
Sociopreneur kini satu hal yang tidak asing ditelinga kita. Setidaknya kita pasti pernah mendengar diberbagai platform media maupun diseminar-seminar yang bertebaran.
Istilah Sociopreneur ini bisa dikatakan lahir sebagai jawaban atas persoalan-persoalan modern yang dialami oleh masyarakat secara global diseluruh dunia.
Mulai dari kesenjangan ekonomi yang kian lebar, persoalan politik yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari, budaya, sosial, kesehatan, pendidikan hingga perubahan lingkungan yang menjadi bagian dari masalah sosial yang harus dipecahkan bersama. Sebab permasalahan ini memiliki dampak yang luas dan mendalam baik kepada individu, keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan.
Apa Itu Sociopreneur ?
Sociopreneur atau kewirausahaan sosial berasal dari 2 kata yaitu social dan entrepreneur. Namun dalam perjalanannya lebih dikenal dengan sociopreneur yang merupakan akronim dari kata Social Entrepreneur. Namun keduanya memiliki makna yang sama.
Menurut J. Gregory Dees (1998) Pengusaha sosial memainkan peran sebagai agen perubahan di sektor sosial dengan: mengadopsi misi untuk menciptakan dan mempertahankan nilai sosial (bukan hanya nilai pribadi); mengenali dan terus-menerus mengejar peluang baru untuk melayani misi tersebut; terlibat dalam proses inovasi, adaptasi, dan pembelajaran yang berkelanjutan; bertindak secara berani tanpa dibatasi oleh sumber daya yang saat ini dimiliki; dan menunjukkan akuntabilitas yang tinggi kepada konstituen yang dilayani dan untuk hasil yang diciptakan
Menurut Lynn & Howard (2004) social entrepreneur adalah seseorang yang mendekati masalah sosial dengan spirit kewirausahaan dan ketajaman bisnis.
Sedangkan Shaker A. Zahra (2008) mengatakan bahwa kewirausahaan sosial meliputi kegiatan dan proses yang dilakukan untuk menemukan dan memanfaatkan peluang dalam rangka meningkatkan kekayaan sosial dengan menciptakan usaha baru atau mengelola organisasi yang ada dengan cara yang inovatif.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Konsep sociopreneurship atau biasa dikenal dengan sociopreneur merupakan sebuah pendekatan inovatif yang menggabungkan misi sosial dengan prinsip kewirausahaan.
Sociopreneur, atau wirausaha sosial, merupakan individu atau kelompok yang mendirikan dan menjalankan usaha dengan tujuan utama menciptakan dampak sosial positif secara berkelanjutan, sembari tetap menjaga keberlanjutan finansial usaha tersebut.
Konsep sociopreneur merepresentasikan pergeseran paradigma dalam dunia kewirausahaan, dari sekadar orientasi profit menuju orientasi triple bottom line—yakni people, planet, dan profit. Berbeda dengan wirausaha konvensional yang berfokus pada keuntungan ekonomi semata, seorang sociopreneur menempatkan nilai sosial sebagai inti dari model bisnisnya. Dengan demikian, sociopreneur tidak hanya menciptakan lapangan kerja atau produk, tetapi juga solusi terhadap masalah sosial yang sistemik.
Lahirnya Sociopreneur
Pada tahun 1972 Josep Banks dalam karya seminarnya bernama The Sosiology of Social Movements memperkenalkan istilah Kewirausahaan sosial atau social entrepreneur untuk menyelesaikan masalah-masalah secara berkelanjutan. ia menggunaka istilah tersebut untuk menggambarkan penggunaa keterampilan manajerial dalam mengatasi masalah sosial serta untuk mengatasi tantangan bisnis.
Secara akademis, konsep social entrepreneurship telah dikembangkan di universitas-universitas (Nicholls, 2006). Salah satunya universitas yang ada di Inggris, seperti Skoll Center for Social Entrepreneurship.
Di Amerika Serikat juga didirikan pusat-pusat kajian social entrepreneurship, contohnya Center for the Advancement of Social entrepreneurship di Duke University.
Karakteristik Utama Sociopreneur
1. Berorientasi pada dampak sosial
Seperti namanya Sociopreneur merupakan upaya pendekatan untuk menyelesaikan permasalahan sosial. Dimana tujuan utamanya bukan skeedar mencari profit tapi bagaimana bisa melakukan aktivitas kewirausahaan yang berdampak pada perubahan sosial.
2. Inovatif dalam menyelesaikan masalah
Penting bagi sociopreneur memiliki kreativitas dan inovasi yang baik. Hal ini karena suatu permasalahan sosial yang kompleks hanya akan diselesaikan dengan cara yang kreatif serta inovatif.
3. Keberlanjutan finansial
Meski sociopreneur berfokus pada sosial, namun dalam pelaksanaannya tetap memperhatikan keberlanjutan finansial. Sebab harus memiliki keseimbangan antara finansial dan social agar tujuan utama dari konseo ini bisa berjalan.
