Dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas tentang perintah berbakti kepada kedua orang tua banyaknya disimpan setelah perintah beribadah kepada AllaH SWT. Tentu hal tersebut menunjukkan suatu keistimewaan dalam perintah berbakti ini.
Beberapa ayat Al-Qur’an berulang kali menempatkan perintah berbakti kepada orang tua setelah perintah menyembah Allah. Misalnya:
- QS. Al-Isra’ [17]:23
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.”
- QS. Luqman [31]:14
“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku kembalimu.”
- QS. An-Nisa’ [4]:36
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…”
- QS. Al-Baqarah [2]:83
“(Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Selain itu, bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat, dan tunaikanlah zakat.” Akan tetapi, kamu berpaling (mengingkarinya), kecuali sebagian kecil darimu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.”
Ayat-ayat tersebut menunjukkan sebuah pola yang konsisten yakni ketauhidan (mengesakan Allah) selalu diikuti perintah ihsan (berbuat baik) kepada orang tua.
Muhammad Abduh dalam tafsir Al-Manar menjelaskan salah satu tafsir mengenai perintah ayat berbakti yakni dalam Q.S Al-Baqarah ayat 83. Menurutnya, penyandingan perintah tidak boleh menseketukukan Allah dengan berbakti kepada orang tua berkaitan dengan bagaimana perjuangan orang tua dalam mendidik, membesarkan, merawat hingga membantu dalam segala kebutuhan anak sampai ia tumbuh dewasa dan mandiri.
Ayah adalah seorang tulang punggung keluarga yang setiap harinya berjuang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Seorang ayah rela menahan lapar demi membawa makanan dan uang untuk keluarganya. Tidak letih menjaga harga dirinya sebagai lelaki agar bisa membawa keluarganya pada hidup yang lebih baik.
Seorang ibu juga adalah simbol ketulusan dan perjuangan yang tak pernah usai. Ia merelakan tubuhnya dipenuhi rasa lelah saat mengandung. Bertaruh nyawa saat melahirkan hingga menyusui yang tidak mudah. Ibu telah mengorbankan banyak hal dalam hidupnya untuk keluarganya.
Saat kita lahir, Allah mempercayakan kita pada kedua orang tua yang akan mengurus kita, menyayangi dengan sepenuh hati, sehingga kita tidak sendirian di tengah ketidakberdayaan. Orang tua seperti penjaga dan penunjuk jalan yang Allah hadiahkan untuk menemani kita dalam mengarungi dunia hingga kelak kita bisa bekambali ke kampung halaman yakni syurga.
Dalam tatanan sosial, keluarga adalah unit terkecil yang menjadi penopang stabilitas sosial. Bila anak berbakti kepada orang tua, maka tercipta harmoni, saling dukung, dan keberlanjutan nilai.
Sebaliknya, bila anak durhaka, tidak hanya relasi keluarga yang rusak, tetapi juga bisa memicu masalah sosial, seperti konflik antar generasi, penelantaran orang tua, hingga degradasi moral dalam masyarakat.
Dengan demikian, ketika agama menekankan bakti kepada orang tua, itu bukan hanya untuk kepentingan individu, tetapi juga untuk menjaga tatanan sosial agar tetap kokoh.
Selain itu perintah berbakti kepada orang tua yang ditempatkan setelah perintah beribadah kepada Allah bukanlah kebetulan. Ia adalah pesan mendalam bahwa kehidupan manusia berdiri di atas dua pilar: pengakuan pada Sang Pencipta dan penghormatan pada perantara penciptaan, yakni orang tua.
Allah SWT adalah yang Maha Menciptakan. Segala yang ada di langit, bumi serta seluruh isinya adalah kekuasaan-Nya. Termasuk penciptaan manusia yang tidak terlepas dari hasil ‘tangan’ Allah SWT. Dalam proses penciptaan manusia, Allah SWT memilih orang tua sebagai perantara penciptaannya.
Karena manusia lahir ke dunia bukan dalam ruang kosong. Kehadiran seorang anak adalah hasil dari perantara dua insan: ayah dan ibu. Keduanya menjadi instrumen kasih sayang Allah dalam melanjutkan kehidupan manusia di muka bumi.
Maka itulah mengapa berbakti kepada orang tua bisa merupakan salah satu bentuk kita juga taat Dan menghormati Allah SWT sebagai sang pemilik kehidupan.
Penyandingan perintah tidak menyekutukan Allah dengan berbakti kepada kedua orang tua juga bukan tanpa makna. Islam ingin menunjukkan bahwa penghambaan kepada Allah tidak pernah bisa dipisahkan dari penghormatan kepada orang tua. Dengan kata lain, kualitas spiritual seorang hamba tercermin bukan hanya dari kesalehan ibadahnya, tetapi juga dari sikapnya terhadap ayah dan ibunya.
Semoga kita senantiasa bisa menjadi anak yang beriman kepada Allah dan berbakti kepada kedua orang tua kita. Dimana Allah SWT menyimpan keridhoan-Nya pada ridho kedua orang tua kita.
“Dari sahabat Abdullah bin Umar ra, dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Ridha Allah berada pada ridha kedua orang tua. Sedangkan murka-Nya berada pada murka keduanya,’” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).
Kreator : Kakang Agung Gumelar