Bertani dan bercocok tanam kini bukan hanya identik dengan petani saja, melainkan sudah merambah ke sektor rumah tangga. Kesadaran akan makan sehat kini semakin menghinggapi masyarakat. Bahkan banyak masyarakat yang ingin memastikan kualitas apa yang dikonsumsinya dengan menanam sendiri sayuran untuk dikonsumsinya. Terlebih dengan keterbukaan internet yang membuat terbuka juga informasi untuk mulai bertani. Informasi mengenai teknik, bibit, hingga cara perawatan semua tersedia jika kita mau menguliknya.
Diantara banyaknya teknik budidaya tanaman, salah satu teknik budidaya yang bisa digunakan di sektor rumah tangga adalah teknik Vertikultur yang merupakan Pertanian hemat lahan dengan sistem bertingkat. Vertikultur adalah teknik budidaya tanaman dengan memanfaatkan ruang secara vertikal atau bertingkat. Tanaman ditanam pada wadah yang disusun ke atas, seperti pipa paralon, rak, botol bekas, karung bekas, gelas, dinding hijau (green wall) dan berbagai barang-barang bekas lainnya hingga .
Jika kita melihat dari sejarahnya, Dalam website https://pertanian.ngawikab.go.id/ dijelaskan bahwa teknik penanaman secara vertikultur dikenalkan oleh sebuah perusahaan benih di Swiss pada tahun 1944. Dengan membawa misi ketahanan pangan dilevel keluarga, vertikultur sukses merajela di Eropa hingga keseluruh dunia.
Secara umum vertikultur digunakan untuk menanam sayuran seperti bayam, kangkung, seledri,selada, sawi, cabai juga tanaman lain yang dibutuhkan oleh satu keluarga setiap hari. Sesuai dengan tujuan utamanya yaitu ingin memulai ketersediaan pangan dari rumah.
Secara ilmiah, vertikultur tidak hanya efisien dalam pemanfaatan lahan, tetapi juga dapat meningkatkan estetika lingkungan. Banyak rumah modern kini menerapkan urban garden vertikultur untuk menanam berbagai sayuran.
Kelebihan vertikultur adalah mudah diaplikasikan, biaya relatif terjangkau, serta bisa dikombinasikan dengan teknik hidroponik atau aquaponik. Selain sebagai sumber pangan, vertikultur juga berfungsi mempercantik lingkungan rumah dan menciptakan udara yang lebih segar.
Selain itu kelebihan lain yang dimiliki vertikultur adalah kemampuannya untuk mengurangi pencemaran dengan memanfaatkan sampah-sampah untuk dijadikan tempat penyimpanan tanaman. Sehingga mampu meningkatkan nilai tambah barang bekas serta mengurangi pencemaran lingkungan oleh penumpukan sampah-sampah tersebut.
Vertikultur memiliki beberapa jenis dan biasanya memang disesuaikan dengan kebutuhan. Semakin hari semakin banyak kombinasi antara teknik vertikultur dengan teknik-teknik lainnya. Selain itu juga makin banyak yang menggunakan metode serta alat-alat yang cukup menarik sebagai inovasi. Beberapa jenis vertikultur adalah sebagai berikut :
1.Vertikultur Vertikal
Sumber:{Star Farm Internasional
Sesuai dengan penamaannya vertikultur vertikal bentuknya bertingkat secara vertikal atau tegak lurus keatas. Pad dasarnya teknik ini adalah untuk memanfaatkan ruang keatas ehingga cocok digunakan di pekarang rumah, balkon, atau dinding yang kosong.
Dalam pembuatannya tanaman ditopang oleh sesuatu yang kokoh sehingga tanaman bisa berdiri. Biasanya media yang dipakai adalah paralon atau kayu yang berdiri tegak pada lahan yang ditambahkan dengan wadah penopang seperti gelas bekas air mineral.
Kelebihan utama dari sistem ini adalah efisiensi ruang. Dengan area hanya 1 meter persegi, seseorang bisa menanam puluhan tanaman seperti selada, kangkung, bayam, cabai, atau tanaman herbal. Selain itu, penataan vertikal memberikan kesan hijau estetis, sehingga cocok juga digunakan sebagai penghias dinding rumah atau pagar.
Tantangan yang akan dihadapi pada teknik ini adalah bagaimana memanage air dan nutrisi, sebab air akan turun dari atas dan bagian paling bawah mendapatkan air yang lebih banyak. Sehingga diperlukan teknik pengairan yang tepat misalnya dengan sistem hidroponik tetes atau tambahan lapisan penahan air agar nutrisi merata.
