Seringkali kita merasa masih memiliki banyak waktu yang tersisa untuk mengabdikan diri pada orang tua. Padahal jika dilihat secara seksama, raut wajah ibu dan bapak kita sudah nampak kerutan dan tak lagi muda. Belum lagi beberapa keluhan seperti tangan dan kaki yang mulai gampang pegal dan sakit. Semua keadaan itu membuat kita tersadar bahwa kita sedang berkejaran dengan usia orang tua.
Sedang kita seringkali terpuruk pada kata belum punya apa-apa, belum jadi apa-apa dan apapun alasan yang kadang mengkerdilkan bentuk bakti kepada orang tua. Seolah bakti hanya berkaitan dengan memberi uang, kendaraan mewah, bangunkan rumah megah, jalan-jalan dan belanja serta semua hal yang berkaitan dengan kebutuhan uang. Padahal bakti tidak melulu soal itu.
Jika terus menakar bakti dari memberi materi, maka bisa jadi bakti itu hilang kehabisan waktu. Selalu merasa tak cukup sebab diri belum sampai pada pencapaian yang kita mau. Selalu merasa kurang sebab uang di kantong rasanya tidak cukup untuk diberikan, dan berbagai alasan yang akhirnya menggerogoti semangat berbakti.
Berbakti kepada kedua orang tua memiliki cara dan makna yang begitu luas. Dimulai dari yang paling utama yaitu dengan berupaya menjadi anak yang sholeh. Sebab anak yang sholeh adalah jembatan yang menghubungkan antara orang tua dengan kekekalan pahala.
Kemudian doakan ibu dan bapak dengan doa yang indah dan baik, sebab doa anak shalihlah yang akan membawa aliran pahala bahkan hingga nanti saat keduanya telah tiada.
Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda: ”Apabila ‘anak Adam itu mati, maka terputuslah amalnya, kecuali (amal) dari tiga ini: sedekah yang berlaku terus menerus, pengetahuan yang dimanfaatkan, dan anak sholeh yang mendoakan dia.” (HR Muslim)
Upaya selanjutnya yang bisa kita lakukan sebagai bentuk berbakti adalah dengan bertutur kata yang baik lagi lemah lembut. Seringkali kita menyepelekan adab yang baik kepada kedua orang tua kita, hanya karena mereka telah lama hidup dengan kita, padahal yang harus kita utamakan, yang harus mendapatkan perlakuan terbaik dari kita adalah kedua orang tua kita.
Jangan sampai kita menjadi manusia yang begitu ramah kepada rekan kerja, tetangga hingga sahabat tapi menjadi manusia yang begitu jutek dan kasar kepada kedua orang tua kita.
Jangan sampai senyuman indah kita hanya dirasakan oleh orang luar rumah, sementara dirumah kita menjadi manusia yang begitu murah, wajahnya tidak berseri dan tidak banyak berinteraksi.
Bentuk bakti juga tidak harus selalu dengan memberi hal mewah. Kita bisa memulai dengan membeli makanan ringan dengan harga terjangkau, namun kita hadir disana, menyediakan waktu, menyiapkan ruang untuk berbincang, atau sekedar makan bersama sambil menonton televisi.
Menanyakan keadaannya, menanyakan kebutuhannya, memastikan tidak ada badannya yang sakit, mengingatkan untuk ibadahnya dan segala hal yang bisa dilakukan tanpa harus menargetkan uang atau materi sebagai acuan.
Sebab, bakti itu harus kita perjuangkan dari sekarang, dari saat ini sebelum akhirnya bakti di dunia saat keduanya masih ada itu hilang, sebab tutupnya usia.
Kreator : Kakang Agung Gumelar