Perasaan Yang tidak Bisa Dijelaskan Saat Datang & Pulang Dari Dua Kota Suci Nan Mulia

Banyak yang bilang, sekali saja datang maka rindunya berulang. Hal tersebut ternyata benar adanya. Setelah Allah ijinkan langkah kaki ini sampai di Tanah Suci, maka perpisahan saat harus kembali ke tanah air menjadi hal yang begitu menyesakkan. 

Ada sebuah perasaan yang tidak bisa dijelaskan saat pertama datang, pun saat kembali pulang. Ketika datang kaki ini sempat begitu kaku, malu rasanya berdiri di rumah Allah, memenuhi panggilan-Nya. Antara takjub, haru hingga merasa apakah pantas diri ini berdiri di pelataran Rumah-Nya, sedangkan dosa begitu berlumuran.

Pelan-pelan langkah kaki semakin berani, mengucap talbiyah, menangis haru menyaksikan kabah di depan mata. Inikah Ya Rabb, inikah yang kami selalu rindukan itu ? Inikah Kabah yang dibangun Nabi Adam dan Nabi Ibrahim Itu ? Inikah Kabah tempat Abdul Muthalib membawa bayi kecil Muhammad saat lahir ? Inikah tempat mustajab yang engkau siapkan untuk manusia hina seperti diri ini ? 

Semua pertanyaan dalam diri luruh, hilang bersama dengan larian kecil untuk mengelilingi kabah. Berdo’a, meminta ampun, bergerak mengikuti arus yang semuanya telah ditata dengan begitu sempurna. 

Kami menerima jamuan-Nya. Perjalan umroh yang begitu nikmat dirasakan. Berbagai do’a di panjatkan saat duduk berlama-lama memandang ka’bah dan menunaikan sholat di shaff paling depan didunia. 

Makkah tempat yang begitu agung, tempat segala luka seakan dibasuh, tempat segala resah dipeluk, tempat segala tanya terjawab tanpa kata, tempat yang mulia dan membuat siapapun yang berada disana memasrahkan segala urusan kepada Rabbul Ijjati.

Saat beranjak ke madinah, ketenangan muncul. Ia kota yang hidup dan menghidupkan gairah. Terasa sekali bagaimana persaudaraan disana begitu hangat, sehangat muhajirin dan anshar yang dipersaudarakan oleh Rasulullah SAW sewaktu hijrah. 

Masjidnya menjadi taman-taman yang wangi, terbayang di masjid Nabawi ini Rasulullah dudukmelingkar bersama para sahabat. Menyampaikan wahyu, membahas ilmu-ilmu, bersendau gurau, menentukan strategi perang, hingga sujud begitu lama sebagai bentuk syukurnya kepada Allah SWT. 

Disinilah islam memancarkan cahanya, menjadi tempat perjuangan yang tidak mudah, juga tempat Rasulullah membasuh lelahnya. Siapapun yang mengunjunginya akan sepakat bahwa Madinah adalah keindahan yang sahaja, tidak gemerlap namun setiap semburatnya menyusupi dada dengan penuh kebahagiaan. 

Saat perjalanan ini usai, sebab waktu telah memberikan alarm pengingat untuk pulang, rasa haru itu kembali datang. Seperti anak kecil yang merengek tak ingin pulang, ingin sekali rasanya masih berlama-lama. Mengerjakan sholat sunnah dan wajib tak berat, mengkhatamkan Al-Qur’an terasa begitu mudah, dan berbagai keadaan yang perlahan mulai dirindukan lagi. 

Ada hampa yang dirasakan ada juga rindu yang semakin menggebu, juga ada semangat yang kini menjalar, semoga Allah mampukan untuk kembali mengunjungi tanah suci berkali-kali hingga akhir hayat. 

Semoga perjalanan mengunjungi baitullah menjadikan kita hamba Allah yang semakin menghidupkan sunnah-sunnah dan ibadah. Semoga kita tetap menjaga perkataan, prasangka, menjaga hati dari kesombongan, riya dan merasa paling benar. Semoga kita tetap bersemangat disepertiga malam untuk sholat dan bermunajat sebagaimana malam-malam yang kita hidupkan disana. 

Sebab rumah Allah juga tersebar diseluruh muka bumi dan waktu mustajabnya Allah bagikan diseluruh waktunya, bukan hanya saat umroh atau hanya di Mekkah dan Madinah.

Kreator : Kakang Agung Gumelar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *