Tidak Akan Merugi Orang Yang Membelanjakan Hartanya Untuk Membahagiakan Orang Tuanya

Setiap anak adalah ciptaan Allah yang dititipkan kepada kedua orang tua sebagai kepanjangan tangan penjagaan-Nya. Melalui keduanya, kita mengenal banyak hal dan tidak sendirian dimuka bumi ini. 

Dalam prosesnya menjaga kita, seorang ibu didahului dengan perjuangan yang begitu luar biasa. Ia harus melewati masa kehamilan yang payah dan terus bertambah payah setiap bulannya selama 9 bulan. Kemudian ia harus bertarung nyawa untuk melahirkan kita kedunia. Kemudian dengan keikhlasan dan kesabaran, ibu akan menyusui, manahan rasa sakit dan lelah demi melihat kita sebagai buah hatinya tumbuh dan berkembang dengan baik.

Begitupun dengan seorang ayah, ia berjuang untuk memenuhi kebutuhan kita bahkan sejak dalam kandungan. Memastikan bisa membeli makanan, bisa diperiksa dna diberikan vitamin dan menyiapkan segala kebutuhan agar nyaman dan tidak berkekurangan. 

Kondisi ini membuat kita tidak boleh lupa, bahwa kedua orang tua adalah dua manusia yang telah berkorban untuk menjemput kita agar bisa sama-sama menjadi khalifah di muka bumi. 

Seiring berjalannya waktu saat kita sudah bisa lepas dari buaian kedua orang tua kita, maka sudah sepatutnya kita menjaga dan merawat mereka sebagai wujud bakti. Membahagiakan mereka dengan harta yang kita punya adalah salah satunya. Bahkan menafkahkan harta yang dimiliki kepada orang tua merupakan salah satu dari perintah Allah SWT. Dalam Al-Quran Allah SWT berfirman : 

Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: ‘Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaknya diberikan kepada kedua orang tua, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan’.” (QS. Al-Baqarah: 215)

Dalam ayat tersebut Allah SWT menyebutkan bahwa orang tua adalah bagian dari yang harus ita nafkahi. Terlebih saat kita sudah mampu mendapatkan harta sendiri.  Dalam pandangan manusia, mungkin mengeluarkan harta identik dengan berkurangnya kekayaan. Namun dalam pandangan Allah, harta yang dikeluarkan untuk tujuan mulia justru tidak berkurang sedikit pun. Rasulullah SAW bersabda:

“Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR. Muslim)

Apalagi jika sedekah itu diberikan kepada orang tua. Mereka adalah orang yang paling berhak menerima kebaikan kita, baik dalam bentuk kasih sayang, perhatian, maupun materi.

Ketika seorang anak membelikan makanan, pakaian, atau sekadar memberikan uang kepada orang tuanya dengan niat membahagiakan mereka, sesungguhnya kita sedang membuka pintu rezeki kita sendiri. Bahkan selain membuka pintu sendiri, apa yang kita belikan untuk kedua orang tua juga sejatinya sedang membuka pintu syurga 

Sebelum kita memiliki kemampuan membelanjakan harta untuk mereka, orang tua telah lebih dulu membelanjakan seluruh hartanya untuk kita. Ibu menabung dari hasil menjahit demi biaya sekolah anaknya. Ayah bekerja dari pagi hingga larut malam demi memastikan anaknya tidak kekurangan. Mereka tidak pernah menghitung, tidak pernah menuntut balasan. Maka ketika kita telah mampu, mengeluarkan sebagian harta untuk mereka bukanlah pengorbanan, melainkan upaya mengapresiasi lelah dan peluh mereka. Sebab sebanyak apapun kita memberi kita tidak pernah bisa membalas jasa keduanya.

Di dalam kitab Adabul Mufrad, diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Abdullah bin Umar r.a. dan berkata, “Wahai Ibnu Umar, aku telah memikul ibuku di atas pundakku sejauh seribu mil dalam ibadah haji. Apakah aku telah membalas jasanya?” Ibnu Umar menjawab, “Tidak. Bahkan tidak sebanding dengan satu kali engkau membuatnya kesakitan ketika melahirkanmu.”

Dalam mewujudkan bukti cinta itu, kita tidak selalu berbicara tentang jumlah, namun dari keikhlasan dan ketulusan hati. Tidak semua anak memiliki kemampuan finansial yang besar. Namun kebahagiaan orang tua tidak selalu diukur dari seberapa banyak uang yang kita berikan, melainkan dari seberapa ikhlas niat kita saat memberi.

Terkadang, secangkir teh hangat yang kita sajikan untuk ibu di pagi hari, atau sekotak buah yang kita belikan untuk ayah, bisa lebih membahagiakan daripada hadiah mahal. Karena yang membuat mereka bahagia bukanlah barangnya, tetapi perasaan bahwa anaknya masih peduli dan memikirkan mereka.

Tidak perlu menunggu nanti kalau sudah sukses,baru berbakti. Karena kebahagiaan orang tua tidak menunggu kesempurnaan dan tidak bisa dinantikan. Sebab takutnya saat kata sukses yang kita sebutkan itu datang, ibu dan bapak kita yang pergi, hingga bakti itu akhirnya tertinggal dan membekas menjadi penyesalan dan kerinduan. 

Kreator : Kakang Agung Gumelar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *