Persiapan Fisik Untuk Umroh, Salah Satu Persiapan yang Sering diAbaikan Padahal Amat Penting

Berbagai persiapan saat kita hendak melaksanakan umroh maupun haji sudah dilakukan jauh-jauh hari, namun ada salah satu persiapan yang seringnya kita abaikan, yaitu mempersiapkan kesiapan fisik kita. 

Persiapan fisik merupakan satu hal yang penting, sebab ibadah umroh dan haji begitu syarat akan kebutuhan tubuh yang sehat, bugar dan kuat. Mulai dari thawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i bolak-balik dari Shafa ke Marwah, hingga aktivitas harian seperti berjalan kaki dari hotel menuju Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Semua ini membutuhkan kondisi fisik yang prima.

Sayangnya, banyak jamaah yang meremehkan aspek kesehatan dan persiapan fisik sebelum berangkat. Sehingga tidak sedikit jamaah yang mengalami kelelahan berlebihan, dehidrasi, bahkan sakit selama melaksanakan ibadah. Sehingga pelaksanaan ibadah bisa jadi tidak maksimal. Padahal umroh adalah saat yang tepat untuk mengoptimalkan amal shalih dan sarana mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah terbaik.

Prosesi umroh akan dimulai dengan thawaf, yakni mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Yang harus kita ketahui adalah setiap putaran rata-rata menempuh jarak sekitar 200 meter, sehingga total jarak yang ditempuh bisa mencapai lebih dari 1,4 km hanya dalam satu thawaf lengkap. 

Selama mengelilingi ka’bah dalam proses thawaf, disunnahkan untuk melakukan raml atau berlari kecil di tiga putaran pertama. Beberapa ulama menafsirkan bahwa raml disini dimaksudkan dengan berjalan cepat dengan memendekkan langkah dengan penuh. Hal tersebut dijelaskan dalam sebuah hadits : 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya datang ke Makkah dalam keadaan lemah oleh penyakit demam (khuma) Madinah. Lalu orang-orang musyrik Makkah berkata kepada sesama mereka, “Besok, akan datang ke sini suatu kaum yang lemah karena mereka diserang penyakit demam yang memayahkan.” Karena itu, mereka duduk di dekat Hijr memperhatikan kaum muslimin thawaf.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka supaya berlari-lari kecil (raml) tiga kali putaran dan berjalan biasa empat kali putaran antara dua sujud (sudut ka’bah) agar kaum musyrikin melihat ketangkasan mereka. Maka berkatalah kaum musyrikin kepada sesama mereka, “Inikah orang-orang yang kamu katakan lemah karena sakit panas, ternyata mereka lebih kuat dari golongan ini dan itu.” (HR. Muslim no. 1266)

Selain Thawaf, perjalanan sa’i juga membutuhkan fisik yang kuat. Sa’i adalah rangkaian ibadah dengan, berjalan cepat bolak-balik tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah, dengan total jarak sekitar 3,5 km. Itu artinya, seorang jamaah bisa berjalan sejauh 5–6 km hanya dalam satu kali umroh.

Ketika melaksanakan sa’i disunnahkan untuk berjalan cepat bukan berjalan santai. Terlebih jika kita memahami bahwa proses sa’i ini adalah sebuah bentuk perjuangan seorang ibu bernama Siti Hajar yang mencari air di tengah dahaga sembari memastikan keselamatan anaknya yang masih dalam buaian yakni Ismail. Jika kita menempatkan diri sebagai Siti Hajar, maka mustahil kita hanya akan berjalan santai, bayangkan bagaimana keselamatan anak kita diujung bukit sembari berikhtiar untuk memenuhi hajatnya ditengah gurun pasir yang gersang dan tandus itu.

Selain dua ibadah tadi, banyak sekali aktivitas ibadah selama umrah yang harus dilakukan dengan tubuh yang kuat dan bugar. Seperti berupaya melaksanakan shalat berjamaah lima waktu di Masjidil Haram yang sering kali mengharuskan jamaah berjalan cukup jauh dari hotel, shalat sunnah, serta antrian saat masuk atau keluar masjid. Belum lagi jika kondisi panas saat itu, maka fisik yang tidak kuat akan mudah ambruk dan lelah.

Semua ibadah tadi akan terasa berat jika fisik kita lemah, akhirnya kita tidak memaksimalkan kesempatan-kesempatan baik yang Allah siapkan untuk tamu undangan-Nya. 

Maka kita bisa mengoptimalkan untuk mempersiapkan diri jauh sebelum umrah dimulai. Biasakan untuk olahraga ringan, berjalan kaki hingga berlari untuk membuat badan terbiasa dan kuat. Selain itu juga mengkonsumsi lebih banyak makanan sehat agar tubuh dalam kondisi yang prima dan bugar. Kita juga bisa melatih diri untuk bangun malam, berlama-lama dengan Al-Qur’an, dzikir dan bermunajat agar nanti saat tiba di Makkah dan Madinah badan kita sudah terbiasa. 

Mulai dari sekarang masukan list kebugaran tubuh dalam persiapan umroh. Jadikan ini sebagai bentuk ikhtiar dalam mempersiapkan diri agar optimal menikmati jamuan yang Allah sajikan selama beribadah. Selain itu mukmin yang kuat adalah mukmin yang dicintai Allah SWT.

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim).

 Kreator : Kakang Agung Gumelar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *