Suatu hari uang di saku tinggal seribu, sementara kehidupan ibu kota yang keras mengatakan, “lima ribu cukup buat apa ?”
Benar, apa yang bisa dibeli dari uang yang tinggal lima ribu ini, sedangkan perut meminta haknya, menagih jatahnya untuk makan. Langkah ini terhenti disebuat warung tegal. Tanpa beban, kaki melangkah kesana. Duduk dikursi yang tercium wangi masakan diseisi ruangan. Yang saya pesan adalah minum, bukan makanan, sebab mana bisa dengan uang yang ada berani memesan makanan.
Hari itu hati saya begitu tak karuan, tak mungkin menangisi keadaan ditengahnya banyak orang yang berlalu lalang. Tegukan pertama entah mengapa rasanya begitu nikmat, seperti tubuh dan seisinya diguyur air yang menenangkan. Sengaja diminum pelan sambil diam melihat sekitar, dalam hati terus meratap “Ya Allah… Ya Allah…” sebuah kalimat yang tak mampu diselesaikan.
Tapi tetap saja perut ini semakin perih karena lapar. Tiba-tiba saja seorang teman datang, mengajak ngobrol kesana kemari hingga sadar dan tiba-tiba menanyakan apakah saya sudah makan. Ingin sekali mulut berkata sudah, karena malu rasanya berkata belum, takut begitu merepotkan atau dipandang kasihan. Tapi bagaimana lagi perut semakin terasa memeras, hingga yang terucap adalah “belum, belum makan…”
Saya pikir ini hanya cerita yang akan terjadi di novel, di film atau cerita orang. Tapi hari ini saya mengalaminya sendiri, makanan dipesankan dan dibayarkan kawan hingga hari itu perut terpenuhi haknya. Alhamdulillah…
Semenjak hari itu, setiap makanan yang dihidangkan selalu begitu berbeda dimata saya. Bagaimanapun rasa hidangannya, sebisa mungkin tidak mencelanya dan tetap memakannya. Selalu berusaha untuk tidak menyisakan makanan sedikitpun karena tahu betapa perihnya tak bisa mendapatkan makanan.
Itulah mengapa, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa amalan yang menunjukan sempurnanya keislaman seseorang salah satunya adalah yang menyediakan makanan;
“Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Islam bagaimanakah yang baik?” Beliau menjawab, “Kamu memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Banyak sekali orang-orang disekitar kita yang kesusahan untuk sekedar makan. Jauh untuk bisa memilih menu yang mereka inginkan, yang terfikirkan adalah bagaimana hari itu mereka bisa makan.
Banyak para ayah yang bekerja seharian demi mengumpulkan uang untuk dibawa kerumah hingga perutnya diabaikan sebab takut sekali mengurangi uang yang bisa dibawa kerumah. Banyak sekali yang hidup diperantauan dan tidak memiliki cukup uang untuk makan. Bahkan banyak anak-anak yang setiap harinya hanya bisa makan dengan garam atau kerupuk jauh dari menu sehat dan bergizi.
Padahal makan merupakan kebutuhan utama manusia. Makanan akan diserap nutrisinya oleh tubuh dan menjadi tenaga untuk beraktifitas dan beribadah. Tidak salah jika Gerakan Sedekah Makanan bisa menjadi sedikit solusi bagi mereka yang kebingungan.
Sebab mereka yang pernah merasakan lapar namun tidak bisa makan, akan begitu mengerti arti dari setiap porsi makanan yang dihidangkan.
Kreator : Kakang Agung Gumelar