Ini Dia Panduan Praktis Pelaksanaan Umrah yang harus Diketahui Agar Ibadah Semakin Maksimal

Bagi orang yang pernah melaksanakan umrah, tentu saja tata cara bisa jadi sudah familiar bahkan mungkin sudah hafal diluar kepala. Namun banyak para jamaah yang akan melaksanakan umrah untuk pertama kalinya yang belum mengetahui bagaimana tata cara pelaksanaan umrah. 

Mengetahui tata cara pelaksanaan umrah tentu menjadi bekal agar saat pelaksanaannya tidak kebingungan dan bisa mengoptimalkan setiap ibadah yang dilakukan. Meskipun pasti ada pembimbing yang mendampingi dan menjelaskan namun tidak salah jika jamaah mengetahui tata cara pelaksanaan umrah lebih awal. 

Untuk tata cara pelaksanaan umrah, maka perlu diperhatikan hal-hal berikut ini :

1. Disunnahkan mandi sunat ihram sebelum melaksanakan ihram untuk umrah.

Disunnahkan sebelum melaksanakan rangkaian ibadah untuk mandi terlebih dahulu. Mandi sebelum melaksanakan umrah tentu bertujuan untuk membersihkan diri dan mensucikan diri karena kita akan melaksanakan rangakaian ibadah yang juga suci. Selain itu mandi sebelum melaksanakan umrah juga bisa membuat badan lebih segar.

2. Memakai Pakaian Ihram

Saat melaksanakan umrah terdapat beberapa ketentuan khususnya dalam hal berpakaian. Untuk laki-laki tidak boleh menggunakan pakaian yang berjahit. Sebagai penggantinya jamaah laki-laki bisa menggunakan 2 kain yang satu dijadikan sarung dan satu lagi digunakan sebagai selendang. Sedangkan untuk wanita memakai pakaian apa saja yang menutup aurat tanpa ada hiasannya dan tidak memakai cadar atau sarung tangan. 

3. Niat Umrah Dalam Hati

Secara syar’i, arti ihram adalah niat untuk melaksanakan ibadah haji atau umrah yang kemudian diikuti dengan melakukan amalan-amalan haji atau umrah. Ketika sampai di miqot (batas daerah tanah suci) bisa melaksanakan sholat sunah dua raka’at dan mengucapkan kalimat 

“Allahumma Labbaika ‘umrotan atau Labbaika Allahumma bi’umrotin)”.

Kemudian dilanjutkan dengan bertalbiyah, yaitu mengucapkan : 

 “Labb-aikallahumma labbaik labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika laka.”

Artinya: “Aku datang memenuhi panggilannmu Ya aku datang memenuhi Panggilanmu, aku datang memenuhi panggilanmu yang tidak ada sekutu bagimu aku datang memenuhi panggilanmu, sesungguhnya segala puji, ni’mat dan segenap kekuasaan itu adalah milikmu, tidak ada sekutu bagimu” 

Untuk laki-laki bisa mengucapkan dengan lebih keras sednagkan untuk wanita cukup bisa didengar oleh orang disampingnya.  Ketika niat umroh sudah dilakukan, maka maka berlakulah larangan-larangan ihram sampai dengan Tahallul. 

Selama perjalanan jama’ah dianjurkan membaca talbiyah terus menerus dan jamaah berhenti membaca talbiyah pada saat ia melihat ka’bah. 

5. Menuju Hajar Aswad

Perjalanan umrah dimulai dengan menuju hajar aswad sambil menyentuhnya dengan tangan kanan dan menciumnya jika mampu dan mengucapkan ”Bismillahi wallahu akbar.”  Jika tidak bisa menyentuh dan menciumnya, maka cukup memberi isyarat dan berkata Allahu akbar. Dari Hajar Aswad inilah thawaf dimulai.

6. Melaksanakan Thawaf

Setelah dari Hajar Aswad jamaah terus berjalan dengan posisi kabah berada disebelah kiri untuk melaksanakanThawaf sebanyak 7 kali putaran. Untuk 3 putaran pertama bisa  berjajalan cepat dan sisanya jalan biasa. Pada saat thawaf bisa membaca do’a-do’a juga dzikir sesuai sunnah.

7. Shalat di Maqam Ibrahim

Selepas selesai thawaf, laksanakan shallat 2 raka’at di belakang maqam Ibrahim jika bisa atau di tempat lainnya di masjidil haram dengan membaca surah Al-Kafirun pada raka’at pertama dan AlIkhlas pada raka’at kedua. 

8. Melaksanakan Sa’i.

Sa’i dimulai dari bukit shafa menuju bukit marwah dengan diawali bacaan berikut : 

نَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللَّهُ بِهِ

Artinya : Kami memulai dengan apa yang Allah mulai.

Setelah berada di atas bukit Shafa, menghadap kiblat dengan berdzikir dan berdoa apa yang diinginkan, lalu membaca:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. (3x)

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: “Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah segala kerajaan dan segala pujian untuk-Nya. Dia yang menghidupkan dan yang mematikan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ

Artinya: “Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata. Dialah yang telah melaksanakan janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan tentara sekutu dengan sendirian.” (HR. Muslim 1218).

Kemudia berjalan atau berlari kecil melalui rute sa’i sebanyak 7 kali dengan diakhiri dibukit marwah.  Setiap berangkat dari shafa ke marwah dihitung satu kali pun saat kembali dihitung satu kali. Diawali di bukit Shofa dan diakhiri di bukit Marwah. Pada saat ini adalah waktu terbaik untuk berdo’a dan memohon mapun kepada Allah SWT juga menyelami kisah Ismail dan Siti Hajar yang penuh dengan perjuangan.

9. Melaksanakan Tahallul

Setelah melaksanakan semua rangkaian sa’i, jamaah bisa melaksanakan Tahallul atau mencukur seluruh atau sebagian rambut kepala bagi lelaki dan memotongnya sebatas ujung jari bagi wanita.  Ketika mencukur rambut mulailah mencukurnya pada bagian sebelah kanan kepala dan berdoa: “Allâhummaghfir lil muhalliqîna wa lil muqoshirîn “Ya Allah, ampunilah orang yang bercukur dan yang bergunting.” Mengunting atau memotong rambut boleh dilakukan oleh siapa saja, anak kecil ke orang tua atau sebaliknya,istri kepada suaminya atau sebaliknya

10. Tawaf Wada’ 

Bagi yang berumrah selain di bulan haji, ketika akan meninggalkan kota Makkah disunahkan melakukan Thawaf Wada’. Thawaf Wada’ artinya adalah thawaf perpisahan. Dimana thawaf ini dilaksanakan saat kita akna meninggalkan Kota Makkah setelah menunaikan ibadah umroh.

Caranya seperti melakukan Thawaf Sunnah serta pakaian bebas. Sunnahnya diakhiri dengan shalat sunnat thawaf 2 rakaat setelah 7 kali thawaf. Bagi wanita yang berhalangan (haid, nifas dll) tidak disarankan thawaf wada’ dan cukup berdoa di pintu Masjidil Haram. 

Dengan melaksanakan Thawaf Wada’ ini maka selesai sudah amalan yang berkaitan dengan umrah. 

Kreator : Kakang Agung Gumelar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *