Saat Melaksanakan Ibadah Umroh, Luruhlah Segala Perhiasan Dunia dan Yang Tersisa Hanyalah Iman dan Taqwa

Umroh dan Haji merupakan ibadah yang selalu diimpikan bagi setiap muslim diseluruh dunia. Banyak sekali kisah-kisah perjuangan bagaimana seseorang berikhtiar untuk bisa mengunjungi tempat yang mulia ini. Tentu bagi yang memiliki kemudahan untuk melaksanakannya tentu ini adalah sebuah anugerah dari Allah SWT yang harus disyukuri. 

Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat strata dan status sosial yang seringkali menjadikan setiap orang dibeda-bedakan posisinya. Namun Ibadah umroh adalah ibadah yang menunjukkan bahwa di hadapan Allah manusia adalah setara, hanya keimanan dan ketaqwaannya yang membedakan satu dan lainnya.

Bahkan saat menuju umroh, mungkin ada jamaah yang berangkat dengan menggunakan pesawat jenis kelas bisnis hingga first class, kemudian menginap dihotel berbintang dengan segala fasilitas lengkapnya, juga pakaian branded yang ditentangnya, namun saat rangkaian ibadah umroh dimulai maka semua akan berganti dan tidak lagi berarti. 

Ketika seseorang menapakkan kakinya di Makkah untuk melaksanakan rangkaian ibadah umroh, dengan mengenakan kain ihram yang begitu  sederhana, dan berbaur bersama jutaan Muslim lain dari berbagai bangsa tanpa ada sekat, maka pada saat itulah ia meninggalkan segala simbol duniawi. Jabatan, harta, status sosial, maupun perhiasan dunia yang selama ini melekat padanya tidak lagi berarti dan tidak lagi melekat padanya.

Bagi Laki-laki semahal apapun pakaian yang dimiliki, maka tetap saja yang digunakan untuk beribadah hanya dua kain ihram. Bahkan semua pakaian berjahit apapun bentuknya tidak bisa dikenakan. Dan ini berlaku bagi seluruh muslim tanpa pandang bulu. Semua orang menggunakan peraturan yang telah Allah tetapkan tanpa bisa berkompromi. Dan yang tersisa hanyalah dirinya sebagai hamba Allah yang lemah, yang datang dengan penuh harap dan kerendahan hati, membawa iman serta taqwa sebagai bekal utama.

Sejatinya ibadah umroh bukan sekedar ibadah yang melibatkan fisik seperti thawaf dengan mengelilingi ka’bah, berlari kecil saat sa’i antara shafa dan marwah, juga tahallul yang menjadi penutup rangkaian. Namun jauh didalamnya ada yang harus diselami bahwa selama perjalanan umroh adalah sarana untuk mendidik hati agar memahami bahwa hidup sejatinya adalah persinggahan sementara. Semua kesibukan dunia, kesombongan harta, dan kebanggaan diri luruh begitu saja ketika seseorang berdiri di hadapan Ka‘bah.

Setiap langkah dalam umroh mengandung simbol dan makna yang dalam. Thawaf mengajarkan bahwa seluruh aktivitas hidup harus berpusat pada Allah. Sa’i mengingatkan perjuangan Hajar yang penuh kesabaran dalam mencari air untuk Ismail, menegaskan pentingnya ikhtiar dan tawakal. Tahallul menandakan kerendahan hati, membersihkan diri dari kesombongan, dan kembali kepada fitrah kesucian. Dengan memahami hakikat ini, umroh bukan hanya perjalanan sesaat, melainkan juga pembelajaran hidup yang harus terus didalami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Saat kita merasa hanya manusia biasa dihadapan Allah, yang justru banyak dengan dosa dan alfa, maka kita adalah orang yang sama setelah umroh dilaksanakan. Sudah sepatutnya di tanah air kita juga menanggalkan pakaian kesombongan dan cinta dunia. Bahkan ibadah umroh yang sudah kita lakukan tidak berhak menjadi ajang untuk dibanggakan, jika yang tersisa bukan kerendahan hati.

Kreator : Kakang Agung Gumelar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *