Jika ditimbang bagaimana beratnya perjuangan Raslullah SAW, saat harus berhijrah dari Makkah ke madinah dalam menjalankan perintah Allah serta jalan menegakkan agama Allah, maka tidak akan pernah ada timbangan yang sanggup menahannya.
Mungkin sebelumnya kita mengira bahwa Makkah dan Madinah adalah dua lokasi yang berdekatan tanpa jarak yang panjang. Namun saat waktu umrah atau haji tiba, kita barulah bisa lebih mengerti : ternyata jarak Makkah dan Madinah tidaklah dekat.
Kurang lebih 450 km jarak antara Makkah dan Madinah, dan saat ini bisa ditempuh dalam waktu 4 hingga 5 jam dengan menggunakan mobil. Sementara saat itu Rasulullah SAW bersama para sahabat harus berjalan kaki atau menggunakan unta sebagai kendaraan.
TIdak bisa dibayangkan, betapa beratnya perjalanan itu, ketika jarak itu harus ditempuh dengan berjalan kaki dalam waktu yang amat lama. Meninggalkan kampung tempat ia dilahirkan. Bukan saja harus menghadapi para penentangnya yang berkarakter keras, tetapi juga harus menghadapi keadaan alam yang tidak bersahabat, yaitu padang pasir dan bebatuan.
Dalam perjalanan hijrah itu, hanya langit malam yang gelap nan dingin yang mungkin menyelimuti Rasulullah bersama para sahabat. Tidak ada kasur yang empuk atau mantel hangat yang bisa membuat nyaman, hanya menunaikan hak tubuh untuk istirahat saja.
Belum lagi angin kencang dan panasnya udara disiang hari. Menemani langkah demi langkah Rasulullah yang saat itu perbekalannyapun terbatas. Semua beliau lalui dengan penuh kesabaran dan kelapangan hati.
Maka, jika kelak Allah ijinkan kita melewati jalan antara Mekkah dan Madinah itu, jangan hanya duduk berdiam diri. Ingatlah perjuangan Rasulullah. Bershalawatnya kepadanya, berjanjilah untuk lebih banyak mengingat dan mengikuti sunnahnya, sebab perjalanan yang tidak mudah itu harus Rasulullah tempuh untuk kita umatnya.
Berkat perjalanan hijrah itu, kini kita bisa menikmati perjalanan umroh dan ibadah dengan berbagai kemudahan dan fasilitas yang nyaman. Kita tidak perlu berjalan berhari-hari hanya untuk menuju Makkah atau Madinah. Kita bisa duduk dengan pendingin udara tanpa kepanasan. Maka jika kita masih tidak mau kembali kepada apa yang diwasiatkan Rasulullah, malulah diri kita.
Sebab sejatinya perjalanan umroh dan haji adalah perjalanan menapaki kembali jejak islam yang diperjuangkan oleh Rasulullah SAW. Bagaimana gigihnya manusia yang selalu merindukan kita sebagai saudaranya, meski belum pernah bertemu dengannya. Bagaimana kerasnya Rasulullah dihantam dan disakiti namun tidak pernah patah dan selalu percaya akan pertolongan Allah SWT.
Kreator : Kakang Agung Gumelar