Laju waktu tak pernah bisa kita hentikan. Meskipun mungkin jam di dinding berhenti berdetak, namun waktu tidak berkompromi, terus melaksanakan tugasnya untuk berputar dan melangkah kedepan. Dan yang sering sekali kita abaikan dari waktu adalah bahwa semakin waktu melaju, semakin kita tumbuh, maka usia orang tua kita juga semakin bertambah dan menua.
Sering kali kita terlalu sibuk baik dengan pendidikan, pekerjaan, dan ambisi pribadi, hingga lupa bahwa kesempatan berbakti kepada orang tua sedang berpacu dengan usia mereka. Semakin hari, waktu kita untuk berbuat baik kepada mereka semakin sempit.
Penuaan merupakan sebuah proses biologis yang akan dialami oleh manusia, termasuk oleh kita dan kedua orang tua kita.
Jika kita perhatikan kedua orang tua kita, kita akan melihat rambut yang dulu hitam kini mulai memutih, langkah yang dulu kokoh kini melemah, dan diwajahnya raut mudanya perlahan memudar.
Rata-rata harapan hidup orang Indonesia menurut BPS (2023) adalah 74,39 tahun. Jika orang tua kita sudah memasuki usia 60 tahun ke atas, itu berarti mereka telah berada di fase “emas” sekaligus “senja” yang penuh keterbatasan.
Dengan kata lain, setiap detik waktu kita bersama mereka sangat berharga, sebab kita tidak tahu berapa lama lagi kesempatan itu ada.
Al-Qur’an berulang kali menekankan perintah berbakti kepada orang tua. Dalam QS. Luqman:14, Allah berfirman:
“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah kembalimu.”
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Celakalah! Celakalah! Celakalah!” Para sahabat bertanya: “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang yang mendapati salah satu dari kedua orang tuanya atau keduanya dalam keadaan tua, lalu ia tidak masuk surga (karena tidak berbakti kepadanya).” (HR. Muslim)
Hadis ini menjadi peringatan keras bahwa kesempatan emas menuju surga bisa hilang jika kita lalai berbakti saat orang tua masih hidup, terutama ketika mereka sudah renta.
Kita tidak bisa menunda bakti hanya karena kita merasa belum hidup dengan layak. Kita tidak bisa menunda bakti kita hanya karena merasa belum ada pencapaian dalam diri yang bisa membanggakan. Sebab Menunda bakti kepada orang tua sama dengan mempertaruhkan kesempatan yang tidak akan terulang.
Berbakti tidak harus menunggu mapan atau kaya. Hal-hal kecil yang konsisten bisa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari justru bisa jadi lebih bermakna:
- Menyisihkan waktu untuk sekedar mengobrol dan mendengarkan ceritanya. Sebab yang dirindukan oleh orang tua terkadang adalah hanya kehadiran kita.
- Mengantar mereka ke rumah sakit, berbelanja, atau kemanapun yang mereka inginkan. Terlebih jika masih mampu, bisa mengajak mereka berjalan-jalan atau sekedar makan diluar.
- Memberi nafkah meski sedikit. Jika merasa malu dengan nominal yang sedikit kita bisa memberikan dengan berbagai cara, misalnya dengan membawa makanan yang disukai, membawa buah-buahan, membawa kue kecil yang bisa dinikmati, dan hal-hal sederhana lain.
- Mendoakan mereka setiap waktu. Doa adalah hal terbaik dan termudah yang bisa kita lakukan untuk berbakti. Kita bisa mendoakan kedua orang tua kita setiap selesai shalat, atau kapanpun. Do’a anak shalih akan membawa amalan yang mengalir kepada kedua orang tua meski kelak mereka tiada.
Waktu bersama orang tua adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda atau diganti. Semakin mereka menua, semakin sedikit kesempatan kita untuk berbakti. Ingatlah, baktimu berkejaran dengan usia mereka.
Berbakti bukan sekadar kewajiban, melainkan kehormatan dan ladang pahala. Jika kita mampu menghargai waktu bersama orang tua, Allah akan balas dengan keberkahan hidup, doa yang terkabul, dan pintu surga yang terbuka.
Maka jangan tunggu nanti, jangan tunggu sukses, jangan tunggu lapang. Karena kesempatan itu bisa hilang kapan saja. Waktu terbaik untuk membalas cinta dan pengorbanan mereka adalah sekarang juga.
Kreator : Kakang Agung Gumelar.