Mengenal Konsep Breeding Center Dalam Proses Perkawinan Domba Garut

Domba Garut merupakan salah satu kekayaan genetik ternak Indonesia yang memiliki nilai ekonomi, budaya, dan sosial tinggi. Selain dikenal sebagai hewan aduan dalam seni ketangkasan domba Garut, ternak ini juga memiliki potensi besar sebagai penghasil daging, kulit, dan bahkan pupuk organik dari kotorannya. 

Salah satu pilar penting dalam beternak adalah pembibitan atau pengembangbiakkan. Hal tersebut berguna untuk menjaga kualitas dan kuantitas populasi sehingga bisa menghasilkan keturunan yang berkualitas baik dari segi kesehatan maupun ukuran tubuhnya. 

Breeding sendiri bisa diartikan sebagai sebuah proses perkembangbiakan hewan ternak yang dilakukan secara alami maupun dengan bantuan manusia. Breeding ini memiliki tujuan untuk bisa menghasilkan keturunan dengan kualitas yang lebih baik, seperti peningkatan produksi, kesehatan, atau karakteristik lainnya, serta untuk menjaga kemurnian galur atau rasnya.

Pada domba Garut, sistem breeding memiliki peran krusial, sebab bukan hanya aspek produktivitas yang diperhatikan, tetapi juga harus memperhatikan morfologi seperti bentuk kepala, tanduk, postur tubuh, dan sifat temperamen yang menjadi ciri khas dari domba Garut.

Dalam proses ini pemilihan induk menjadi hal yang utama. Dalam pelaksanaannya harus memilih indukan jantan dan betina yang memiliki karakteristik genetik terbaik. Hal ini dikarenakan induk yang baik akan mempengaruhi kualitas keturunan yang dihasilkan. Jika induknya baik maka keturunan yang dihasilkan akan baik juga. 

Dalam proses breeding ini juga bisa melakukan penyilangan dari beberapa jenis, hal tersebut tentu disesuaikan dengan tujuan pengembangbiakannya.  ada yang melakukan persilangan 2 jenis, bahkan ada yang melakukan persilangan jenis ketiga dari hasil persilangan 2 jenis tadi.

Namun untuk beberapa peternakan, bahkan ada yang tidak menerapkan sistem persilangan, khususnya untuk domba Garut. Hal tersebut dikarenakan keinginan untuk mempertahankan trah murni 100% yang benar-benar asli Garut tanpa adanya campuran dari trah domba lain. Hal tersebut berkaitan dengan kualitas domba garut yang tidak perlu diragukan juga karakteristiknya yang khas, baik dari segi tampilan maupun kualitas daging.

Dalam proses Breeding Domba Garut, salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan 1 ekor jantan dengan 10 ekor Domba Garut Betina yang sudah siap kawin. Domba jantan siap kawin di usia 12–14 bulan. Sedangkan Domba betina biasanya mulai birahi saat usia 8–10 bulan, dengan siklus birahi  setiap 17–21 hari, dan durasinya hanya sekitar 24–36 jam.

Secara umum, peternakan akan menyimpan indukan berkualitas tersebut. Sehingga yang mereka kembangkan hingga jual adalah anakan hasil keturunan indukan. Proses ini membutuhkan kesabaran yang ekstra juga ketelatenan dalam mengurusnya. 

Tugas kita tidak berhenti sampai masa kawin selesai. Kita juga harus memperhatikan banyak hal setelah proses perkawinan terjadi. Hal tersebut tentu bertujuan agar dapat terus memantau dan memastikan kualitas keturunan yang akan dihasilkan adalah yang dalam kondisi yang baik.

Salah satunya adalah dengan mendeteksi kebuntingan pada domba betina sekitar 40–60 hari setelah kawin. Ada berbagai cara untuk mendeteksi bisa dengan mengobservasi secara langsung perilaku dombanya, dengan meraba bagian perut domba jika kita sudah telaten dan mendapatkan pelatihan khusus maupun dengan melakukan USG bersama dengan tenaga ahli.

Dengan melakukan breeding yang terencana dan tepat, maka bisa meningkatkan produktivitas ternak sekaligus menjaga keberlanjutan populasinya. Selain itu, breeding juga memungkinkan peternak untuk menghasilkan varietas baru yang bisa disesuaikan dengan permintaan pasar. 

Kreator : Kakang Agung Gumelar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *