yang menjadikan Nabi Isa seorang anak yang berbakti kepada ibunya. Ia bisa menjadi orang yang menjaga kehormatan ibundanya dan membela ibundanya ketika dunia begitu keras kepadanya. 

Ada hikmah besar mengapa Allah secara khusus memuji para nabi karena bakti mereka kepada orang tua.

Pertama menepis Anggapan bahwa Kesalehan Mengabaikan Keluarga. Sebagian orang merasa bahwa fokus ibadah atau dakwah bisa menjadi alasan untuk mengesampingkan orang tua. Kisah para nabi justru membantah anggapan ini. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin baik pula sikapnya kepada orang tua.

Kedua bakti bisa dijadikan sebagai tolak ukur akhlak seseorang. Ilmu, jabatan, dan amal besar tidak bernilai jika disertai kedurhakaan. Allah menjadikan bakti kepada orang tua sebagai parameter kepribadian para nabi, bukan sekadar tambahan.

Selain Nabi Yahya dan Nabi Isa, Al-Qur’an juga mengisyaratkan bakti para nabi lain, seperti : Nabi Ibrahim yang tetap santun kepada ayahnya meski sang ayah kafir. Juga Nabi Yusuf yang memuliakan ayahnya Ya’qub meski telah lama berpisah. Hal ini menunjukkan bahwa bakti bukan bergantung pada kesempurnaan orang tua, tetapi pada ketaatan anak kepada perintah Allah.

Semoga kita dimampukan meneladani para nabi, menjaga lisan dan sikap kita kepada orang tua, serta meraih ridha Allah melalui jalan bakti yang sederhana namun agung.

Aamiin.

Kreator: Kakang Agung Gumelar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *