Bahkan Saat Menggendong Ibu untuk Thawaf di Baitullah, Kita Belum Bisa Membalas Satupun  Tarikan Nafasnya Saat Melahirkan

Ibu, bukan hanya sekedar kata juga bukan hanya sebuah jiwa jauh didalamnya ada doa dan juga keistimewaan yang tidak dimiliki oleh siapapun di muka bumi ini. 

Seorang perempuan yang dengan tubuh lemahnya begitu kuat menopang tubuh mungil kita dalam rahimnya selama 9 bulan. Bukan dalam keadaan senang, melainkan keadaan lemah yang bertambah-tambah. Sebagaimana Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur’an surat Lukman ayat 14  : 

“Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.”

Allah SWT yang Maha Menciptakan, mengetahui dengan betul bahwa keadaan seorang ibu yang mengandung setiap harinya berisi kepayahan dan kelemahan. Organ tubuhnya berubah, hormonnya berubah, segala hal dalam dirinya turut berubah. Dan semuanya ibu lalui demi kita yang harapannya bisa menjadi penyejuk hati. 

Setelah proses panjang kehamilan, seorang ibu harus berjuang dengan nyawa sebagai taruhan. Menurut penelitian tentang tingkat rasa sakit seorang ibu yang sedang mengalami kontraksi kemudian melahirkan secara alami diperkirakan rasa sakitnya sebanding dengan saat dua puluh tulang sehat yang dipatahkan secara bersamaan.  

Bahkan dalam ilmu medis menegaskan bahwa rasa sakit kontraksi persalinan dapat mencapai intensitas 57 unité douleur (skala pengukuran rasa sakit). Dimana angkanya mendekati batas maksimum yang bisa ditahan manusia tanpa kehilangan kesadaran.

Dalam satu tarikan nafas itu, ada keputusan untuk mengorbankan diri. Saat seorang ibu melahirkan, ia berada di ambang risiko nyata: pendarahan, kolaps, tekanan darah menurun drastis, bahkan risiko kematian. 

Artinya, saat seorang ibu menarik napas menahan sakit persalinan, ia bukan hanya menanggung rasa sakit, tetapi juga menantang kemungkinan terburuk untuk memberi kehidupan kepada anaknya

Tentu tidak bisa terbayangkan betapa rasa sakit menyelimuti Ibu untuk bisa melahirkan setiap anaknya ke dunia. 

Allah SWT memberikan keistimewaan kepada setiap ibu. Salah satunya adalah hadirnya perintah berbakti kepada ibu yang harus didahulukan dari pada kepada ayah, bahkan perintah tersebut diulang hingga tiga kali.

pengorbanan seorang ibu begitu besar dan begitu melekat dalam kehidupan seorang anak, hingga ukuran apa pun yang kita lakukan untuk membalasnya pasti tidak setara.

Bahkan Satu tarikan nafas saat melahirkan kita sungguh sulit dibalas apalagi jasa beliau yang lainnya. Dari Abu Hurairah dari “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

لاَ يَجْزِى وَلَدٌ وَالِدًا إِلاَّ أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ

“Seorang anak tidak dapat membalas budi kedua orang tuanya kecuali jika dia menemukannya dalam keadaan diperbudak, lalu dia membelinya kemudian membebaskannya.” (HR. Muslim no. 1510)

Saat akhirnya kita bisa menggandeng tangan ibu ke baitullah, maka itu hanyalah wujud bakti terbaik, bukan sebagai pengganti atas jasa yang telah ibu lakukan untuk kita anaknya. Sebab jasa ibu tidak akan pernah bisa ditakar dengan pengukur apapun.

Dalam sebuah hadits Dari Abi Burdah, ia melihat melihat Ibnu Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang itu bersenandung, “Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.” Orang itu lalu berkata, “Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, walaupun setarik nafas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” Beliau lalu thawaf dan shalat dua raka’at pada maqam Ibrahim lalu berkata, “Wahai Ibnu Abi Musa (Abu Burdah), sesungguhnya setiap dua raka’at akan menghapuskan berbagai dosa yang diperbuat sesudahnya.”(HR. Bukhari)

Dari hadits tersebut kita mengetahui bahwa satu tarikan nafas saat melahirkan kita saja tidak bisa kita balas. Terlebih berbagai pengorbanan dan kasih sayang yang ibu berikan untuk setiap anaknya, tidak akan pernah bisa membalas bahkan sedikitpun. 

Maka, sudah menjadi kewajiban kita sebagai anak untuk berbakti kepada ibu kita. Memberikan yang terbaik serta membahagiakannya dengan apapun yang disukai Allah SWT.

Ajaklah ibu kita ke baitullah, gandeng tangannya, mintakan ridhonya agar keridhoan Allah bisa didapatkan, dan muliakan ibu dengan cara yang paling terbaik. Selanjutnya tunggulah bagaimana Allah SWT memberikan balasan terbaiknya untuk anak yang hidupnya mengabdikan diri kepada Ibunya dengan baik. 

Semoga Allah SWT mempermudah kita untuk memberikan bakti terbaik, rezeki terbaik agar bisa membahagiakan ibu kita bukan hanya di dunia melainkan sampai ke akhirat kelak. Aamiin 

Kreator : Kakang Agung Gumelar 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *