
Rasa rindu pada baitullah dan segala rangkaiannya, membuat informasi mengenai umroh, haji dan kaitannya selalu muncul di sosial media.
Saat itu ada satu konten menarik yang kemudian mendasari ingin menuliskannya disini. Yaitu postingan yang menyebutkan bagaimana lelahnya sa’i saat menjalankan umroh di tanah suci.
Tentu kalimat ini bukan bermaksud mengkerdilkan ibadah lain, namun memang rasanya ada yang berbeda dalam setiap larian sepanjang jalan sa’i yang kini dingin dan tidak terik lagi.
Sa’i merupakan salah satu rangkaian dari ibadah haji yang termasuk rukun haji. Rukun haji artinya harus atau wajib dilaksanaan dalam rangkaian umroh.
Namun, sa’i bukan sekedar ritual ibadah semata, dibaliknya ada napak tilas perjuangan seorang ibu yang saking istimewanya perjalanannya diabadikan hingga sekarang.
Mari kita kembali ke waktu itu. Saat seorang perempuan bernama Hajar dengan keteguhan iman berdiri di padang pasir yang tandus, tanpa ada pemukiman tanpa ada sumber kehidupan yang nampak dihadapan. Sedang dibuaiannya ada seorang bayi kecil yang sudah menangis karena rasa lapar dan haus yang menyerang.
Diawali dari Kecintaan suaminya yakni Nabi Ibrahim Alaihissalam kepada Allah SWT yang membuat ia patuh membawa anak yang lama dinanti beserta istri yang dicintai untuk membawa keduanya kesebuah wilayah tak berpenghuni.
Kecintaan itu bersambut dengan keshalihahan Siti Hajar yang mengntarkannya pada kerelaan saat ditinggal suaminya, Ibrahim. Siti Hajar tidak merengek meminta kepastian, atau sekumpulan pertanyaan seperi mengapa, sampai kapan atau pertanyaan yang mungkin dikatakan oleh para wanita zaman sekarang, “kamu udah ga sayang aku lagi ?”
Kata-kata yang keluar dari mulut Siti Hajar adalah, “apakah ini perintah Allah ?” dan Ketika Ibrahim mengangguk, ia menjawab, “Jika begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Perbekalan telah habis, Ismail kecil menangis kehausan. Lalu Siti Hajar mulai berlari dari bukit Shafa menuju Marwah dan kembali lagi ke Shafa. Bayangkan ditengah terik matahari gurun pasir, ia harus berlarian sebab ia sedang diburu waktu untuk segera kembali melihat kondisi bayinya.
Tapi Siti Hajar tidak menyerah. Meski jalan yang ia tapaki sama, meski ia tahu lembah yang ia tuju tidak ada mata air atau tidak ada satupun orang yang menghuninya, ia tidak berhenti berlari. Menjemput dan berikhtiar mencari pertolongan Allah. Hingga sampai pada putarannya yang ke 7, saat tak ada lagi sandaran, saat ia berada di ujung pengharapan dan perjuangan,, Allah hadirkan mukjizat. Dari hentakan kaki Ismail kecil, memancar air yang kita kenal dengan air Zamzam hingga sekarang.
Barangkali inilah yang membuat sa’i terasa lebih melelahkan. Sebab sa’i diawali dengan pengorbanan, keringat dan air mata seorang ibu . Sa’i juga bisa terasa lebih berat, terlebih bagi yang benar-benar menjalankan sesuai syari’at dan menyelaminya dengan dalam.
Saat sa’i, disunnahkan sambil belari kecil bukan berjalan dengan santai. Lebih hebat lagi sambil kita membayangkan bagaimana jika kita berada diposisi Siti Hajar saat itu. Maka setiap larian kita pasti akan lebih bermakna, bahkan mungkin kita justri akan berlarian secepat kilat karena membayangkan anak kita diujung lembah sendirian.
Sa’i adalah perjalanan dan perjuangan seorang istri dan ibu sholehah yang taat kepada Allah, taat pada suaminya dan juga senantia percaya bahwa Allah tidak akan membiarkan hambaNya kesulitan dalam kesendirian.
Sa’i juga menjadi saksi, bahwa pertolongan Allah akan selalu datang dan kita harus tetap berikhtiar menjemputnya. Meski kadang jalan yang kita tempuh terasa buntu dan membosankan, tapi selama kita terus bergerak, maka Allahlah yang akan membantu kita dengan cara-Nya
Kreator : Kakang Agung Gumelar