Khadijah merupakan istri pertama Rasulullah SAW yang begitu dicintai dan memiliki tempat tersendiri di hati Rasulullah SAW. Tempat itu hadir bukan tanpa alasan, namun karena perannya yang begitu luar biasa baik dalam peran beliau sebagai istri saat Nabi Muhammad belum menjadi nabi hingga mengimani dan menemani masa-masa sulit dalam berdakwah.
Salah satu saksi perjuangan Sayyidah Khadijah binti Khuwailid RA adalah bebatuan dan terjalnya bebatuan Gua Hira di Jabal Nuur. Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah SAW untuk menyepi sejak usia muda, jauh sebelum wahyu dan perintah berdakwah turun.
Hal tersebut tentu bukan tanpa alasan, melainkan salah satu cara Allah menjaga Rasulullah SAW. Allah ingin menumbuhkan sifat sifat senang menyendiri agar terjaga dari maksiat dan kerusakan yang ada disekitar. Namun bukan berarti Rasulullah adalah orang yang anti sosial, sebab beliau dikenal sebagai Al-Amiin atau orang yang dapat dipercaya karena kemampuannya dalam berbisnis yang pasti berhubungan dengan manusia.
Salah satu tempat yang dituju oleh Rasulullah untuk mengasingkan diri dan bertahannus selama berhari-hari menjauh dari hiruk pikuk masyarakat jahiliyah adalah di gua hira.
Gua Hira berada di Jabal Nur, sekitar 3 kilometer dari Masjidil Haram, Mekkah. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 640 meter, dengan jalur pendakian yang terjal, penuh bebatuan, dan membutuhkan fisik yang kuat. Untuk sampai ke gua, seseorang harus menapaki sekitar 1200 anak tangga alami atau jalur bebatuan yang menanjak.
Di puncak gunung, terdapat sebuah gua kecil berukuran kira-kira 3,5 meter panjangnya dan hanya bisa menampung beberapa orang saja. Dari gua ini, pemandangan kota Mekkah terbentang, dengan Ka’bah sebagai pusatnya.
Selama bertahannus di Gua Hira, Khadijah selalu menjadi pendukung utama Rasulullah SAW. Bahkan dengan ketulusan hatinya, beliau mendaki jabal Nur dalam sepi untuk memberikan makanan kepada Raslullah SAW dan memastikan perbekalan Raslullah SAW cukup dan aman.
Perjalanan ini bukan perjalanan mudah, rintangan tingginya jabal Nur, bebatuan juga terkadang badai datang yang membuat perjuangan untuk menemui suaminya itu tidak selalu mudah. Hal tersebut menjadi wujud bakti Khadjiah kepada suaminya yakni Raslullah SAW. Padahal sebelumnya ia bak tuan putri yang hidup dikelilingi harta kekayaan dan pelayanan yang siap membawa dan berbuat apapun yang diinginkan tuannya.
Siti Khadijah lahir dari keluarga bangsawan Quraisy yang terpandang dan memiliki kekayaan melimpah. Sejak muda, beliau dikenal sebagai pedagang sukses dengan julukan Ath-Thahirah (perempuan suci). Kedermawanannya sangat masyhur, bahkan sebelum menikah dengan Muhammad SAW.
Kemudian di usia Khadijah yang saat itu 40 Tahun, Rasulullah SAW mempersunting Khadijah. Seorang laki-laki yang dikenal dengan akhlaknya yang mulia. Dari sanalah pundi-pundi bakti Khaddijah kepada Rasulullah dimulai.
Ia mengabdikan diri dan hidupnya untuk Rasulullah SAW. Memastikan suaminya dalam keadaan yang baik bahkan saat sebelum menjadi Nabi.
Pada usia 40 tahun, Muhammad SAW kerap menyendiri di Gua Hira. Hingga akhirnya, di bulan Ramadhan tahun 610 M, malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama, yaitu QS. Al-‘Alaq ayat 1–5. Peristiwa ini mengguncang hati Rasulullah SAW, hingga beliau pulang dengan tubuh menggigil dan hati gemetar.
Namun, siapa sosok pertama yang menenangkan, menyelimuti, dan meyakinkan beliau bahwa itu adalah kebenaran dari Allah? Tidak lain adalah Siti Khadijah. Beliau tidak hanya menenangkan, tetapi juga menguatkan dengan keyakinan penuh bahwa suaminya tidak mungkin didustakan oleh Allah.
Ketika Rasulullah SAW pulang dari Gua Hira dalam keadaan ketakutan, Khadijahlah yang menjadi penopang pertama. Ia berkata dengan penuh keyakinan:
“Demi Allah, Dia tidak akan merendahkanmu. Engkau adalah orang yang suka menyambung silaturahmi, menolong orang lemah, memberi makan kepada orang miskin, memuliakan tamu, dan menolong orang yang tertimpa kesulitan.”
Ucapan ini bukan hanya kata-kata penghibur, melainkan pernyataan iman yang lahir dari kejernihan hati. Dari sinilah, Khadijah menjadi orang pertama yang beriman kepada kerasulan Muhammad SAW.
Beliau terus mengabdikan diri membantu perjuangan Rasulullah SAW hingga seluruh kekayaan Khadijah diberikan untuk perjuangan dakwah. Ketika kaum muslimin diboikot di Syi’b Abu Thalib selama 3 tahun, Khadijah ikut merasakan kelaparan, haus, dan penderitaan. Padahal, beliau berasal dari keluarga kaya raya.
Tidak heran, tahun wafatnya Khadijah disebut ‘Amul Huzn (Tahun Kesedihan), karena Rasulullah SAW kehilangan penopang terbesar dalam hidupnya.
Bagi muslimah yang berkesempatan untuk Allah undang ke baitullah, luangkanlah waktu untuk menuju Gua Hira. Menapaki jalan terjal dengan bebatuan dan anak tangga yang tidak sedikit sebagai bentuk napak tilas perjuangan Khadijah untuk suaminya yang tidak lain adalah Rasulullah SAW.
Seorang istri merupakan pilar yang bisa memperkokoh perjuangan suami. Dengan kelembutan yang dimiliki digabungkan dengan ketegaran yang bisa membuat perempuan menjadi simbol kekuatan. Bagaimana perempuan bisa memiliki peran besar dalam kehidupan suami hingga dalam urusan dakwah.
Maka, Mendaki Gua Hira bukan sekadar perjalanan fisik yang penuh peluh, melainkan juga perjalanan spiritual. Bagi muslimah, perjalanan ini bisa menjadi momentum untuk mengingat betapa luar biasanya pengorbanan seorang perempuan bernama Khadijah, yang rela menopang perjuangan Rasulullah SAW di masa-masa sulit.Gua Hira adalah saksi awal turunnya wahyu, tetapi di balik itu ada sosok Khadijah yang tak kalah pentingnya. Mendaki Gua Hira bisa menjadi cara bagi muslimah untuk merenungi betapa besar pengorbanan seorang perempuan dalam sejarah Islam.
Sayyidah Khadijah adalah teladan sepanjang masa: mandiri, setia, tangguh, dermawan, dan penuh iman.
Maka wahai muslimah, jika Allah memberi kesempatan menjejakkan kaki di tanah suci, dakilah Gua Hira. Bukan sekadar untuk melihat pemandangan indah Mekkah dari ketinggian, tetapi untuk mengingat: bagaimana perjuangan Khadijah menopang Rasulullah, dan bagaimana kita bisa meneladani beliau dalam kehidupan masa kini.
Kreator : Kakang Agung Gumelar