Jika bisa dikatakan, orang tua adalah hadiah yang Allah kirimkan bagi setiap anak. Sebuah bentuk kasih sayang yang Allah SWT kirimkan untuk menemani dan mendampingi setiap langkah setiap anak di bumi sebagai khalifah.
Bayangkan bagaimana seorang bayi yang masih lemah, tidak bisa melakukan apa-apa jika tak didampingi oleh seorang Ibu dan ayah yang akan merawatnya dengan sepenuh hati. Allah telah memilihkan orang tua untuk menemani tumbuh kembangnya.
Dalam perannya sebagai orang tua, ada banyak sekali kekeliruan yang mereka lakukan. Sebab tidak ada sekolah yang benar-benar mempersiapkan manusia untuk menjadi orang tua. Menjadi ayah dan ibu adalah perjalanan hidup yang penuh dengan cinta, pengorbanan, sekaligus tantangan.
Ketika seorang anak lahir, lahir pula peran baru bagi dua insan: seorang ayah dan seorang ibu. Namun seringkali, sebagai anak, kita lupa bahwa orang tua pun sama hanya “pemula” dalam menjalankan tugas besarnya. Kesalahan, keterbatasan, bahkan luka yang mereka tinggalkan bukan selalu lahir dari niat jahat, tetapi seringkali dari ketidaktahuan, keterbatasan pengalaman, atau kondisi hidup yang tidak ideal.
Bahkan jika orang tuamu memiliki anak kedua, ketiga dan seterusnya bukankah itu juga penglaman pertama mereka mengasuh anak keduanya, ketiganya dan seterusnya. Setiap anak adalah pengalaman baru yang mereka dapatkan. Jadi tidak ada istilah orang tua yang telah mahir, mereka turut berkembang, mereka juga turut tumbuh sebagaimana pertumbuhan anak-anaknya.
Pemakluman ini bukan berarti kita juga memaklumi apabila orang tua kita berbuat sesuatu yang melanggar syari’at. Seperti mengajak untuk bermaksiat, mendidik dengan kekerasan dan lain sebagainya. Namun pemakluman ini adalah upaya kita untuk menyelami kehidupan kedua orang tua kita hingga kita menyisakan ruang maaf untuk keduanya.
Mereka terlahir dari berbagai bekal masa kecil yang tidak semua kita ketahui. Banyak orang tua yang tidak bisa mengucapkan kata manis kepada anak, atau memberikan pelukan kepada anak karena sejak kecil ia dididik untuk kuat atau bekerja keras, sehingga terkadang kebingungan untuk menyampaikan perasaannya.
Banyak sekali kondisi-kondisi lain yang akhirnya memengaruhi caranya mendidik anak. Atau banyak orang tua yang memiliki pandangan baik buruk menurut caranya sendiri sebab keterbatasan yang ia miliki.
Dalam ajaran Islam, berbakti kepada orang tua menempati posisi tinggi setelah beribadah kepada Allah. Al-Qur’an (QS. Al-Isra: 23) menegaskan:
“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.”
Memaafkan orang tua bukan berarti menolak kenyataan pahit yang pernah kita alami, tetapi lebih pada usaha menyucikan hati agar hubungan keluarga tidak putus. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa memaafkan adalah kebaikan yang akan mendatangkan pahala besar, apalagi terhadap orang tua.
Dengan memaafkan, kita bukan hanya melepaskan beban masa lalu, tetapi juga membuka ruang untuk hubungan yang lebih hangat dan sehat. Lebih jauh lagi, kita memutus rantai luka antar generasi dan memberi contoh kasih sayang pada anak-anak kita kelak.
Pada akhirnya, memaafkan orang tua adalah bentuk kedewasaan spiritual dan emosional. Karena di balik segala keterbatasannya, mereka tetaplah sosok pertama yang mencintai kita dengan tulus sejak kita hadir di dunia.
Kreator : Kakang Agung Gumelar