2.Vertikultur Horizontal
Vertikultur horizontal adalah vertikultur yang disusun secara bertingkat seperti rak atau tangga namun berprinsip melebar kesamping. Wadah penanaman yang digunakan dapat berupa batang pisang, rak yang dikombinasikan dengan karung bekas, kaleng bekas dan lain lain.
Jenis ini banyak digunakan ketika lahan cukup panjang namun tetap terbatas lebarnya. Misalnya, halaman samping rumah yang memanjang ke belakang atau pekarangan berbentuk lorong. Rak bertingkat dibuat sehingga tanaman tersusun dari bawah ke atas menyerupai tangga, tetapi memanjang secara horizontal.
Karena tanaman disusun seperti undakan, distribusi sinar matahari pada tanaman bisa lebih merata. Jenis tanaman yang cocok ditanam pada sistem ini antara lain sayuran daun (selada, kangkung, sawi), stroberi, serta berbagai tanaman hias bunga.
Selain itu, karena akses lebih mudah, pemeliharaan tanaman pada vertikultur horizontal relatif lebih praktis. Penyiraman bisa dilakukan dengan menyemprot tiap tingkat, dan pengendalian hama juga lebih mudah.
Penerapan vertikultur horizontal lebih sesuai untuk pekarangan yang agak luas atau halaman sekolah, kantor, maupun kebun percobaan yang memiliki panjang yang cukup.
3.Vertikultur Gantung
Seperti penamaannya, vertikultur gantung berarti cara meletakkan tanamannya dengan digantung baik pada dinding, pagar maupun atap.
Wadah penanaman biasanya berupa berupa pot, kaleng bekas, botol plastik, atau kantong tanam (grow bag) yang diberi lubang pada sisi sampingnya. Vertikultur jenis ini sering terlihat di teras-teras rumah, perkantoran hingga restaurant. Karena fungsinya selain untuk menanam juga untuk dekorasi atau estetika.
Keunggulan utama vertikultur gantung adalah fleksibilitas. Ia bisa ditempatkan di mana saja, termasuk ruang sempit seperti balkon apartemen, teras rumah, atau bahkan area dapur dekat jendela. Selain itu, penampilannya cukup artistik, terutama jika digunakan untuk menanam tanaman hias berbunga atau tanaman gantung seperti sirih gading, anggrek, atau petunia.
Dalam konteks pertanian produktif, sistem gantung cocok untuk tanaman berakar dangkal seperti selada, bayam, atau tanaman herbal seperti daun mint, basil, kemangi. Karena wadah biasanya kecil, kebutuhan tanah tidak banyak, sehingga ringan untuk digantung.
Namun, tantangan sistem gantung adalah perawatan air dan nutrisi. Media tanam cenderung cepat kering karena ukurannya kecil dan posisinya menggantung. Oleh sebab itu, penyiraman harus lebih sering dilakukan, atau menggunakan sistem tetes otomatis untuk menjaga kelembapan. Selain itu, wadah gantung yang terlalu berat bisa berisiko jatuh jika tidak dipasang dengan kuat.
4.Vertikultur Susun
Vertikultur susun hampir mirip jenis vertikultur vertikal. Perbedaannya, vertikultur susun umumnya berupa pot-pot yang disusun secara vertikal tanpa penopang layaknya vertikultur vertikal.
Bahan yang digunakan bisa berupa rak kayu, besi, bambu, atau susunan pot yang ditumpuk. Sistem susun sangat cocok untuk memaksimalkan lahan sempit, karena dari satu titik tanah, kita bisa menanam tanaman di beberapa tingkat sekaligus.
Keunggulan vertikultur susun terletak pada efisiensi ruang dan kemudahan perawatan. Karena setiap tingkat menjorok keluar, sinar matahari dapat mengenai tanaman secara relatif merata. Selain itu, penyiraman bisa dilakukan dari atas sehingga air akan merembes ke lapisan bawah.
Jenis tanaman yang cocok antara lain cabai, tomat, stroberi, terong mini, serta berbagai sayuran daun. Untuk tanaman berbuah seperti stroberi, sistem susun juga mempermudah panen karena buah menggantung ke luar dan tidak terinjak tanah.
Tantangan sistem ini biasanya terkait dengan stabilitas rak. Jika susunan tidak kokoh, risiko roboh bisa terjadi terutama bila beban tanaman dan air cukup berat. Oleh karena itu, perancangan konstruksi harus kuat dan seimbang.
Masing-masing jenis dari vertikultur memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang harus disesuaikan dengan kebutuhan kita. Namun, kehadiran teknik vertikultur bisa sangat bantu untuk memanfaatkan luas lahan yang tidak seberapa namun ingin tetap menanam.
Kreator : Kakang Agung Gumelar