Tidak hanya tanah, Inilah Media Tanam Organik yang Bisa Digunakan Untuk Tanaman

Ketika kita berbicara tentang pertanian, mungkin kita akan mengingat tanah dan lahan yang luas sebagai modal utama yang harus dimiliki. Tidak salah, tanah menjadi media tanam yang dikenal sejak berabad-abad lalu. Bukan hanya sebagai tempat berpijak, tetapi tanah juga menyediakan unsur hara, air, serta ruang bagi akar untuk berkembang. 

Namun, seiring meningkatnya kebutuhan pangan, terbatasnya lahan pertanian, serta perkembangan teknologi pertanian modern, muncul pertanyaan: apakah menanam tanaman hanya bisa dilakukan di tanah?

Pertanyaan tersebut dijawab melalui berbagai eksperimen dan percobaan baik yang dilakukan oleh berbagai kalangan mulai dari para ahli hingga petani yang menemukan bahwa media tanam tidak hanya terbatas pada tanah. 

Yang dimaksud dengan media tanam adalah kumpulan bahan atau substrat tempat tumbuhnya benih yang disebarkan atau ditanam. Media tanam harus memiliki kandungan-kandungan yang mampu menunjang kebutuhan tanaman. 

Beberapa syarat yang dimiliki oleh media tanam yaitu : 

  1. Cukup baik dalam mengikat air dalam media.
  2. Bersifat porous sehingga air siraman tidak menggenang (becek).
  3. Tidak bersifat racun (toksik) bagi tanaman, 
  4. Cukup mengandung unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman.
  5. Mudah diperoleh, murah, serta tidak merusak lingkungan.

Media tanam dengan kategori bahan organik biasanya berasal dari komponen organisme hidup, misalnya bagian dari tanaman seperti daun, batang, bunga, buah, atau kulit kayu. 

Penggunaan bahan organik sebagai media tanam jauh lebih unggul dibandingkan dengan bahan anorganik. Hal itu dikarenakan bahan organik sudah mampu menyediakan unsur-unsur hara bagi tanaman.

Lalu, apa saja media tanam organik yang bisa digunakan untuk menumbuhkan tanaman selain tanah ? Berikut akan dijabarkan alternatif media tanam selain tanah yang bisa dimanfaatkan untuk mulai bertani.

1. Media Tanam Arang

Media tanam arang bisa berasal dari kayu atau batok kelapa. Media tanam ini sangat cocok digunakan untuk tanaman anggrek di daerah dengan kelembaban tinggi.

Keunikan yang dimiliki arang adalah sifatnya yang menjadi penyangga, sehingga jika terjadi kekeliruan dalam  pemberian unsur hara yang terkandung di dalam pupuk bisa segera dinetralisir dan diadaptasikan.  Kelebihan lain yang dimiliki arang adalah tidak mudah lapuk sehingga tidak banyak memicu tumbuhnya jamur yang bisa merugikan tanaman. 

Namun, kekurangan dari arang adalah miskin akan unsur hara. Oleh karena itu, ke dalam media arang perlu disuplai unsur hara lain berupa aplikasi pemupukan.

2. Media Tanam Batang Pakis

Batang pakis hitam biasanya digunakan untuk menjadi media tanam. Batang pakis hitam berasal dari tanaman pakis yang sudah tua sehingga lebih kering. Selain itu, batang pakis ini mudah dibentuk menjadi potongan kecil dan dikenal sebagai cacahan pakis. Biasanya media tanam ini digunakan untuk tanaman hias Jenis tanaman seperti anthurium dan anggrek relatif sangat cocok ditanam pada media akar pakis.

Karakteristik yang menjadi keunggulan media batang pakis lebih dikarenakan sifat-sifatnya yang mudah mengikat air, memiliki aerasi dan drainase yang baik, serta bertekstur lunak sehingga mudah ditembus oleh akar tanaman.

Kelemahan dari lempengan batang pakis ini adalah sering dihuni oleh semut atau binatang-binatang kecil lainnya.

3. Media Tanam Kompos

Kompos merupakan media tanam organik yang bahan dasarnya berasal dari proses fermentasi tanaman atau limbah organik, seperti jerami, sekam, daun, rumput, dan sampah. 

Kelebihan dari penggunaan kompos sebagai media tanam adalah sifatnya yang mampu mengembalikan kesuburan tanah melalui perbaikan sifat-sifat tanah. Kompos yang baik untuk digunakan sebagai media tanam yaitu yang telah mengalami pelapukan secara sempurna, ditandai dengan perubahan warna dari bahan pembentuknya (hitam kecoklatan), tidak berbau, memiliki kadar air yang rendah, dan memiliki suhu ruang.