4. Kolaboratif dan berbasis komunitas
Kerjasama dan kolaborasi selalu terikat dengan sociopreneur. Seorang Sociopreneur harus bekerjasama dengan masyarakat dari berbagai kalangan dan komoditas-komoditasnya agar bisa mencapai tujuan.
5. Terbuka terhadap Masukan
Sociopreneur tidak hanya berkaitan dengan bisnis itu sendiri, melainkan aspek utamanya yaitu masyarakat harus dilibatkan. Dalam pelaksanaanya tentu harus mendengarkan persoalan-persoalan riil yang terjadi di masyarakat dan mencari solusi bersama untuk menyelesaikannya. Maka sociopreneur akan terbuka terhadap berbagai masukan.
Tips Menjadi Sosiopreneur
Terdapat beberapa tips yang bisa diterapkan jika mulai tertarik pada dunia kewirausahaan sosial ini. Berikut tipsnya :
1. Temukan Isu Sosial atau Permasalahan yang terjadi di Masyarakat
Langkah awal yang bisa dilakukan adalah dengan menemukan permasalahan apa saja yan terjadi masyarakat. Baik masyarakat secara global di dunia, di negara maupun permasalahan yang dekat dan terjadi dilingkungan sekitar. Pada waktu ini kita juga harus memastikan terdapat dampak yang negatif dari permsalahan tersebut sehingga bisa dicarikan solusinya. Pilih masalah sosial yang benar-benar kamu pahami dan pedulikan, seperti pendidikan, lingkungan, pemberdayaan perempuan, atau pengentasan kemiskinan. Passion yang kuat akan membantumu bertahan dalam menghadapi tantangan.
2. Pahami Komunitas Sasaran
Setelah menemukan masalah, Llakukan riset lapangan dan pendekatan langsung dengan komunitas yang ingin dibantu. Disinilah kita akan lebih jeli melihat masalah, tantangan, keuntungan hingga solusi apa yang bisa ditawarkan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Dengan memahami secara lengkap dan benar kita kelak tidak akan membuat produk solusi hanya berdasarkan pada asumsi semata. .
3. Tentukan Produknya dan Bangun Model Bisnis Berkelanjutan
Yang paling penting dari sociopreneur adalah bagaimana menemukan produk yang bisa menjawab persoalan sekaligus tetap bisa menghasilkan. Pastikan usaha tidak hanya bergantung pada donasi atau bantuan, tapi bisa menghasilkan pendapatan yang mendukung operasional jangka panjang. Gunakan pendekatan hybrid value (nilai sosial dan ekonomi seimbang).
4. Berpikir Inovatif dan Solutif
Cari cara kreatif dan efisien untuk menyelesaikan masalah. Inovasi tidak harus teknologi tinggi; bisa saja berupa cara distribusi yang bervariatif, pendekatan edukasi, atau kemitraan unik yang berdampak. Atau bisa juga yang memang dekat dengan masyarakat itu sendiri.
5. Manfaatkan Teknologi Digital
Era digital memberikan banyak peluang—dari pemasaran melalui media sosial, crowdfunding, hingga platform e-learning. Maka sudah saatnya menggunakan berbagai teknologi untuk memperluas jangkauan dan efisiensi dampak sosial yang diharapkan.
6. Bangun Tim dan Jaringan Kolaboratif
Dalam melaksanakan sebuah usaha, kita tidak bisa jalan sendiri. Tentunya membutuhkan tim yang bisa menjalankan program-program yang telah ditentukan. Maka kita harus membentuk tim yang sevisi, yang memahami latar belakang dan konteks usaha. Hal tersebut penting sebab ada perbedaan yang mencolok antara entrepreneur dengan sociopreneur, yang dimana sosial menjadi isu utama. Selain itu kita juga bisa menjalin kemitraan dengan komunitas, pemerintah, sektor swasta, dan NGO.
7. Ukur dan Komunikasikan Dampak Sosial
Sebagaimana usaha pada umumnya, melakukan evaluasi dan pengukuran terhadap capaian program yang kita tentukan sangatlah penting. Sebab itu akan menjadi tolak ukur apakah ‘usaha’ kita harus dihentikan, harus diperbaiki atau mengganti produk lain. Kita harus menggunakan indikator yang jelas untuk mengukur hasil dari usaha sosial tersebut. Jangan lupa untuk menkomunikasikan dampak dari usaha ini ke publik agar lebih mudah mendapatkan dukungan. Misalnya bisa membuat story telling di sosial media.
8. Terus Belajar dan Adaptif
Sebagai seorang sociopreneur harus terus meningkatkan skill serta pengetahuan baik terhadap isu masalah sosial maupun perkembangan terkini mengenai dunia wirausaha secara umum. Kita bisa mengambi berbagai ilmu dan perkembangan untuk diramu dan dimasukan kedalam usaha sosial kita. Maka penting untuk mengikuti pelatihan, seminar, atau komunitas wirausaha sosial. Dunia terus berubah, dan sociopreneur harus terus belajar, beradaptasi, dan siap berevolusi.
Kreator : Kakang Agung Gumelar