Sumber foto : www.islamiclandmarks.com
Perjalanan umrah selalu memiliki magisnya tersendiri bagi setiap orang. Selain rangkaian untuk menghambakan diri kepada ilahi Rabbi, Umrah juga menjadi saat-saat yang begitu menggetarkan hati. Seakan gurat-gurat sejarah tergambar dari setiap perjalanan dan rangkaian ibadah yang dilalui.
Saat pertama kali tiba di Makkah, hati pasti langsung ingat bahwa kita sejatinya sedang menuju kampung halaman Rasulullah SAW. Tempat Rasulullah lahir, dibesarkan hingga berjuang dengan dakwah islam.
Ditempat kita duduk memandang Ka’bah, kita teringat bahwa ada pasukan bergajah yang datang untuk menghancurkannya. Kemudian kekuasaan Allah melintasi langit yang sedang kita tatap itu dengan turunnya burung ababil, sambil membawa batu yang menggagalkan pasukan bergajah hingga kucar kacir. Dan pada hari itu, Rasulullah SAW lahir.
Saat mendaki Jabal Nur, di Gua Hiro tergambar dengan jelas ketenangan yang ia coba dapatan bahkan saat sebelum risalah islam ia emban sebagai amanah. Menyaksikan kota Mekkah yang jauh dari ketauhidan dan bercampur dengan kesyirikan. Hingga akhirnya Jibril datang membawa wahyu pertama dengan kalimat iqra’ sebagai awalan.
Di Tanah Makkah tempat kita berdiri ini, Rasulullah berjuang dengan dakwahnya yang diam-diam hingga terang-terangan. Mendapatkan cacian, mendapatkan penolakan, diboikot hingga hanya makan dedaunan, dan menyaksikan umatnya yang memilih jalan ketauhidan disakiti didepan matanya. Ia berjuang bersama para sahabat untuk menegakkan panji keislaman.
Ditanah Makkah ini, ada kesedihan yang amat dalam hingga Allah menghadiahi isra mi’raj sebagai pelipur hatinya karena ditinggalkan oleh 2 orang yang dicintainya, yaitu istrinya Khadijah dan Pamannya Abu Thalib.
Bahkan saat akhirnya Makkah ditaklukan, saat semua orang merayakan dengan penuh suka cita dan kesyukuran, Rasulullah menyepi, menuju kaki Gunung Hujun tempat Khadijah dikebumikan. Ia ingat orang yang dicintainya, orang yang mempercayainya saat semua orang menolaknya, orang yang mendukungnya dengan jiwa raganya tidak bisa merasakan kemenangan yang telah didapatkan.
Saat menuju Madinah, kita menjadi paham, begitu beratnya perjalanan yang harus dilalui. Jaraknya yang tidak dekat dan harus menempuhnya dengan berjalan kaki, meninggalkan kampung halaman yang dicintai.
Namun di Madinah ini, kita juga bisa tersenyum lega, dengan bagaimana sambutan penduduk Madinah saat pasukan Rasulullah dan kaum Muhajirin tiba.
Tala’al Badru ‘alaina, Min tsaniyatil wada’, Wa jabassyukru ‘alaina,
Mada ‘a lillahida’
Kira-kira itulah sya’ir yang diucapkan [penduduk Madinah, sebagai bentuk kebahagiaan dan kegembiraan datangnya Rasulullah. Tempat yang hangat, tempat yang selalu terasa lapang, tempat islam bisa berdiri menjadi penyempurna risalah ilahi.
Saat memasuki Masjid Nabawi ada kebahagiaan yang tidak bisa dijabarkan. Disinilah Rasulullah shalat dan berkumpul bersama sahabat, membahas segala hal, tertawa dengan candaan sahabat, dan menangis penuh kepasrahan.
Disinilah rumah Rasulullah berdiri, begitu sederhana, bukan rumah berlapis emas dengan perlengkapan mewah dan megah. Hanya sepetak dengan tempat tidur yang keras beralaskan tanah. Dirumah ini Rasulullah menahan lapar tapi tidak pernah membiarkan umatnya kesusahan.
Disini, di Madinahlah tempat Rasulullah dimakamkan, dikelilingi oleh para sahabatnya. Menjadi tempat kerinduan itu membuncah dengan hebat. Merasakan diri begitu jauh dari sunnah-sunnah yang beliau ajarkan, merasakan diri begitu jauh dari apa yang telah diperjuangkan Rasulullah, namun disini juga kita yakin dengan cinta kita kepadaNya, kelak kita akan berjumpa denganNya. Aamin Ya Rabbal Alamiin.
Begitulah setiap tanah yang dilalui selama Umroh selalu membawa kita pada masa perjuangan Rasulullah. Semoga kita merupakan bagian dari umat yang dirindukan itu, umat yang selamat hingga bisa berdekatan dengan Rasulullah SAW.
Kreator : Kakang Agung Gumelar