Tentu kita begitu paham, saat lahir ke dunia kita hanyalah manusia tanpa berpengetahuan. Kita lahir tanpa mengenakan pakaian, tanpa membawa perbekalan, tanpa membawa barang berharga, hanya diri dan perangkat yang telah Allah siapkan. Lalu, Allah kirimkan kita kepada kedua orang tua kita. Dua manusia yang kemudian akan menjadi kepanjangan tangan Allah dalam menjaga ciptaan-Nya.
Kita hanya menangis saat itu, untuk menyampaikan segala emosi. Saat lapar, saat tak nyaman, saat ingin tidur, dan semua yang kau rasakan hanya bisa diekspresikan dengan tangisan. Bukan kata-kata bermakna yang bisa dipahami dan dituruti.
Kemudian kita tumbuh, dengan peluh dan keringat kedua orang tua kita. Dengan sabar menemani perjalanan hidup kita, dari hanya tiduran, bisa membalikkan badan, bisa merangkak, berjalan hingga mengeluarkan kata-kata kecil untuk berkomunikasi.
Ada masa ketika setiap huruf terasa sulit untuk diucapkan. Ada masa ketika kita hanya bisa menunjuk atau menangis untuk mengungkapkan keinginan. Saat itulah ibu dan ayah dengan penuh cinta mendekatkan wajah mereka, menuntun kita mengeja satu per satu: “Ma… ma…”, “Pa… pa…”, “Air…”, “Makan…”.
Setiap kata pertama yang keluar dari mulut kita bukan hasil kecerdasan semata, tetapi buah dari kesabaran orang tua yang berulang-ulang mengajari, menirukan, bahkan menahan tawa saat kita salah mengucap. Mereka tidak pernah bosan. Tak peduli berapa kali kita keliru menyebutkan kata-kata, mereka akan kembali mengajari kita hingga pandai berbicara.
Namun, seiring berjalannya waktu, saat kita semakin pandai berbicara, banyak sekali yang menjadikan kata-katanya senjata untuk menyakiti orang tua. Mulai mendebat saat segalanya tak masuk akal, mulai memilih kata-kata tak bijak hingga menyakiti hati orang tuanya.
Para ahli psikologi menyebutkan bahwa luka emosional akibat kata-kata kasar bisa bertahan lebih lama daripada luka fisik. Dalam riset yang dilakukan oleh peneliti dari University of California, ditemukan bahwa otak manusia merespons kata-kata negatif dengan aktivasi di area yang sama dengan ketika seseorang merasakan sakit fisik. Artinya, kalimat yang menyakitkan secara harfiah bisa “menyakiti” otak seseorang.
Kata-kata seperti “Bapak nggak tahu apa-apa!”, “Ibu cerewet banget!”, atau “Udah deh, diam aja!” mungkin terdengar sepele, tapi bagi orang tua yang membesarkan kita sejak kecil, kalimat itu bisa menjadi pukulan yang amat menyakitkan. Mereka mungkin tidak membalas dengan marah. Kadang hanya diam, menunduk, atau pura-pura tidak mendengar. Tapi di dalam hatinya, luka itu mengendap, menyesakkan, dan hanya bisa mereka redam dalam sepi.
Padahal Allah SWT jelas melarang kita berucap kata “ah” sekalipun sebagai wujud ketidaksukaan terhadap keduanya.
Dalam Al-Qur’an surat Al-Isra : 23 Allah SWT berfirman :
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا}
Artinya: “Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
Ayat ini tidak hanya melarang kita untuk berkata kasar, tetapi bahkan melarang sekadar berkata “ah”—ungkapan kecil yang menunjukkan ketidaksabaran atau ketidaksukaan. Betapa halusnya adab yang Allah ajarkan terhadap orang tua, sebab kata-kata adalah jendela hati yang bisa memantulkan sejauh mana bakti seorang anak.
Kedudukan yang kita punya, ilmu yang kita miliki, teknologi yang kita kuasai meskipuns emuanya lebih tinggi dari kedua orang tua kita, semua itu tidak menjadikan kita boleh berlaku semena-mena bahkan menggunakan kata yang menyakiti hati. Seringkali rasa lelah, cape, jengkel menjadi tameng alasan kita berucap dengan nada sinus atau kata-kata tak perlu, padahal bagaimanapun kita harus berupaya menahan diri, mencerna dan memikirkan kata-kata sebelum berbicara.
Ingatlah setiap kali kita berbicara kepada orang tua, sesungguhnya kita sedang menulis “surat cinta” yang bisa menjadi pahala atau dosa. Maka, hiasi lisan kita dengan doa dan ucapan yang baik.
Kreator : Kakang Agung Gumelar