Berbaktilah Walau Lelah, Sebab Kewajiban Berbakti Tidak Berhenti Hanya Karena Keduanya Meninggalkan Bumi

Kewajiban berbakti kepada orang tua merupakan salah satu ajaran paling fundamental dalam Islam, bahkan dalam kehidupan moral manusia secara universal. 

Dalam banyak riwayat sahih, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa bakti kepada orang tua bukan hanya sekadar akhlak mulia, tetapi juga salah satu bentuk ibadah yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. 

Hal tersebut ditunjukkan dengan banyaknya ayat yang memerintahkan berbakti kepada orang tua setelah perintah untuk beriman kepada Allah SWT. Selain itu, dalam hadits Rasulullah SAW  yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, ketika Nabi ditanya tentang amal yang paling dicintai Allah, beliau menjawab: “Shalat pada waktunya.” Ketika ditanya lagi, beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Jawaban ini menegaskan bahwa posisi birrul walidain (berbuat baik kepada orang tua) berdampingan dengan salah satu ibadah ritual yang utama umat Islam yakni shalat. 

Hal ini tentu bukan tanpa makna. Islam ingin menunjukkan bahwa penghambaan kepada Allah tidak pernah bisa dipisahkan dari penghormatan kepada orang tua. Dengan kata lain, kualitas spiritual seorang hamba tercermin bukan hanya dari kesalehan ibadahnya, tetapi juga dari sikapnya terhadap ayah dan ibunya.

Konteks ini sangat penting dipahami, karena manusia lahir ke dunia bukan dalam ruang kosong nan sunyi. Kehadiran seorang anak adalah hasil dari perantara dua insan: ayah dan ibu. 

Keduanya menjadi salah satu bentuk nyata kasih sayang Allah dalam melanjutkan kehidupan manusia di muka bumi. Melalui rahim seorang ibu, seorang anak berjuang sembilan bulan. An dijelaskan bahwa selama kehamilan yang ada pada ibu hanya kepayahan dan kepayahan yang terus bertambah-tambah. Sementara seorang ayah mengorbankan tenaga, waktu, bahkan dirinya untuk memastikan anak yang lahir dapat tumbuh dengan aman dan cukup kebutuhan hidupnya. 

Kedua orang tua kita telah berjuang untuk menghidupi kita dan memastikan kita dalam keadaan terbaik. Meski beberapa kondisi tidak ideal, tapi percayalah semua itu hasil perjuangan ayah ibu kita yang tidak bisa dianggap remeh. Maka penekanan untuk berbakti juga menekankan agar manusia tidak lupa diri, tidak congkak terhadap asal-usulnya, dan tidak lalai dari kewajiban berterima kasih kepada Allah SWT dan juga kedua orang tuanya.

Hubungan antara anak dan orang tua merupakan fondasi paling dasar dari struktur keluarga. Bila hubungan ini rusak, maka rusak pula bangunan masyarakat. Sebaliknya, bila hubungan ini dijaga dengan penuh hormat, kasih sayang, dan pengabdian, maka terciptalah keluarga yang harmonis. 

Keluarga harmonis adalah miniatur masyarakat harmonis. Rasulullah ﷺ memahami betul bahwa keutuhan umat dan kekuatan bangsa berawal dari keluarga. Karena itu, beliau tidak sekadar memerintahkan umatnya untuk shalat, puasa, dan berzakat, tetapi juga menekankan berulang kali agar anak menghormati, melayani, dan mendoakan orang tuanya. 

Dengan demikian, hadis-hadis berbakti kepada orang tua bukan hanya berbicara tentang hubungan personal, tetapi juga mengandung visi peradaban yang lebih luas dan besar yakni membangun masyarakat yang sehat, kuat, dan penuh kasih.

Perintah berbakti ini hadir tanpa pemakluman. Meskipun seringkali kita merasa begitu lelah untuk berbakti bahkan terpikirkan untuk segera mengakhiri bakti, namun itu bukan pilihan baik. 

Bahkan perintah ini bukan hanya dalam kondisi normal ketika orang tua bersikap baik, melainkan juga dalam situasi yang mungkin berat. Seorang anak tetap diharuskan untuk berbuat baik kepada orang tuanya meskipun berbeda keyakinan, bahkan sekalipun orang tua tidak sejalan dengan jalan agama yang dipilih anak. 

Hal ini tercermin dari kisah sahabat Asma’ binti Abu Bakar, yang bertanya kepada Nabi tentang ibunya yang musyrik dan datang meminta bantuan. Nabi pun menjawab: “Sambunglah hubungan dengan ibumu.” Dari sini dapat dipahami bahwa bakti kepada orang tua adalah prinsip  yang melampaui sekat keyakinan dan perbedaan pandangan. Berbakti tidak boleh gugur hanya karena alasan perbedaan. 

Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa keridhaan Allah terletak pada keridhaan orang tua. Jika orang tua merasa diabaikan, disakiti, atau diperlakukan buruk, maka pintu keberkahan hidup pun bisa tertutup. Sebaliknya, siapa pun yang memuliakan orang tuanya, insyaAllah kehidupannya akan dimudahkan.

Inilah salah satu hikmah dari sabda Nabi ﷺ yang lain: “Celaka, celaka, celaka!” Para sahabat bertanya: “Siapa yang celaka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup, salah satu atau keduanya, namun ia tidak masuk surga.” 

Hadis ini seakan menjadi peringatan keras bahwa keberadaan orang tua adalah kesempatan emas untuk meraih ridha Allah, sehingga siapa yang menyia-nyiakannya, sungguh ia telah merugi.

Berbakti kepada orang tua bukan hanya soal memberi nafkah atau memenuhi kebutuhan material mereka, tetapi juga melibatkan sikap lembut, ucapan penuh hormat, doa yang tulus, serta kesediaan mendampingi di masa tua. 

Bahkan, menurut para ulama, berbakti tetap diwajibkan meskipun orang tua sudah wafat, yaitu dengan cara mendoakan mereka, melunasi hutang-hutang mereka, menyambung silaturahmi dengan kerabatnya, dan menjaga nama baiknya. Semua ini menunjukkan bahwa birrul walidain adalah amal sepanjang hayat, tidak berhenti hanya karena garis kehidupan berakhir.

Kesalehan ritual tidak akan berarti jika seorang hamba abai terhadap orang tua. Ia juga membangun pondasi moral masyarakat agar generasi tidak tercerabut dari akar kasih sayang. Dan pada akhirnya, ia menjadi cermin dari fitrah manusia: siapa pun yang lahir ke dunia ini pasti terikat hutang budi yang tak pernah bisa terbalaskan kepada ayah dan ibu. 

Semoga kita tidak pernah berhenti mengabdi dan berbakti walau dalam keadaan sulit sekalipun. Sebab berbakti merupakan kewajiban yang tidak akan terhenti bahkan saat keduanya telah meninggalkan bumi. Teruslah bersabar dan meminta pertolongan Allah agar dipermudah dan diberikan kekuatan untuk terus mengabdi dan mencapai pintu surga paling tengah itu.

Kreator : Kakang Agung Gumelar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *