Umrah bukan sekadar perjalanan ibadah, tetapi perjalanan hati yang membawa seorang hamba menuju kedekatan paling indah dengan Rabbnya.
Di antara jutaan langkah kaki yang menapak di tanah suci, ada doa-doa yang terangkat ke langit, menembus hijab antara bumi dan Arsy, disambut oleh kasih sayang Allah yang tak terbatas.
Maka, saat melaksanakan umroh berdoalah sebanyak mungkin. Sebab, waktu dan tempat mustajab di Tanah Suci adalah jamuan paling spesial yang Allah sediakan untuk para tamu-Nya.
Kita tahu bahwa tidak semua orang mendapat kesempatan untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci. Banyak yang memiliki harta melimpah, tapi belum juga berangkat. Ada pula yang sederhana, namun Allah panggil lebih dulu. Kesempatan itu datang pada siapa saja yang Allah ridhoi untuk datang.
Ketika seseorang sampai di Makkah dan Madinah, ia sejatinya tengah menjadi tamu kehormatan di rumah Allah. Dalam jamuan itu, Allah tidak hanya memberi kesempatan untuk thawaf, sa’i, dan tahallul, tapi juga menyediakan momen paling berharga yakni waktu dan tempat mustajab untuk berdoa.
Doa bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah percakapan hati yang paling jujur antara makhluk yang lemah dengan Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam doa, seseorang menanggalkan segala topeng dunia, tidak ada keangkuhan, tidak ada kepura-puraan. Hanya ada kerendahan hati dan pengakuan bahwa segalanya berasal dari Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Doa adalah inti ibadah.” (HR. Tirmidzi)
Artinya, berdoa bukan aktivitas sampingan dalam ibadah, tetapi merupakan jantung dari ibadah itu sendiri. Maka, ketika umrah dijalankan dengan penuh keikhlasan, doa menjadi ruh yang menghidupkan setiap langkah, setiap putaran thawaf, dan setiap helaan napas di depan Ka’bah.
Allah SWT begitu senang ketika hamba-Nya merengek meminta kepada-Nya. Sangat berbeda dengan kita sebagai manusia yang seringnya merasa tak nyaman apabila ada yang terus meminta pertolonga. Allah SWT justru begitu senang mengabulkan doa-doa hamba-Nya. Ibnu Mas’ud berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Mintalah kepada Allah dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah sangat senang diminta.” (HR. Tirmidzi).
Banyak sekali jama’ah yang merasa kebingungungan perihal do’a apa lagi yang harus dipanjatkan saat di Mekkah dan Madinah. Ada juga yang lalai karena kelelahan atau karena teralihkan oleh hal-hal lain. Hingga tidak menggunakan dan memanfaatkan waktu yang tersedia untuk berdo’a lebih banyak. Padahal waktu dan tempat mustajab menjad jamuan istimewa yang Allah siapkan untuk setiap tamu-Nya.
Mintalah segalanya kepada Allah SWT. Dan yang paling utama mintalah pengampunan serta keridhoan-Nya, sebab ampunan dan keridhoan Allahlah yang sejatinya bisa membawa kita pada kebahagian di dunia hingga di akhirat kelak.
Berdoalah dengan penuh kelembutan. Jangan hanya meminta dunia, tapi mintalah agar hati tetap istiqomah, agar iman tetap hidup, agar keluarga tetap dalam ketaatan. Mintalah agar Allah menerima segala langkah-langkah yang diambil sebagai amal yang dicatat di sisi-Nya.
Karena sejatinya, umrah bukan tentang seberapa banyak tempat yang dikunjungi, tapi seberapa dalam hubungan yang terjalin antara hati dan Rabb semesta alam.
Setiap doa yang terucap, pasti Allah dengar. Kadang Ia kabulkan segera, kadang Ia simpan untuk waktu yang lebih baik, dan kadang Ia ganti dengan sesuatu yang jauh lebih mulia. Tidak ada doa yang sia-sia, terutama doa yang keluar dari hati yang tulus di Tanah Suci.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seorang Muslim berdoa kepada Allah dengan doa yang tidak mengandung dosa dan tidak memutuskan silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: Allah segera kabulkan doanya, Allah simpan sebagai pahala di akhirat, atau Allah palingkan darinya keburukan yang sepadan dengan doanya.” (HR. Ahmad)
Maka, jangan berhenti berdoa. Teruslah meminta, karena setiap doa adalah bentuk cinta dan pengakuan bahwa kita membutuhkan Allah setiap saat.
Kreator : Kakang Agung Gumelar