Mengenal Hilirisasi Pada Sektor Pertanian Sebuah Langkah Membangun Ekonomi dan Kesejahteraan

Belakangan,  istilah hilirisasi semakin sering disebutkan. Istilah ini bukan sekedar jargon melainkan sebuah arah strategis untuk memperkuat ekonomi nasional. Berbagai bidang dan sektor turut serta menjadi bagian yang diupayakan dalam proses hilirisasi ini, termasuk pada sektor pertanian. 

Sebelum membahas hilirisasi pada sektor pertanian, kita terlebih dahulu harus memahami dari dasar apa itu hilirisasi ?

Merujuk pada KBBI, hilirisasi adalah penghiliran atau mengolah bahan baku menjadi barang siap pakai.

Sedangkan menurut Hadinata dan marianti dalam Jurnal  Analisis Dampak Hilirisasi Industri Kakao di Indonesia (2020) Hilirisasi merupakan proses perubahan dari industri yang memproduksi bahan baku menjadi industri yang memproduksi barang siap pakai, dengan demikian, hilirisasi industri dimaksudkan untuk memperoleh nilai tambah atas produk bahan mentah.

Jika kita lihat dari dasar katanya, Hilirisasi berasal dari kata “hilir”, atau bagian akhir dari suatu proses. Sedangkan bagian awalnya disebut hulu. 

Dalam konteks pertanian, Hilirisasi pada sektor pertanian berarti mengubah pola lama yang hanya berfokus pada produksi bahan mentah menjadi sistem pertanian yang terintegrasi dengan industri pengolahan dan distribusi bernilai tambah tinggi.

Hilirisasi  ini mencakup upaya mengembangkan rantai pasok dari hulu (produksi bahan mentah seperti padi, jagung, kopi, atau sayuran) hingga ke hilir (produk olahan, kemasan, pemasaran, dan ekspor). 

Tujuannya adalah agar petani tidak hanya menjual hasil panen dalam bentuk mentah, tetapi mampu menghasilkan produk siap konsumsi atau siap jual dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Selama ini kita ketahui bahwa petani telah bekerja keras merawat dan menanam berbagai komoditas,  namun seringnya mereka tidak menikmati hasil yang layak. Khususnya karena harga jual yang rendah yang bahkan tidak bisa mengembalikan modal yang digunakan selama bertani. 

Padahal Indonesia dikenal sebagai negara agraris, dengan sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Namun, selama ini hanya mengandalkan bahan mentah untuk dijual. Padahal, nilai jual produk pertanian bisa meningkat hingga puluhan kali lipat setelah melalui proses pengolahan. Bahan komoditas pertanian yang dijual  bahkan di ekspor keluar negeri dengan harga yang murah, kemudian negara lain mengolahnya menjadi produk siap pakai dengan harga yang tinggi dan akhirnya Indonesia kembali menjadi negara yang menikmati barang tersebut dengan harga yang harus dikeluarkan lebih tinggi.

Lewat hilirisasi inilah diharapkan Indonesia tidak hanya menjadi negara yang mengekspor bahan mentah, tapi barang yang dikirim ke luar negeri merupakan barang turunan dengan nilai jual yang lebih tinggi.

Sebagai contoh, petani kopi tidak hanya menjual biji kopi yang mentah, tetapi juga mengolahnya menjadi bubuk kopi kemasan atau minuman instan. Dengan demikian, nilai tambah yang dihasilkan tidak hanya dinikmati oleh pihak industri besar, tetapi juga langsung dirasakan oleh petani dan pelaku usaha kecil yang mengembangkannya.

Contoh lain dari proses hilirisasi adalah komoditas kelapa yang berlimpah ruah di Indonesia. Jika selama ini kelapa dijual dalam bentuk mentah dengan harga yang rendah, maka melalui hilirisasi kelapa bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti coconut milk, Virgin Coconut Oil (VCO), hingga produk kecantikan dan kesehatan yang tentunya harganya semakin meningkat.

Hal serupa juga  bisa diikuti oleh komoditas-komoditas lain, seperti tomat dijadikan saus tomat kemasan, kakaos menjadi olahan coklat, hingga singkong yang bisa dijadikan tepung mocaf atau makanan ringan. 

Dengan demikian sektor pertanian tidak lagi sekadar menjadi penyedia bahan baku, tetapi membawa dampak yang luas baik secara ekonomi maupun sosial. 

Mulai dari meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani. Dimana petani bisa melakukan kontrak dengan pihak pengembang produk untuk kepastian ketersediaan produk dan harga, sehingga harga bisa lebih stabil karena petani tidak lagi kebingungan menjual hasil pertaniannya. 

Selain itu dari hilirisasi ini bisa menjadi penggerak ekonomi yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Karena komoditas tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, maka akan banyak pengembang-pemngembang olahan yang akhirnya bisa menyerap banyak orang untuk bekerja. 

Manfaat lain dari hilirisasi adalah semakin memperkuat UMKM yang ada di masyarakat. Dengan peningkatan pengolahan bahan, maka UMKM akan semakin meningkat dan menguat. Akan ada lebih banyak UMKM bersaing untuk menciptakan produk unggulan yang bisa dipasarkan hingga bisa meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.

Hilirisasi pada sektor pertanian bukan hanya tentang industrialisasi hasil tani, tetapi juga bagaimana mengupayakan kemandirian bangsa untuk mengelola hasil buminya sendiri. Dengan kemandirian ini, masyarakat bisa menikmati keberlimpahan yang ada di tanahnya sendiri juga mendapatkan nilai tambah besar karena memasarkan produk dengan nilai jual yang tinggi sehingga bisa menopang kemajuan ekonomi secara nasional.

Tentu proses ini tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak melainkan harus berdasarkan pada keterlibatan dan dukungan dari banyak pihak. Baik dari bidang teknologi, kebijakan pemerintah, kesadaran petani, kemampuan berinovasi para pengembang dan UMKM sehingga tujuan hilirisasi ini bisa tercapai.  

Kreator : Kakang Agung Gumelar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *