Karena jaminan dari berbakti adalah syurga yang menanti maka melakukannya tidak semudah membalikan tangan, berbakti kepada kedua orang tua tentu penuh dengan tantangan. Salah satunya adaah ketika melihat kedua orang tua semakin menua.
Terdapat sebuah anekdot terkenal yang mengatakan bahwa 1 ibu bisa mengurus 10 anak, namun 10 anak belum tentu bisa mengurus seorang ibu. Hal tersebut bukan sekedar kata-kata tanpa dasar, melainkan benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata.
Tentu banyak diberitakan di berbagai platform tentang bagaimana para orang tua yang sudah tua namun hidup sendirian bahkan hingga terlantar. Terlebih dengan orang tua yang sudah semakin menua.
Seiring bertambahnya usia, orang tua mengalami perubahan fisik, mental, dan emosional yang signifikan. Kekuatan tubuh yang dulu tegap mulai melemah, daya ingat perlahan berkurang, dan kesehatan tidak lagi seprima masa muda. Pada fase inilah, kehadiran anak-anak bukan sekadar kebanggaan, tetapi juga menjadi sandaran utama dalam menjalani hari-hari penuh keterbatasan. Namun, justru di titik ini ujian berbakti datang lebih kencang, menuntut kesabaran, ketulusan, dan kasih sayang yang jauh lebih besar.
Pada masa renta ini, merawat kedua orang tua tentu bukan hal yang ringan. Terkadang sikap orang tua berubah menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, bahkan terkadang kembali seperti anak-anak yang membutuhkan perhatian ekstra.
Bagi sebagian anak, hal ini tentu bisa menjadi beban. Terlebih jika memiliki kesibukan pekerjaan atau tanggungjawab lain yang meski dilakukan, Namun justru disanalah nilai birrul walidain kita benar-benar di uji.
Dalam perspektif islam tentu Allah SWT memberikan perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua yang usianya sudah semakin menua. Dalam Al-quran surat Al-Isra ayat 23 Allha SWT berfirman :
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
Wa qadlâ rabbuka allâ ta’budû illâ iyyâhu wa bil-wâlidaini iḫsânâ, immâ yablughanna ‘indakal-kibara aḫaduhumâ au kilâhumâ fa lâ taqul lahumâ uffiw wa lâ tan-har-humâ wa qul lahumâ qaulang karîmâ.
Artinya: Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.
Melalui ayat tersebut, Allah SWT secara tegas mengingatkan agar anak tidak berkata kasar sekalipun hanya mengatakan kata “ah” kepada kedua orang tua. Jika kata sesederhana ah saja tidak boleh diucapkan oleh seorang anak, apalagi mengabaikan kebutuhan mereka.
Tentu perasaan lelah dalam mengurus kedua orang tua seringkali hadir dalam hari-hari yang dilewati. Namun, ada syurga yang menanti bagi mereka yang bertahan dengan penuh keridhoan dan kesabaraan dalam mengurus kedua orang tua.
Jangan sampai kita menjadi orang yang celaka seperti yang disebutkan oleh Rasulullah SWA dalam haditsnya :
Dari sahabat Abu Hurairah RA, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Celakalah seseorang, celakalah, celakalah. Sahabatpun bertanya, siapa ya Rasul? Rasul menjawab: Orang yang mendapati kedua orang tuanya menua baik salah satu maupun keduanya, lalu ia tidak masuk syurga”. (HR. Muslim).
Semoga kita termasuk anak-anak yang Allah mudahkan dan lapangkan hatinya dalam berbakti kepada kedua orang tua. Allah berikan keridhoan-Nya melalui ridho kedua orang tua kita. Sebab ridho Allah terletak pada ridho kedua orang tua kita.
Kreator : Kakang Agung Gumelar