4. Media Tanam Moss

Moss yang dijadikan sebagai media tanam berasal dari akar paku-pakuan, atau kadaka yang banyak dijumpai di hutan-hutan.  Karakteristik yang dimiliki Moss adalah mempunyai banyak rongga sehingga memungkinkan akar tanaman tumbuh dan berkembang dengan leluasa. Selain itu media moss mampu mengikat air dengan baik serta memiliki sistem drainase dan aerasi yang lancar.

Moss biasanya digunakan selama proses untuk masa penyemaian sampai dengan masa pembungaan. Agar semakin optimal Moss bisa dikombinasikan dengan media tanam organik lainnya, seperti kulit kayu, tanah gambut, atau daun-daunan kering.

5. Media Tanam Sabut Kelapa

Sabut kelapa atau coco peat merupakan salah satu media tanam yang dihasilkan dari limbah dari industri. Sabut kelapa untuk media tanam sebaiknya berasal dari buah kelapa tua karena memiliki serat yang kuat sehingga mampu mengikat dan menyimpan air dengan kuat.

Penggunaan sabut kelapa cocok digunakan di daerah panas atau memiliki curah hujan yang rendah agar bisa menjadi media tanam yang optimal. Sebab kelebihan air bisa membuat sabut kelapa cepat lapuk dan busuk. 

Salah satu perawatan yang harus dilakukan terhadap sabut kelapa untuk mengatasi pembusukan yaitu dengan merendamnya terlebih dahulu dalam larutan fungisida. 

6. Media Tanam Pupuk Kandang

Pupuk kandang atau pupuk organik merupakan media tanam yang berasal dari kotoran hewan. Pupuk kandang memiliki unsur-unsur penting dan lengkap yang dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman. unsur -unsur tersebut seperti natrium (N), fosfor (P), dan kalium (K). 

Pupuk kandang terbagi menjadi beberapa jenis, di antaranya kotoran ayam, kotoran sapi, kotoran kambing, kotoran kuda dan kotoran ternak lainnya.

Pupuk kandang yang akan digunakan sebagai media tanam tentu harus yang sudah matang dan steril dengan tujuan agar mencegah munculnya bakteri atau cendawan yang dapat merusak tanaman. Contoh pupuk kandaga yang sudah matang dan steril dapat dilihat dari warnanya yang hitam pekat. 

7. Media Tanam Sekam Padi

Sekam padi adalah kulit biji padi yang sudah digiling. Karakteristik yang dimiliki sekam padi antara lain ringan, memiliki drainase dan aerasi yang baik, tidak mempengaruhi pH, ada ketersediaan hara atau larutan garam namun mempunyai kapasitas penyerapan air dan hara rendah dan harganya murah. 

Sekam padi yang biasa digunakan bisa berupa sekam bakar (arang sekam) atau sekam mentah (tidak dibakar).  Penggunaan sekar bakar sebagai media tanah tidak harus melalui proses sterilisasi. Karena mikroba patogennya sudah mati selama pembakaran. Namun, sekam bakar padi ini cenderung mudah lapuk.

Sedangkan sekam bakar mentah memiliki sifat mudah mengikat air, tidak mudah lapuk, merupakan sumber kalium (K) yang dibutuhkan tanaman, dan tidak mudah menggumpal atau memadat sehingga akar tanaman dapat tumbuh dengan sempurna. Namun, sekam padi mentah cenderung miskin akan unsur hara.

8. Media Tanam Humus.

Humus adalah segala macam hasil pelapukan bahan organik oleh jasad mikro. Media tanam ini sangat mudah ditemukan karena biasanya berada di lapisan atas tanah. Dihasilkan dari jaringan asli tumbuh-tumbuhan atau binatang mati yang belum lapuk.

Humus biasanya bisa ditemukan pada tanah yang gembur dan memiliki warna gelap. Humus sangat membantu dalam proses penggemburan tanah dan memiliki kemampuan daya tukar ion yang tinggi sehingga bisa menyimpan unsur hara yang bisa menunjang kesuburan tanah. 

Salah satu kekurangan dari humus adalah ketika terjadi perbahan suhu, kelembapan dan aerasi yang ekstrim humus mudah ditumbuhi jamur. Selain itu humus juga tidak mampu menyerap air. Dengan demikian, sebaiknya penggunaan humus sebagai media tanam perlu ditambahkan media lain yang memiliki porositas tinggi, misalnya tanah dan pasir.

Demikian media tanam organik yang dapat digunakan sebagai alternatif pilihan. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita. 

Kreator : Kakang Agung Gumelar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *