Belakangan ramai di media baik konvensional maupun media sosial tentang keluhan syarat menjadi pegawai disebuah perusahaan yang membatasi usia. Banyak orang yang mengeluhkan justru diusia tersebutlah banyak orang yang membutuhkan penghasilan, selain itu orang-orang dengan usia matang bisa memiliki pengalaman yang lebih menguntungkan.
Selain itu terdapat pandangan bahwa dunia bisnis identik dengan orang-orang berpendidikan tinggi, bekerja dibalik meja kantor, menggunakan jas dan dasi dan hanya dinikmati oleh mereka yang memiliki keuntungan. Tentu hal ini menjadikan banyak kalangan terpinggirkan menjauh dari dunia wirausaha. Mereka yang memiliki keterbatasan baik dari segi pendidikan, usia yang lanjut serta kelompok minoritas lain menjadi semakin merasa tidak memiliki kesempatan berkembang.
Maka sociopreneur hadir menjadi bisnis yang justru membuka kesempatan yang sama untuk semua kalangan. Mereka yang sebelumnya dianggap hambatan adalah tantangan yang bisa menjadi kekuatan untuk terlibat dalam dunia bisnis. Usia,pendidikan terakhir, maupun gender tidak lagi menjadi penghalang utama untuk berkontribusi. Justru, pengalaman hidup, empati sosial, serta semangat kolaborasi lebih diutamakan daripada sekadar gelar atau status.
Di dunia bisnis sosial, usia bukan lagi alasan untuk menjadi batasan, baik untuk menjadi pembisnis maupun pegawai. Banyak orang yang berusia lanjut baru memulai menjalani bisnis sosial dengan modal pengalaman kerja, kematangan emosi, serta jejaring yang dimilikinya. Selain itu bisnis sosial juga bisa memberdayakan mereka yang berusia lanjut.
Selain usia lanjut, usia muda juga bisa menjadi pelaku bisnis sosial, terlebih dengan kemajuan teknologi yang apabila di manfaatkan secara positiv akan membawa beragam keuntungan. Selain itu anak-anak muda ini juga bisa diberdayakan. Anak muda putus sekolah misalnya, kita bisa melihat dilingkungan tersebut ada potensi ekonomi apa yang bisa dioptimalkan. Misalnya terdapat banyak petani yang mengelola kopi, maka anak-anak ini bisa diberikan pelatihan keterampilan baik cara pembuatan kopi menjadi minuman yang berdaya jual, atau pelatihan untuk bisa menjadikan kopi produk yang bisa dijual. Dengan demikian anak-anak tersebut bisa secara mandiri memenuhi kebutuhan mereka.
Selain usia, tingkat pendidikan juga bukan lagi hal yang harus dipersoalkan. Pendidikan secara akademis tidak dijadikan satu-satunya tolak ukur untuk menilai kemampuan seseorang. Terlebih dengan terbuka lebarnya akses terhadap informasi. Selama ada kemauan, kesungguhan dan mau terus belajar maka pendidikan bukan menjadi permasalahan.
Begitu juga dengan gender, di dunia bisnis sosial perempuan bisa menunjukan taringnya. Baik sebagai pelaku maupun objek yang harus diberdayakan, perempuan bisa menjadi kaum yang diandalkan. Banyak sekali perempuan yang menjadi pelopor hadirnya berbagai solusi untuk masalah keperempuanan juga yang dampaknya bisa dirasakan oleh banyak orang.
Maka, dunia bisnis sosial menunjukan bahwa semua bisa ikut terlibat dan smeua kalangan bisa diberdayakan. Bisnis sosial mengaburkan syarat-syarat atau pembatasan terhadap beberapa faktro seperti pendidikan, usia maupun gender. Semua manusia dianggap memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Keberhasilan dalam bisnis sosial bukan ditentukan oleh seberapa tinggi gelar seseorang, seberapa muda usia mereka, atau apakah mereka laki-laki atau perempuan. Tapi ditentukan oleh kepekaan terhadap masalah sosial, keberanian untuk bertindak, dan komitmen untuk terus belajar dan tumbuh bersama agar kebermanfaat bisa dirasakan lebih luas dan dalam jangka waktu yang lama.
Kreator : Kakang Agung Gumelar